Friday, June 5, 2015

Lupa yang Tak Bisa

Tolong. Beri aku cara, bagaimana agar aku bisa lupa adamu?
Apakah aku harus menghentak kepala ke tembok sampai berdarah?
Atau aku harus mengejarmu lagi dan tak biarkan kamu pergi?

Adalah kamu yang tak henti mengusik setiap jengkal hatiku.
Menyusup ke setiap sendi tubuh.
Merasuk perlahan ke pikiran.



Malam hari, adalah saat yang paling menakutkan. Ketika kamu muncul dan menghantu. Menjadi ramai di antara hening dan suara jangkrik. Masuk di sela-sela jendela bersama dengan cahaya bulan sabit. Menjadi bayangan dalam gelap malam yang kelam.

Ada kamu dalam pejamku.

Aku kamu paksa merasakan adamu yang tiada.

Tapi kamu seharusnya tahu, cintaku tak peduli dengan waktu. Cintaku segan dengan kenangan. Disimpannya kenangan itu rapat-rapat, baik-baik, hangat, di dalam bilik jantung. Terlelap seperti kucing Persia di dalam sofa bantal.

Aku tak bisa tak ingat gelak tawamu sewaktu kita berdua berjalan berkeliling kota semalam suntuk. Memegang es krim rasa vanilla. Menari di antara cahaya bulan yang menyala.

Kamu dan alis tebalmu. Mata bulat. Rambut ikal pendek. Dan sepatu kets warna turquoise. Si perempuan maha indah.

Dan kecupan singkat di setiap akhir pertemuan kita.

“Lupakan aku. Itu semua masa lalu.”

Namun aku tak jua sanggup lupa. Semakin aku coba lupakan, semakin ingatan tentang kamu masuk ke dalam lubuk. Mencambuk. Merasuk. Takluk.

Sayang,
Ini sudah malam.
Dan aku masih saja akan selalu cinta.

Biarkan aku tidur. Sekali saja tanpa perlu ingat kamu.


No comments:

Post a Comment