Thursday, June 11, 2015

Khotbah Marah

Malam ini adalah malam yang tidak biasa di kamar kos saya. Sehabis membeli nasi goreng depan kos, saya kembali dan mendapati halaman depan rumah ibu kos saya penuh dengan bapak-bapak dan ibu-ibu berpakaian putih-putih.
Oh… rupanya sedang ada semacam pengajian di halaman depan rumah ibu kos saya.

Saya masuk ke kamar dan membuka laptop, berniat menonton salah satu episode Friends sebelum pergi tidur.

“TAPI ITU KAN KEPERCAYAAN MEREKA!! KENAPA KITA HARUS DIAM SAJA???”

Suara keras melengking dari sang ustadz pengajian mengagetkan saya.

Ah, sial, feeling saya benar, this is just another “khotbah marah”
Khotbah marah dengan volume keras menggantikan lantunan ayat suci. Marahnya 70%, ngajinya 30%.

Sebelumnya, sebenarnya saya paling malas jika harus berpendapat, apalagi menulis tentang hal-hal yang sangkut pautnya dengan agama. Kenapa? Karena rasanya kayak ngomong sama tembok. Nggak berguna. Dan lagi, menurut saya agama itu personal sekali. Orang nggak perlu tahu alasan saya, dan saya juga nggak perlu tahu alasan mereka.

Tapi kali ini, saya nggak tahan nggak menulis. Satu, saya kesal karena saya dipaksa mendengarkan orang berteriak marah-marah menggunakan microfon. Kedua, orang itu marah-marah dan berteriak menggunakan sesuatu yang selalu saya anggap sebagai penenang batin. Oxymoron.

Kesal sekali.

Sudah sering sekali saya mendengar ustadz yang khotbah dengan menggunakan nada yang tinggi dan keras. Bahasa-bahasa yang kasar. Kata-kata yang merutuk. Seakan-akan dunia dan akherat ini ya milik mereka. Yang lain cuma ngontrak. *dipikir-pikir bener juga sih, saya kan cuma ngekos T_T*

Saya menyebutnya khotbah marah.

Memangnya tidak sadar ya, kalau kita menyampaikan sesuatu dengan marah, yang mendengar akan ketularan marah, dan marah itu jadi epidemi virus yang menyebar kemana-mana?
Pesan yang tersampaikan itu adalah amarah. Sesuatu yang pondasinya bukan ‘hal ini baik’ tetapi ‘hal itu salah dan aib’—bisa paham kah perbedaannya?

Puas, sudah jadi masyarakat yang penuh marah?
Puas, sudah merecokin orang dengan ancaman dan ketakutan?
Sadar nggak kalau itu berarti pelan-pelan kamu sudah meneror orang lain secara halus?



Bisakah kita menyampaikan sesuatu dengan lembut?
Bisakah kita tidak menilai dan menghakimi?
Bisakah kita tidak menjadi polisi moral?

Sampai mati ya ini akan jadi pertanyaan yang nggak akan bisa dijawab.

Dan mungkin saya bisa menulis berhalaman-halaman hanya tentang hal ini, tapi lalu… apa bedanya saya dengan si bapak oknum ustadz yang lagi marah-marah di depan?

Maka yang bisa saya lakukan hanyalah mengambil headset saya, menyumpalkannya ke telinga dan menyetel lagu-lagunya Corinne Bailey Rae saya dengan volume tinggi. Berharap suaranya bisa menutup polusi suara dari si oknum ustadz.

Sampai marah itu tidak lagi terdengar.
Sampai marah itu tidak bisa lagi mengganggu hati saya.
Dan yang saya bisa dengar hanyalah lantunan melodi-melodi indah.

Tenang Sarah… Percayalah dunia akan baik-baik saja.


No comments:

Post a Comment