Tuesday, June 16, 2015

Davino & Natasha


Kenapa orang-orang merasa enggan sendiri?

Lihat saja semua meja-meja yang tersusun rapi di restoran, kafe, atau bar. Semuanya untuk minimal dua orang. Mengapa tidak ada restoran yang menyediakan meja untuk sendirian? Ada yang salah dengan sendiri?

Table for Two. We always ordered a Table for Two. Mana ada orang yang memesan sebuah meja untuk sendiri.

Bisakah kita duduk sendiri?

Aku saat ini sedang duduk sendiri, di sebuah restoran dimsum yang jadi favoritku  sejak dulu, menunggu Davin tiba. Davin menawari untuk menjemputku, namun aku menolaknya dan memilih untuk berangkat sendiri, sekedar hanya untuk memperjelas bahwa makan malam ini bukanlah kencan.

Pun jika mematuhi hukum rimba perkencanan yang berlaku di bumi ini, maka seharusnya aku akan sengaja datang agak terlambat dan membiarkan Davin yang menungguku.

Itu pun tidak kulakukan, aku datang tepat waktu, sedikit lebih awal malahan, lagi-lagi, demi menggarisbawahi bahwa ini bukanlah kencan, just two coworkers, having dinner. That’s it.

Tapi rupanya aku tidak bisa seratus persen profesional pada makan malam kali ini. Aku mengenakan gaun terbaikku, halter neck dress warna salmon bertabur sequins. Tak lupa aku mengusapkan lipstick peach di bibirku, menyelaraskannya dengan gaun.

“Someone looks stunning tonight…” seseorang mendadak berbisik di belakang telingaku.

Aku menoleh. “Davin! Lo ngagetin aja.” aku berdiri lalu melakukan cipika-cipiki singkat pada Davin. Aku bisa melihat Davin lumayan salting, entah karena pipiku yang menempel di pipinya, atau simply karena terpesona dengan penampilanku malam ini.

Tapi malam ini rupanya Davin tidak kalah mempesonanya. Ia mengenakan kemeja biru tua dipadu dengan blazer kasual dan jeans. Santai, tapi tetap elegan. Entahlah, mungkin efek itu muncul karena Davin memang aslinya sudah super ganteng.

“Sori ya gue telat… Macet gila tadi…” ujar Davin sambil duduk di kursinya.

“Lo terlambat 5 menit lagi… Cabut gue. Sebagai perempuan, gue punya batas sih Dav…” aku terkekeh. Davin langsung menunjukkan muka bersalah. “Bercanda… gue juga baru dateng kok…” aku buru-buru menambahkan.

“Syukur deh… Gue akan sangat merasa bersalah membiarkan wanita cantik menunggu…”

Hear… hear… Just another flirting line oleh Tuan Muda Davino Prasetya.

Aku terkekeh lagi. “Gombalan lo... Bener-bener deh.”

Davin hanya tersenyum, memandangku sejenak, lalu kembali memandang buku menunya.

“So… Pacar lo nggak marah nih, Tash?” tanya Davin sembari menunggu pesanan kami datang.

“Hahaha… Ngapain marah? Emang kita ngapain?” aku balik bertanya dengan nada sedikit menggoda. Uh, okay. Aku mulai tergoda untuk mengikuti alur permainan Davin.

“Menurut lo? Kan lo juga yang mengajak gue…” Davin kembali balik bertanya. Okay… Strike one, Dav.



*an excerpt of my writing, currently titled Table for Two*

3 comments:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Yang ini sepertinya seru kalau dibuat panjang. :)
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih! Ini memang hanya potongan dari tulisan panjang yang (maunya) jadi novel :)

      Delete