Friday, October 15, 2010

Beautifully Beautiful


Tulisan kali ini—yang agaknya sangat perempuan-sentris—mungkin sedikit banyak terinspirasi dari salah satu novel favorit saya, Beauty Case karangan Icha Rahmanti, sedangkan pemantiknya adalah obrolan ringan bersama dua teman saya ketika menonton kompetisi kecantikan Putri Indonesia baru-baru ini.

Defining Beauty is not easy. Every woman in this whole world pasti mau terlihat cantik. Walaupun beberapa dengan idealis bilang, luaran nggak penting, yang penting dalemnya. Tapi hati kecil pasti nggak menolak lah, kalau bisa cantik, kenapa harus enggak cantik?

Some of us, women, melakukan banyak hal untuk bisa terlihat cantik, we do facial, smoothing our hair, creambath, bleaching, beli kosmetik, diet, enggak makan malam, minum susu low-fat, dan masih banyak lagi. And it comes to the biggest question ever... BUAT APA SIH?

Mengutip salah satu pernyataan di Beauty Case, secara enggak langsung, dunia ini adalah ajang kontes kecantikan, bagi kita, para perempuan untuk mendapatkan hadiah utama yang selalu kita idam-idamkan: Our Prince Charming.

Weits, sebentar, jangan buru-buru berkomentar. Dan bagi para cowok yang membaca, jangan geer dulu. Biarkan saya menyelesaikan tulisan ini :p

***

Having so many boy friends—artikan secara harafiah, artinya teman cowok, dan bukan pacar (-___-)—membuat saya menjadi perlahan mengerti (atau mau tidak mau jadi mengerti) jalan pikiran mereka. Cowok dengan segala naluri mereka memang diciptakan untuk berburu dan mendapatkan banyak mangsa. Bahkan ayah saya pun mengakui hal ini.

Biarkan saya membeberkan fakta-fakta, diambil dari hasil perbincangan dengan para pria, selama kurang lebih 19 tahun hidup di dunia ini. Ini nyata, jujur, tentu saja, karena mereka semua teman saya dimana konversasi diantara kami jelas jelas tidak disensor. Tokoh X dan Y di dalam semua konversasi ini tidak hanya satu dua orang orang yang sama ya. Beda-beda.

(Sebelumnya, tolong hitung ada berapa emoticon -_____-‘’ dalam semua percakapan ini.)

Saya: Cantik itu menurut kamu gimana?

X: Cantik itu relatif, jelek itu mutlak.

Saya: -_________-‘’



Saya: Kalo misalnya, kamu dihadapkan pada fakta, kamu deket sama dua cewek. Yang satu cantik banget, gila kecengan banyak cowok, tapi kalo diajak ngobrol enggak nyambung. Yang satu lagi, yaaah, nggak secantik yang pertama, tapi enaaak banget klop diajak ngobrol. Kamu pilih yang mana?

X: *sok sokan mikir* yaaa, gimana ya Sar,jujur ya, nggak munafik, aku kok pilih yang pertama, habis, cewek cantik kan rugi kalo dilewatin, habis kita tuh seneng gitu kalo bisa ngebawa cewek cakep. Bangga men!!

Saya: (berasa pengen ngelempar teman saya pake golok) LAAH? Emang betah gitu kamunya ntar?

X: Yaah, urusan itu ya dipikir ntar. Kalo enggak cocok ya, paling akhir-akhirnya putus.. Yang penting dibawa dulu!

Saya: -_______________-‘’



Saya: Kenapa cowok suka ngedeketin banyak cewek?

X : Karena jumlah cowok lebih banyak dari cewek. Jadi kita berhak milih dong. (belagu)

Saya: Pret. Berasa ganteng ya, dirimu.

Y: Iya sih, cowok memang menang milih, tapi cewek menang nolak.

Saya: *Menatap Y dengan berkaca-berkaca*

X: Tapi cowok bisa menolak sebelum si cewek sempat menolak.... *ngacir, pergi*

Saya: -__________-‘’

Y: (ngakak)



Saya: Ada nggak sih cowok yang bisa mencintai wanita secara tulus?

X: Tulus maksudmu?

Saya: Ya tuluus... ah masak nggak nyaho..

X: Jujur ya Sar... kalo tulus, nggak ada...

Saya: -__________-‘’ -> (agak siyok soalnya teman saya yang satu ini punya pacar dan pacarannya udah awet lama banget, unyu pula)


Tanpa bermaksud mendiskreditkan wanita dan menyepelekan perjuangan ibu R.A Kartini, saya belum menyelesaikan tulisan saya loh ya. Terimalah para wanita, ini kenyataan, tapi somehow, dan sering juga sih, cowok memang akan bertekuk lutut di sudut kerling wanita. Mihihihi.


X: Udaaaah, kalian nggak usah jual mahal gitu. Akhir-akhirnya juga kalian yang butuh kita. Toh jumlah kita lebih banyak.

Saya: Sembarangan!

X: Iya kan, cowok itu semakin tua, semakin menarik. Nah cewek? Huahahahaha. Lebih keren didenger perjaka tua kan daripada perawan tua??

Saya: (kepala berasap) Eh nggak bisa begitu...

Perdebatan saya dengan teman saya yang satu ini berlangsung sangat lama, hampir satu jam lebih. Detailnya tidak bisa saya tuliskan semua di sini (wes lali juga sih sakjane) dan giirls, perdebatan ini tentu saja dimenangkan oleh saya! >:) dan kamu harus tahu akhirnya bagaimana:

X: Yoh yoh. Bener kowe sar... eh betewe, aku mau cerita.

Saya: Cerita apa? *ngos-ngosan habis berdebat dengan penuh emosi*

X: Caranya ngelupain cewek gimana ya?

Saya: DEEEEENGGGG!! Katamu kalian tinggal pilih? Yaudah sih, cari cewek lain, susah ameet...

X: Iya... tapi nggak bisa... yang aku pikirin tuh selalu dia....

Saya: Terus guna kamu berdebat sama aku dengan segala kebelaguanmu tadi apaaa? Mbok wes... -__-

X: Heheheheh....

Lengkapnya tidak usah saya tulis disini karena nanti saya malah jadi nulis curhat colongan teman saya hahahaha.



X: Yah tapi emang begitu kenyataannya sar... Cowok cenderung suka saat mengejar, tapi merasa kesulitan saat harus menjalani komitmen...

Saya: Kenapa?

X: Nggak tahu, banyak hal... bisa karena takut terikat, takut ngecewin, masih kepikiran yang lama, males aja juga kalo harus berantem-beranteman enggak jelas, dan banyak hal lain...

Saya: Urik. Curang.

X: Ohya, dan terkadang kita berpikir untuk cari aman aja. Hehe :p Kedengerennya jahat sih. Tapi ya emang gitu faktanya... Aku juga pernah ngalamin kok. à teman saya yang satu ini jujur banget -__________________-‘’

Nah sudah cukup deh. Kalo saya beberkan semua di sini, nggak asik hahaha.


Tapi anyway, kesannya kok kayak laki itu jahat banget dan wanita itu korban banget ya? -_- Ya enggak segitunya juga sih, tanpa bermaksud menggeneralisasikan semua pria dan wanita di dunia ini, saya juga enggak tahu kenapa teman-teman saya ini bisa menelurkan statement seperti itu. Entahlah, tapi mereka semua baik kok. Beberapa punya pacar yang langgeng awet, beberapa nggak punya cewek dengan sejuta alasan, ada yang santai tapi ada juga yang nggerus, hahaha. Sebagian lain ada juga kok yang fokus mengejar dan mencintai satu wanita saja =D Ada yang memadu, tapi... ada juga yang dimadu! -_- Tapi ya itu, ketika mereka ditanya, jawaban jujur mereka adalah itu.

Mungkin itu teori para pria ya, pada akhirnya prakteknya ya terserah mereka. Begitu kesimpulan saya.

(Betewe setelah dipikir-pikir saya jadi wondering, kok saya usil banget ya menanyakan pertanyaan-pertanyaan enggak penting macam ini ke mereka .___. Hehehehee.)

Kembali flashback, masih seputar ajang kontes kecantikan Putri Indonesia. Saya sebenarnya nggak nonton yang live ya, tahu aja dari twitter malemnya, kok isinya pisuhan semua. Sampai besoknya saya menonton siaran ulangnya dengan kedua teman saya.

Daaaan.... subhanallah, oke. Sebenarnya saya enggak ingin membahas juaranya. Tapi seriously, melihat keodongan mbak Nadine, benar-benar membuat saya dan kedua teman saya nafsu pengen ikut Putri Indonesia.

Sampai kami menyadari bahwa....

Kami tidak putih, tinggi, langsing, dan berambut panjang.

-_____- yaudah nggak jadi ndaftar Putri Indonesia deh.

Cantik itu memang relatif (ingat, jelek itu mutlak .__.), tapi seenggaknya, putih, tinggi, langsing, dan berambut panjang adalah imej yang dibuat oleh kita sendiri sebenarnya, atau oleh iklan, dan majalah-majalah fashion.

Kembali lagi, defining beauty isn’t easy. Banyak banget jenisnya:

Ya benar juga sih, cantik adalah Dian Sastro dan Tamara Blesinzky à which is putih, tinggi, langsing, dan berambut panjang.

Cantik adalah yang pintar dan smart.

Cantik adalah yang mungil dan imut.

Cantik itu yang ramah, lucu, dan ceria

Cantik itu yang baik hati

Cantik itu yang tangguh dan perkasa

Cantik adalah yang sholehah, rajin sholat, dan mengaji.

Cantik adalah yang ceria dan penuh tawa.

Cantik adalah yang dewasa dan bisa ngemong anak, ibunya anak-anak.

Cantik adalah cewek gue! -> ini nih yang saya suka! :p

Dan masih banyak lagi definisi cantik yang nggak mungkin saya sebutkan semua disini.


Kembali ke topik awal, dunia ini adalah ajang kontes kecantikan. Logikanya, semakin cantik, maka kamu semakin mudah untuk dicintai.

Beberapa perempuan dilahirkan untuk memenuhi semua kriteria cantik menurut dunia. Semua pria berebut mendapatkan perempuan ini. Secara enggak langsung kita berkompetisi. Mungkin itulah yang membuat saat-saat menonton Putri Indonesia kemarin dan mencaci maki kedongdongan para wanita-wanita yang dari jauh looks like manekin itu menjadi lebih menyenangkan. Puas banget rasanya. Huahaha. Jahat ya? Yeah yeah, kehidupan wanita memang kejam dan penuh intrik... *logat ala Silet*

But by reading Beauty Case, I realize something...

You dont have to be perfectly beautiful, like what you see on TV, or someone fit into this type around your life.

Seperti kata Max kepada Nadja, dalam Beauty Case: “Nggak tahu kenapa, tapi karena cantiknya dia mutlak. Tidak terbantahkan. Ya dia kelihatan cantik terus setiap detik, aku sampai nggak tahu kapan dia bisa terlihat sangat cantik, atau kapan dia terlihat cantik banget.”

Those women look like a throphy. Diperjuangkan mati-matian untuk didapatkan. Dan kamu tahu kan nasib piala itu seperti apa? Dipamer-pamerkan dengan bangga oleh sang Juara, dan ketika sang juara bosan dengan piala itu, si piala akan berakhir di lemari, disandingkan dengan piala-piala lainnya. Jika si juara ingat, mungkin akan dibersihkan, tapi kalau lupa, ya dibiarkan, berdebu dan terlupakan.”

Atau mengingat obrolan dua teman cowok saya:

X (pria) : (Habis jadian sama cewek cantik oke banget gelaloh) Aku tuh cinta dia apa adanya....

Y (pria juga): Yo iyolaaaah, wong bodjo-mu apa-apa ada.... *padune sirik*

X: heheeee... iya sih....

(Nah ini ceweknya harus seneng apa sedih? -_-)

Toh, pada akhirnya, kita para perempuan harus melepas semua kecantikan ini ketika someday kita beranjak semakin dewasa.

Iklan susu bayi, iklan Superpel, iklan Attack, itu ya hanya iklan. Dibuat dengan penggambaran paling indah dan sempurna yang ada.

Ibu melahirkan, di rumah sakit yang wangi dan sepreinya lembut, si anak baru lahir, tertidur pulas, ibunya cantik, rambut tergerai, sang suami yang rupawan menanti di sebelahnya, berpandangan -> JENG JEEENG, MINUMLAH PRENAGEN, SEMPURNA BAGI IBU MENYUSUI!

Logika saya: Ini anak baru lahir, iya sih, tampang si ibu digambarkan capek gitu, tapi capeknya tertutupi oleh kehadiran sang suami ceritanya (unyuuu), tapi hellooo, RAMBUTE APIK BANGET, DIGERAI BOK. -___- (emak saya menanggapi iklan ini dengan miris: dulu waktu mama ngelairin kamu, papa nggak ada di samping mama. Papa kerja di luar kota. Yaudah, nangis nangis dewe, loro loro dewe *muka datar*)

Atau iklan lain,

Si ibu tengah mencuci di halaman belakang rumah, bajunya bagus, tanpa keringat, tersenyum bahagia. Setelah selesai mencuci baju, sang suami memeluk sang istri dari belakang, “Cantiknya istriku...” (unyuu part two -_-). JENG JEEENG! Attack dengan teknologi kekuatan 10 tangan! Membuat mencuci menjadi lebih ringan! Nggak ada lagi capek!

Padahal ya yang namanya mencuci itu Masya Allah, basah, tangan kasar, belum kalo njemur, terus nyetrika, lengkaplah yang namanya bau keringat berlebih. Ketek basah. Rambut dicepol. Wes ra sido ayu tenan. (Ngalamin sendiri T__T) dan HELLO, kayaknya di sejarah kehidupan rumah tangga manapun di dunia ini, pas si istri lagi nyuci baju gak ada ceritanya si suami nungguin dan bilang cantik. Yang ada kalo enggak pergi kerja ya molor karena seharian bekerja.

Tapi tenang, kan ada Rapika... menyetrika jadi mudaaaah. *muka datar*

Dan by the way, iklan itu enggak salah kok. Justru itu adalah iklan yang benar, kalau enggak ada iklan, konsumen pasti bingung mau memilih produk yang mana. Pada akhirnya kan keputusan tetap di tangan konsumen -> habis kuliah Periklanan -___-

Jadi what’s the point?

Ya itulah, kita bisa cantik dengan cara kita sendiri. Kita punya saat-saat cantik kita sendiri. To be honest, saya merasa terlihat paling cantik justru ketika baru bangun tidur :D Nggak tahu ya, menurut saya kulit saya terlihat lebih putih, pori-pori kulit tertutup, dan rambut saya justru keliatan mengembang bagus, hahaha. :P Jadi tiap abis bangun tidur saya pasti bakalan ngaca dulu LOL

Sekali lagi, kita cantik dengan cara kita sendiri. Dan someday, we gotta find our own Price Charming yang bisa melihat kecantikan kita dengan cara yang sama dengan kita, iya kan? Nah, itu namanya jodoh ;)

Kompetisi ini adalah kompetisi yang sangat gila sebenarnya. Dibutuhkan banyak cinta, keyakinan, dan hati lapang dan terbuka. Dan lebih mengerikan lagi karena when we finally win it, nggak ada perusahaan asuransi manapun yang mau menjamin kelanggengannya. Toh, pada akhirnya janji tinggal janji, dan cincin tinggal cincin. Nggak ada label satisfaction guarantee. Am I right?

Tapi ya, mengutip salah satu lagu favorit saya : “Love can be fun, love may be hurts... Love can be everything you want it to. Open your eyes, just see it through. Just give it a try... Love will find you...” Aditya – Love Will Find You.

Dan menanggapi obrolan-obrolan sompret dengan teman-teman pria saya di atas, girls, do you realize? Kita sering banget mengeluh akan cowok-cowok dengan segala kelakuannya itu, tapi di saat yang sama, kita juga melakukan hal yang sama terhadap mereka. Kita mencari yang paling eligible, ganteng, matang, dan treat us well. Iya kan? ;) Nah, di saat yang sama, mereka juga berkompetisi mendapatkan kita. Huehehehe.

Akan ada saatnya kok, kita lelah berpetualang dan pada akhirnya menyerah pada rasa nyaman... Hehe.

Alih-alih menjadi Perfectly Beautiful, tampaknya menjadi Beautifully Beautiful lebih menyenangkan. Luluranlah, smoothing your hair, buying blush on, mascara, lip-balm, wearing nice outfit, nggak ada yang salah dengan semua itu. Semua wanita suka menjadi cantik, semua wanita suka terlihat cantik, semua wanita suka dibilang cantik. Sepanjang semua pas dan tidak berlebihan. Sepanjang kamu percaya dengan your own definition of beauty =)

Yeah, fairy tales do come true, Pangeran Ganteng Kaya Raya dan Putri Cantik Jelita. Tapi hidup enggak secetek itu. Hidup juga nggak melulu hanya untuk mencari pangeran ganteng kaya raya kan? Karena we have another life, too. Hidup yang akan membimbing kita untuk menemukan pangeran versi kita sendiri, tanpa kita perlu capek-capek berkompetisi dengan putri-putri cantik yang lain karena dia akan tetap melihat cantik, walaupun kita sedang tidur mangap sambil ngiler :)

So keep loving, keep trying. Dont be afraid, because this beauty contest won’t kill us ;))

Nah para pria, ada yang mau berkomentar? :p Atau para wanita ingin menambahkan?

Cheers,

15 Oktober 2010

Didedikasikan untuk 7 sahabat single & beautiful saya dan teman-teman cowok yang sudah rela membagikan curhatannya kepada saya untuk ditulis di sini :p