Thursday, May 28, 2015

Diam-Diam Mendengar Cinta yang Diam



Halo kamu yang sedang dalam diam.

Kamu pikir kamu begitu pintar menyembunyikan diammu. Berpikir aku bak seorang yang tak peka dan tak pernah sadar hadirmu?

Kamu, yang sedang dalam diam.

Dalam diampun, aku mampu merasa kamu. Secercah hangat yang kemudian bertamu. Masuk ke dalam hati. Dan menguap, seperti asap kue pandan yang kau hantarkan juga dalam sunyi.

Mengapa tak kau tunjukkan padaku keindahan yang kau punya?
Apakah aku tak boleh tahu? Bolehkah aku bertanya?
Atau kamu yang sebenarnya sudah nyaman dengan kita berdua apa adanya?

Kamu takut jika aku tahu maka aku akan pergi.
Aku takut jika kamu tahu aku tahu maka kamu yang lalu sanksi.

Dan kue pandan beruap hangat tak lagi ada. Kanvas putih tak lagi tertuang tinta. Surat tak lagi dikirimkan setiap hari Selasa.

Kamu adalah indah. Diammu membuatku gundah.
Apakah aku salah?
Tapi toh diamku dan diammu bukan tentang menang atau kalah.

Dalam diam, aku tahu kau dan aku sama-sama menanti. Saling berbicara hanya lewat tatapan. Berusaha menebak-nebak isi hati. Seraya menggengam erat-erat setiap kenangan.

Jadi, sebelum diamku ini pecah, ijinkanlah aku bertanya sekali lagi.
Jika pun aku harus berhenti menunggu diammu, apakah kamu yakin kamu tak akan pergi?

Atau jangan-jangan setelah itu, kita tak akan pernah lagi sama.

Tolong. Beri aku bicara.

Bisikkan padaku sedikit suara.



Sekali lagi, cinta terlalu egois untuk dipendam sendiri.

No comments:

Post a Comment