Friday, June 7, 2013

Tujuh Belas



Hari ini hari ulang tahunku. Aku bangun dari tidur panjangku dan berharap sebuah kejutan pagi hari akan menyambutku.
Tapi nyatanya aku terbangun, dan menyadari rumahku sesepi hutan Amazon. Mama dan Papa entah berada dimana, dan aku hanya mendapati secarik memo mungil tertempel di lemari es.
Adek kumat. Mama Papa di rumah sakit. Bikin sarapan sendiri, pulang sekolah langsung ke RS ya tengok adik.
Aku mendengus pelan. Aku harus memasak sarapan sendiri di ulang tahunku? Yang ke-17?
Great.
Aku menuju dapur enggan. Adikku, Rara, memang punya leukimia yang lumayan kronis. Kadang-kadang dia suka pingsan mendadak dan itu mungkin ya yang membuat perhatian mama dan papaku jadi lebih untuk adikku.
Tapi, tolong deh, ini kan hari ulang tahunku yang ke-17??
Setidaknya sisipkan kalimat, happy birthday gitu kek, di memo.
Aku memasak mi instan asal-asalan. Mengunyah sarapanku dengan sebal dan mencoba melupakan kejadian pagi yang membuatku badmood berat. Aku mengambil ponselku, tapi ternyata itu keputusan yang salah karena moodku malah jadi semakin berantakan.
Hanya ada dua ucapan ulang tahun yang kuterima:
From: gilangku <3 o:p="">
Happy Birthday Mona sayaaaang… wish you all the best. Nanti pulang sekolah ketemuan bisa? We need to talk...
Aku tersenyum dan membalas,
To: gilangku <3 i="">
Makasih sayaaang, tentu bisa doong. I hv a very bad birthday nih...
Lalu aku melihat inbox satunya,
From: Tika [08928653839]
HAPPY BIRTHDAAAAY! MAKAN-MAKAAAN! :D
Aku membalasnya malas-malasan. Tika itu sahabatku, tapi akhir-akhir ini aku sedang sebal dengan dia. Entahlah, dia selaluuu saja mengkritisi hubunganku dengan Gilang. Yang so far, baik-baik saja. Ini sudah menuju bulan keenam, dan kita bahkan belum pernah berantem untuk sesuatu yang berarti.
Apa-apaan sih Tika, aku tahu Gilang ganteng banget, tapi kalo sirik nggak gini caranya dong ya? Iya kan?

***

Ini masih hari ulang tahunku.
Dan aku masih saja mengalami badmood parah. Iya sih, teman-temanku memberiku ucapan ulang tahun, tapi, that’s it? Mana kado dan cake lezat berhiaskan lilin berjumlah tujuh belas?
Beberapa orang bilang, ulang tahun ke-17 adalah ulang tahun paling indah. Kalau di luar negeri, itu waktunya kamu dapat SIM dan mobil yang dibungkus pita di halaman rumahmu. Aku kayaknya emang kebanyakan nonton TV deh, dan bukannya aku berharap dapat mobil yang dibungkus pita, itu sih terlalu ngimpi, tapi seenggaknya kado deh. Isinya apa aja terserah.
Hello? Masak nggak ada yang sadar??
Aku jadi tidak sabar bertemu Gilang. Karena kamu tahu enggak, selain teman-temanku yang sangat teramat sangat tidak peka itu, di tanganku sekarang terdapat selembar kertas ulangan Matematika bertuliskan angka 45 besar berwarna merah di depannya.
Iya! Jadi setelah dimarahi habis-habisan sama Bu Asri gara-gara nilai Matematika yang parah ini, aku juga jadi harus ikut ulangan perbaikan, BESOK. Sempurna! Jadi nanti malam aku harus belajar untuk remedial.
This is really the” best” birthday ever.

***

Aku setengah berlari menemui Gilang di ujung lorong sekolah. Aku kangen sekali dengannya. Dan aku butuh dia, aku mau menumpahkan kekesalanku. Rasanya aku sampai ingin muntah saking kesalnya aku dengan hari ini.
”Gilaaaaaang... Aku bete banget, masak di hari aku ulang ta....”
Tapi Gilang buru-buru menyetop kata-kataku. ”Aku mau ngomong, Mon...”
Firasatku langsung enggak enak. ”Ngomong tentang apa Lang?”
Dia terdiam sejenak. Wajahnya tertekan sekali. ”Ini tentang kita...” Ia bergumam. ”Maafin aku yang enggak bisa jadi pacar yang baik, aku pasti bakalan jadi brengsek banget, setelah hari ini...”
”Maksudmu apa sih Lang?”
”Hubungan kita nggak bisa diteruskan.”
Aku merasa puluhan biji kedondong menyerbu kerongkonganku.
”Maaf banget Mon, ini bukan salahmu, ini salahku, aku yang nggak pernah bisa menyayangimu sepenuh hati. Aku yang merasa berdosa karena harus membohongi kamu selama ini. Aku yang nggak pernah bisa tega melepaskan kamu yang baik banget, yang sangat perhatian dan menyayangiku.Maafin aku Mon...”
Aku terdiam lama sekali menatap manik matanya dalam-dalam. Aku shock. Aku sampai enggak bisa mengeluarkan air mata.
”Mona?”
”Kenapa harus hari ini Lang?” ujarku perlahan. ”Kenapa enggak kemarin? Atau besok? Atau lusa? Atau dari dulu-dulu??”
Ia gantian terdiam, mencoba mencari jawaban. ”Aku pikir hadiah terbaik yang bisa kamu dapatkan hari ini adalah berpisah dengan aku Mon. Aku cowok yang buruk buat kamu. Kamu nggak pantes bersamaku, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku.”
Begitu mendengar kalimat terakhirnya itu, aku langsung tersadar. Aku nggak pantas shock untuk cowok sebrengsek dan segombal dia yang mutusin ceweknya dengan alasan separah itu. Oh please deh, hadiah terbaik? Emang aku segoblok apa?
”Pergi kamu.” ucapku pendek. ”Jangan pernah ganggu hidupku lagi.”
Ia terdiam, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah bungkusan kado berwarna hijau muda. ”Terima ya, ini permintaan maaf.”
Aku menatapnya kosong. ”Makasih.”
Ia berdiri kikuk, lalu akhirnya berlalu dari pandanganku cepat.
Aku menatap kadonya hampa. Jadi, disinilah aku, duduk di koridor sekolah sendirian, di hari ulang tahun ke-17. Betapa kasihannya aku.
Lalu akhirnya aku nggak tahan nggak menangis. Bukan karena aku habis putus dengan Gilang ya, tapi lebih karena akumulasi kekecewaan bertubi-tubi yang kudapatkan hari ini. Aku sedih sekali. Aku sendirian, dan tidak punya siapa-siapa yang mengerti aku.
”Jangan nangis dong, Mon...” sebuah suara mengagetkanku.
”Tika?” Aku bergumam sambil sesenggukan. ”Kok kamu masih disini?”
”Aku nggak mungkin meninggalkan sahabatku sendirian dalam keadaan sedih lah...”
Aku menatap wajah sahabatku ini lekat-lekat, dan akhirnya aku memeluknya. ”Aku habis putus sama Gilaang Tik... Huhuhu, aku benci hari ini...”
Akhirnya aku mengeluarkan semua unek-unekku. Dan ini adalah the best reason kenapa aku sangat suka bersahabat dengan Tika. Setiap aku ngomel-ngomel dia hanya diam dan mendengarkan tanpa berkomentar apapun.
”Sudah ngomel-ngomelnya? Jadi, kamu nggak bisa nyalahin aku ya kalo kamu putus dengan Gilang, aku sudah bilaaang...”
”Iya-iyaaa...  aku yang salaaah.” aku cemberut.
”Kamu nggak sendirian kok, masih ada aku, kita kan teman selamanya. Ya kan?” Iya tersenyum warmly. ”Mau makan es krim di Icy Cafe?”
”Oh My God!” Aku mengetok jidatku. ”Aku lupa! Aku harus ke Rumah Sakit jenguk adekku! Dia pingsan lagi tadi pagi.”
”Dasar Mona bodoh! Kok bisa lupa sih? Ayo berangkat sekarang, aku anterin!”
”Aduh, makasih ya Tik... aku jadi ngrepotin kamu.”
”Udah deh basa-basinya, yuk ah capcuus.”
Aku tersenyum lega. Ini memang hari ulang tahun terburuk seumur hidupku. Tapi aku bersyukur, aku masih punya sahabat paling baik sedunia yang pernah ada.

***

Aku masuk ke kamar tempat adikku terbaring lemah. Wajahnya pucat sekali.
”Kamu kemana aja sih Mona? Jam segini baru pulang?” Papa bertanya kesal.
Aku hampir saja berteriak, Helllooo, this is my birthday Paa. Do you realize it? Tapi begitu aku melihat wajah pucat adikku, aku langsung nggak tega. Melihat anak berumur 7 tahun harus bertahan dengan leukimianya membuatku merasa kerdil.
”Kak Mona...” Rara memanggilku lemah.
”Apa Ra? Gimana badanmu, udah agak mendingan?”
”Selamat Ulang Tahun, Kak... maaf ya, Rara enggak bisa ngasih kado...”
Aku langsung terdiam. Papa langsung menghentikan aktivitas baca korannya. Mama berhenti menyapu, dan Tika yang ada di sampingku menatapku tajam.
Mendadak aku menangis lagi. Aku sungguh merasa bodoh dan egois. Aku kesal dengan apa yang sempat aku rasakan hari ini. Aku kakak yang jahat.
”Nggak papa Ra... nggak papa, yang penting kamu cepet sembuh...”
”Kak Mona kok nangis sih? Rara aja enggak nangis loh, padahal Rara lagi sakit... hihihi.”
Rara tersenyum lucu sekali. Aku tidak tahan lagi, aku langsung keluar kamar, aku nggak tega melihat wajahnya.
Di luar, mama dan papa langsung mendatangiku. ”Mona... maafkan papa dan mama karena lupa ulang tahunmu ya...”
Aku menggeleng. ”Enggak ma, pa. Mona yang minta maaf karena tadi sempat kesal gara-gara mama dan papa lupa ulang tahun Mona. Harusnya Mona ngerti karena Mama dan Papa pasti pusing sekali ngurusin Rara...”
Mama berkaca-kaca, ia mengelus rambutku lembut. ”Kamu nggak keberatan kan kalau doa untuk kamu hari ini mama berikan untuk adik kamu?”
Aku tersenyum. ”Malah seharusnya Mona yang semestinya sadar, ulang tahun enggak selalu berarti Mona harus mendapat kado Ma, akan lebih berarti kalau malah Mona yang memberi hadiah untuk orang lain. Jadi, kali ini, Mona akan memberi hadiah doa terindah untuk Rara Ma...”
Mamaku tersenyum hangat, ”Kamu bertambah dewasa, Mona sayang...”

***

Di luar hujan deras. Aku sendirian di rumah, berhadapan dengan buku matematika untuk remedial besok.
Aku bersyukur karena aku berpisah dengan Gilang—saat ini aku sedang mengenakan kadonya yang ternyata sebuah syal baby pink yang lucu banget—dan karena aku ternyata masih punya sahabat yang mencintaiku.
Tentang usia tujuh belas, aku belajar banyak hari ini.
Bahwa walaupun aku kehilangan segalanya, bukan berarti aku tidak mendapatkan apapun.
Aku, Anamonna Pradityaputri, usiaku 17 tahun.
Dan aku bangga menjadi 17.

Thursday, June 6, 2013

The One Who Stalks #2


Read the previous story here

Aku buru-buru menutup laptopku secepat kilat. Jantungku berdegup kencang sekali sampai rasanya seperti mau lompat ke luar dan jatuh ke lantai. Paduan antara super kaget karena ketauan sedang kepo dan perasaan yang tidak bisa tergambarkan karena melihat wujud Wisnu lagi dalam bentuk nyata membuatku tidak bisa berpikir jernih.
ANJRIT, KENAPA HARUS SEKARANG?? Aku membatin panik.
“Dwina… sedang apa di sini?” Wisnu bertanya padaku sambil tersenyum kasual. Ia juga sendirian datang ke sini. Sepertinya ia baru saja pulang kantor. Padahal ini malam minggu. Ia datang masih dengan kemeja dan dasi.
Kemeja yang dulu aku belikan untuk hari ulang tahunnya.
Ulang tahunnya yang ke-25.
“Eh… hai Wisnu.” Aku menyapa canggung. “Aku.. Ng… ng… lagi nyelesein kerjaan, Wis. Bosen di rumah.” Aku nyengir sambil berharap semoga wajahku sekarang lagi nggak kucel-kucel amat.
“Oh…” gumam Wisnu. “Hmm… Yaudah, aku pesen dulu ya. Met nyelesein kerjaan.” ia berkata sambil menunjuk counter pemesanan di ujung depan.
“Eh… iya.” aku menjawab canggung.
Wisnu tersenyum kikuk lalu beranjak menuju counter pemesanan. Aku menatap punggungnya yang menjauh. Damn.
Dia masih memiliki punggung favoritku. Senyum favoritku. Dan kacamata frame tebal favoritku.
Apakah itu artinya dia juga masih memiliki perasaanku?
Lamat-lamat aku mendengar lagu-nya Andien yang judulnya Moving On sedang diputar. Dan lirik cheesy-tapi-nyentil-nya itu dalam sepersekian detik langsung membuatku serasa ditohok dari depan.

…Mungkin pernah ku menangis
Mungkin diriku pernah tersakiti
(namun diriku kini kembali)
Coba nikmati indahnya dunia
Tiada lagi bayangan dirimu
Yang selalu mencoba menahank
u…

Aku rasanya ingin melabrak operator kafe ini karena menyetel lagu ini di saat-saat seperti ini.
Nikmati indahnya dunia nenek lo, Ndien.
Aku yakin Andien belum pernah merasakan sulitnya moving on.
Dari kejauhan aku melihat Wisnu selesai memesan kopinya. Tak lama, ia berbalik sambil menggenggam segelas kopi. Aku langsung buru-buru sibuk berkonsentrasi dengan laptopku lagi.
Namun ekor mataku bisa melihat bahwa saat ini Wisnu sedang berjalan menuju ke arahku.
Aku bisa merasakan dadaku berdesir perlahan.
“Dwina?”
“Ya?” aku mendongak pura-pura baru menyadari keberadaannya di dekatku.
“Masih lama di sini?”
Aku menatap mata Wisnu. Menatap kacamata frame tebalnya. “Eh… belum tahu…”
Wisnu terlihat grogi. “Eh, kalau begitu, boleh duduk sini nggak?”
Aku bengong, namun aku buru-buru merubah ekspresiku. “Eh… boleh. Boleh dong. Silakan.” Aku tersenyum normatif. Padahal di dalam hatiku rasanya kacau balau kayak ada angin puting beliung di dalamnya.
Wisnu duduk di kursi di depanku. Sementara aku gagu banget harus memulai pembicaraan apa. Aku sibuk mengetik ngaco di laptopku. Padahal pekerjaan yang saat ini aku kerjakan adalah desain poster. Ngetik sebelah mananya coba. Kalau ada orang yang mengecek layar laptopku saat ini, yang terlihat adalah jendela Corel Draw X4 yang amburadul penuh tulisan-tulisan tak jelas.
Kadang-kadang, lucu rasanya ya? Ketika dua orang yang dulunya pernah sangat dekat dan saling menyayangi, mendadak berubah menjadi stranger untuk satu sama lain.
Untuk memulai pembicaraan pun canggung. Seperti waktu awal bertemu. Padahal saat pacaran dulu, tidak ada satu pun detail di hidupku yang tidak kuceritakan padanya. Lagi sedih, cerita, lagi senang, cerita, mau makan, cerita, mau mandi, sampe mau pup aja aku pasti cerita ke dia.
Kadang kalau dipikir, ini benar-benar ironis.
Lalu tiga tahun kemarin kita ngapain aja, Wis? Bagaimana bisa kita berubah jadi seperti ini?
“Dwina…” Wisnu memecah keheningan. Aku mendongak. “Tadi, aku lihat kamu buka profil Facebook aku… hehe. Lagi kepo ya?” Wisnu nyengir.
Sableng gendeng emang Wisnuryawan Patradinata ini! Sekalinya ngomong kenapa harus nanya itu? Apa kabar kek. Lagi sibuk apa kek. Lagi ngerjain apa kek. Yang biasa aja kayak gitu kan bisa… Damn! Aku merasa wajahku memanas dan memerah.
“Eh.. eh..” aku langsung salting dan panik. “Ehh.. emm.. itu…”
Wisnu terbahak. “Hahaha! Kamu nggak usah salting gitu deh.” Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan mengutak atik sesuatu.
“Nih.” Ia menunjukkan layar ponselnya. “Liat history twitterku. Aku juga selalu kepoin kamu.” Ujarnya santai.
Aku bengong.
Wisnu ini, tiba-tiba datang, tiba-tiba mergokin aku lagi kepoin dia, tiba-tiba minta duduk sambil minum kopi di sebelahku, dan tiba-tiba membuka aib busuk kita berdua. Orang gila.
“Menurut kamu, kenapa ya kita masih suka kepo satu sama lain?” ia melipat tangannya di meja, dan mencondongkan badannya mendekat ke arahku. Membuatku bisa membaui parfumnya, dan melihat dengan detail lekuk-lekuk wajahnya.
Ya Tuhan. Kuatkanlah aku Tuhan. Mengapa Kau beri aku cobaan se-temptating ini?


to be continued…

Wednesday, June 5, 2013

The Greek Myth




“Humans were originally created with 4 arms, 4 legs, and a head with 2 faces. Fearing their power, Zeus split them into two separate parts. Condemning them to spend their lives in search of their other halves.” – Greek Mythology

“Tash… lagi sibuk nggak?”
Aku terdiam memandang Davin yang tiba-tiba saja sudah muncul di depan meja kerjaku. Makhluk satu ini datang jam berapa sih? Apa dari tadi dia nungguin aku ya? Geblek. Sempet-sempetnya kegeeran pagi-pagi buta.
“Pertanyaan lo…” aku nyengir, mengerlingkan mataku ke arah dua tumpuk file kerjaan di mejaku. “Ini jam sembilan pagi, Dav. Lo mau ngasih gue kerjaan apa? Ini kerjaan gue kurang banyak apa ya….” Aku terbahak.
“Okay. This is the problem…” Davin menahan kalimatnya, menarik bangku yang ada di meja sebelah dan menggeretnya sampai ke depan mejaku. Ia lalu duduk, melipat tangannya di mejaku, dan menatapku dalam-dalam. Damn, dalam jarak sedekat ini aku bisa membaui parfumnya. Calvin Klein. Bangsat. One of my favourite scent.
“Minggu depan, sepupu jauh gue merit.” Ia perlahan memulai kalimatnya. “Dan gue nggak tahu harus pergi sama siapa.”
Aku bengong beberapa detik, bingung harus merespon gimana, kemudian nyengir, “Hahaha… terus? Hubungannya sama gue?”
“Plis. Dateng sama gue. Plis, Tash.”
“Heeeh? Kenapa guee?” aku melotot. Ini orang entah sableng entah dungu, kenal baru juga dua minggu udah main ajak-ajak aja. “Kayak nggak ada stok temen laen aja lo...” lanjutku.
“Gue nggak tahu harus ngajak siapa lagi, Tash.”
Aku menelan ludah. Antara mau nolak, tapi nggak enak, secara ya, dia bos. Tapi kalo mau nge-iyain, bujubuneeng, minta digosipin sekantor banget kan, nggak ada angin nggak ada ujan, dateng kawinan sama laki yang notabene adalah atasan. Selain itu… Gandhi mau bilang apa? Seumur hidup temen cowok partner dateng ke kawinanku cuma Gandhi.The one and only.
Ah, Gandhi. Ngebayangin mukanya aja mendadak aku malas.
Aku terdiam, bingung mau menjawab apa.
“Gue sebagai atasan. Meminta lo buat nemenin gue ke kawinan. Nggak boleh bilang enggak.”
Hah? Aku mangap mengernyit nggak percaya dengan statementnya.
“Hari Sabtu. Jam tujuh malem ya, Tasha. Kosongkan agenda. Will text you later for the details.” Kemudian ia pergi begitu saja meninggalkanku yang masih bengong.
Davino Prasetya… What are you doing right now???

***

“Liat wedding couple itu seneng ya?” Davin tiba-tiba bicara, seakan berusaha memecah keheningan di antara kami. Aku merasa sangat gagu bercampur kesal karena diculik secara paksa ke pesta kawinan. Walaupun aku harus mengakui… this wedding is… fantastic. Konsepnya setengah indoor dan setengah outdoor. Jadi tamu bebas mau menikmati di luar atau di dalam.
Aku dan Davin saat ini berada di luar. Seakan berusaha memisahkan diri dengan tamu lainnya.
“Tash? Kok diem aja?”
Aku cuma tersenyum formal. Aku kesaaal sekali sama cowok ini. Bos juga bukan, main seenaknya ngajak-ngajak anak orang.
“I’m not a party person.” Ia melanjutkan kalimatnya sambil menenggak cocktail, seakan tidak peduli dengan aksi bisuku. “Aku nggak suka pesta. Ataupun pergi ke kawinan. But, seeing the couple at the altar. It’s relieving.”
“Then be one of those couples.” Aku akhirnya mengeluarkan suara. Pembicaraan tentang pernikahan membuatku gatal ingin bicara.
“Nggak segampang itu jugaa…” Ia terbahak. “Tahu nggak, menurut mitologi Yunani, manusia awalnya dilahirkan dengan empat kaki, empat tangan, dan dua kepala…” Ia merubah ekspresinya jadi serius. “Karena dewa Zeus takut sama kekuatan manusia, ia memisahkan manusia jadi dua bagian. Dan sampai sekarang hal itulah yang bikin manusia selalu menghabiskan hidupnya untuk mencari separuh bagiannya yang lain.”
Aku terpana menatap penjelasan Davin.
“Kok diem? Percaya?”
“Ngg…” aku terdiam sejenak. “Hahaha, yaah, versi baru dari Hawa tulang rusuk Adam ya…” aku lalu nyengir. “But, that’s a great story.”
“Tapi itu bener kan? I’m 29… And I spent those years, looking for my other half… Ini pencarian yang melelahkan lho.” Ia mengernyit. “Ya ampun, menye banget ya gue?” ia kemudian menggaruk kepalanya sambil nyengir.
Aku terdiam. Pencarian… Really?
“Lo beruntung, Tash. You already found you’re half. Percaya sama gue, lo harus bersyukur.”
Aku terdiam. Dav… I didn’t search Gandhi, and he didn’t search me either. We just met. Easily.
Tiba-tiba ucapan Davin seakan menamparku. Aku tidak pernah mencari Gandhi… Kami hanya bertemu begitu saja.
Kalau tidak dicari… Masihkan Gandhi adalah belahan jiwaku?

*an excerpt of my writing, currently titled “Table for Two”

Tuesday, June 4, 2013

Dian Sastro 2

read the previous story here

Tyraz tiba-tiba nangis. Gue nggak nyangka cewek yang tadinya energik banget bisa jadi mellow gini. Ohh… dua manusia yang bernasib sama…
“Vino juga suka banget Dian Sastro, kayak mas ini…” katanya sambil masih nangis. “Vino sering banget bilang, katanya saya mirip Dian sastro, makanya dia suka sama saya.”
Rasanya gue kepengen ketawa keras-keras, tapi gue tahan. Wajah masih kayak bayi gini, mirip Dian Sastro! Percaya aja digombalin sama cowok!
“Tapi setelah saya beli majalah ini, saya tahu dia bo’ong…” Tyraz sesenggukan. “Karena sekarang ini, wajah saya nggak berubah, dan dia tetep mutusin saya.”
Gue melongo. Emang masih anak kecil ni cewek. Nggak bisa berpikir dewasa.
“Mungkin cowok kamu tuh udah bosen sama Dian Sastro.” Gue berkata polos. “Relain aja deh…”
Cewek itu ngeliatin gue, lama banget, bikin gue jadi salting lagi, sebelum akhirnya dia ketawa. “Mas lucu ya!”
Gue jadi ikut ketawa, diperhatiin… cewek ini ternyata imut-imut kayak semut.
“Asal kamu tahu aja, ya. Mas sebenernya juga baru tadi malem putus sama cewek mas. Tapi ya udah deh, lagian cewek kan nggak Cuma satu!” gue berlagak cool. Padahal kemaren gue sampe nggak mau makan saking frustasinya.
Tyraz ketawa kasual, manis banget. “Emm, mas ya udah ya. Saya ada janji sama temen.. Makasih udah mau nemenin saya ngobrol...”
Gue mengangguk. Entah kenapa, hati gue jadi plong gara-gara ngobrol sama cewek satu ini. Uhh, kenapa dia harus ada janji sama temennya sih?
“Majalahnya boleh dipinjem deh. Dibalikinnya ntar nggak papa.” Lanjutnya sambil menulis sesuatu di notes kecil miliknya. “Nih nomer telpon saya. Kalo mau balikin telpon aja.” ia menyodorkan kertas itu.
Aku tersenyum. Lumayan deh, bisa baca majalah tanpa beli, sekalian dapet nomer telepon cewek kece lagi. Hahaha, sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui.
“Oh iya, mas… kalo mas suka sama Dian Sastro, berarti…” ia menggantung kalimatnya. “Berarti mas juga suka sama saya dong…”
Gue langsung membeku. Kaget. Ini cewek...
“Cuma bercanda, hehehe. Daah.” Dan cewek itupun berlalu, cepat. Tanpa berkata apa-apa lagi.
Seumur hidup gue belum pernah nemuin cewek sesableng itu. Dia bener-bener langka, harus dilestarikan!
Gue menggenggam kertas berisi nomer handphonenya erat-erat. Pertanda apa ya?

***

Yah, sebulan kemudian akhirnya gue jadian sama Tyraz, yang ternyata masih kelas 1 SMA, boo! Sayang gue nggak bisa nyeritain panjang-panjang, karena ini kan cerpen, hahaha.
Yang jelas, ngedeketin ini cewek kayak ngedeketin banteng lagi diare. Berisiko diseruduk tiap detik! Pertamanya gue nggak nyangka gue bisa jadian sama anak kecil. Gue kan bentar lagi lulus, tapi yah… Love is blind!
Waktu mau ngembaliin majalahnya aja dia udah lupa sama gue. Ngebetein banget kan? Untung gue cowok penyabar. Dan dengan segenap perasaan gondok, dan rasa cinta tentunya, hehehe, najis banget deh kata-katanya, akhirnya gue berhasil ngedapetin Tyraz.
Semuanya karena Dian sastro!!

Jogja, Agustus 2007

Monday, June 3, 2013

Dian Sastro

Di luar hujan deres. Sama kayak air mata yang jatuh tumplek di pipi gue saat ini. Persetan dengan pepatah boys don’t cry, gue nggak peduli!
Cewek itu emang nggak tahu aturan! Gue tuh sayang sama dia, kenapa dia harus mutusin gue??!
Nama gue Ozha, dan lo pasti bisa ngerti kan, perasaan cowok yang diputusin cewek tanpa alasan? Gondok tahu nggak. Uh, sebenernya gue malu nangis, tapi gue nggak tahan. Gue udah pacaran sama dia 3 tahun, asal lo tahu.
Akhirnya gue tidur, kecapekan nangis. Besok gue mau ke toko buku ah, siapa tahu ada buku yang bisa bikin gue ngelupain patah hati gue ini.

***

Di toko buku, gue tetep belum bisa ketawa. Tadi pagi aja, nyokap sampe ngira gue kemasukan setan, secara gue yang biasanya sarapan 2 piring mendadak nggak nafsu sarapan. Ah. Hidup serasa di neraka. Kepengen mati aja rasanya. Linglung.
Perhatian gue tertuju pada sebuah majalah, EDISI KHUSUS DIAN SASTRO.
Mata gue langsung ijo. Langsung deh gue ambil tuh buku.
Tapi, tiba-tiba…
“Permisi ya Mas, tapi saya duluan yang mau beli majalah ini.” Kata seorang cewek yang tiba-tiba nggak ada angin, nggak ada hujan muncul di depan gue, kayak jin. Masih pake seragam SMA lagi. Majalah yang tadi ada di tangan gue langsung disabet nggak pake ba-bi-bu dulu. Dasar kunyuk! Mana stok majalahnya tinggal satu lagi. Sial! Itu majalah kan special edition Dian Sastro, huaa, sayang kalo nggak dapet! Lagian nih kan majalah cowok, ngapain kunyuk ini beli segala?
“Ngapain liat-liat?! Mas kalo mau beli di agen depan sekolah saya aja. Disana masih banyak. Jangan marah sama saya.” Cewek ini tetep cuek sambil melototin gue.
 ‘Kalo gitu  kenapa lo nggak beli di depan sekolah lo aja?!’. Rasanya gue kepengen teriak. Tapi nggak usahlah, nggak jadi. Nggak berkelas. Lagian gue sebagai anak kuliah yang mau lulus harus ngalah sama anak SMA, cewek lagi.
“IIH! MAS NGGAK RELA YA MAJALAHNYA DIAMBIL!!” Tuh cewek malah teriak, bikin orang-orang jadi pada nengok. “Ya udah, buat mas aja! Saya bisa kok besok pagi beli di depan sekolah! Dasar orang gede! Mentang-mentang saya masih SMA!” lanjutnya enteng sambil ngelempar majalahnya ke gue. Dasar bocah!
Tenang, tenang, tarik nafas dalem-dalem, kalem... anak kecil...jangan emosi…“Eh, adek. Nggak papa kok. Lagian adek duluan tadi yang ambil. Nih.” Gue berakting tersenyum sambil menyerahkan majalah itu ke bocah kunyuk ini.
Gue yakin cewek ini bakal nolak sambil dalam hati bilang ‘Aduh, mas ini ternyata baek.’, tapi kenyataannya…
“Ya udah deh kalo mas nggak mau. Makasih.” Jawabnya cuek, sambil mengambil majalahnya kembali, terus langsung ngacir ke kasir.
GEBLEEEEKKK! Nih cewek langka bener, nggak mesti 10 tahun diproduksi lagi!

***

Dengan mood yang masih berantakan gara-gara bocah nyebelin tadi, gue memutuskan buat ngopi bentar di kafe. Tadinya mau ngilangin patah hati sambil memandang foto-fotonya Dian Sastro, tapi kenyataannya setan kecil yang nyebelin tadi memporak-porandakan semuanya.
Gue menyeruput moccacino dalam-dalam sambil memperhatikan sekeliling. Siapa tahu ada yang cakep, heuheuheu.
Lagi asyik-asyiknya ngeliatin cewek… bagaikan tokek di sarang merak… seorang cewek bikin mata gue keracunan!
Siapa lagi kalo bukan cewek kecil nyebelin itu tadi!! Ngapain dia ada disini??!
Udah terlambat bagi gue buat pura-pura nggak ngeliatin tuh cewek karena akhirnya dia ngeliat gue! Mati!
“Eh si mas! Ketemu lagi!” sapa cewek tuh, kali ini sambil tersenyum.
Gue Cuma tersenyum sopan. Jaim dikit nggak papa donk, walaupun dalam hati gue kepengen nyolok mata dia.
Tapi, tiba-tiba dia naruh minumannya di depan gue!! Kurang ajar nih anak! Ditawarin aja nggak, kok dengan seenak udelnya dia duduk di depan gue! Bener-bener minta dipites!
Belum sempet gue ngomong lagi, dia udah nyerocos. “Saya boleh duduk disini nggak mas? Males ah sendirian. Lagian penuh tempatnya. Mas nggak lagi nunggu siapa-siapa kan?”
Dengan begonya gue ngangguk. Akhhh, nyesel, dasar lemot gue ini!!
“Ya udah mas, nih saya pinjemin majalah. Mas juga kepengen baca kan?” cewek itu menyodorkan majalah yang tadi gue rebutin sama dia. “Oh iya… saya Tyraz…”
Gue ngebales uluran tangan cewek itu, eh Tyraz. “Ozha…”
Tyraz tersenyum, maniiis banget…kayak gula. Sayang hanya sekejap. Eh, gue nih mikir apaan sih?!
Gue pikir Tyraz bakalan nyerocos lagi, tapi ternyata dia diem aja, sambil ngeliatin jendela. Nih cewek punya kepribadian ganda kali ye.
Ya udah, daripada gue basi diem, mending gue baca deh majalah yang ditawarin Tyraz.
Waaaw, gila men! 20 halaman full Dian Sastro! Profil Dian, Mantan pacar Dian, wawancara eksklusif Dian, foto Dian tampak belakang, tampang depan, tampak samping, close up, matanya aja, idungnya aja, eh bercanda deng. Yang terakhir itu lebay aja.
“Mas suka Dian Sastro ya?” tiba-tiba Tyraz nyeletuk, bikin gue hampir loncat dari tempat duduk.
“Eh, eh…. Iya, suka, suka banget.” Jawab gue gugup. Cih, sejak kapan gue salting ngadepin cewek?!
Tyraz menghela nafas panjang. “Kayak Vino…” gumamnya.
Gue nggak ngerti, apa? Vino? “Apa kata kamu?”
“Vino mantan pacar saya…” jawabnya pelan. “Baru putus tadi malem…” suaranya makin pelan.
FOR GOD’S SAKE! Ini takdir, kebetulan, atau apa sih? Mungkin Tuhan sengaja mempertemukan gue sama cewek ini. Rasanya gue kepingin teriak kalo gue juga baru putus tadi malem. Tapi, nggak ah. Jaga imej donk.
“Dia yang mutusin saya mas… Padahal, saya, saya masih sayang banget sama dia…”
OH MAI GAT. OH MAI GAT. OH MAI GAT. Gue yakin ini bukan sekedar kebetulan. Ini pasti kemauan Tuhan.

to be continued...

(Jogja,  Agustus 2007)