Sunday, June 2, 2013

A Trip Towards You #2



read the previous story here

To: Zakky
Zakky. Aku ada di Jakarta. Can we just meet?

Aku menghela nafas dalam. Menekan tombol send dengan tangan sedikit gemetar.
Setiap menit menantikan balasanmu seperti neraka dunia untukku. Aku tidak tahu kamu akan menjawab, bahkan berekspektasipun tak berani.
Tak berapa lama, ponselku kembali berbunyi.

From: Zakky
Hah? Kamu di Jakarta? Ada apa, May?

To: Zakky
Nggak papa, aku mau ngomong sama kamu. Bisakah ketemu?

From: Zakky
Oke. Nanti jam 7, di tempat biasanya ya.

Aku membatin. Tempat biasanya. Tidakkah kamu tahu betapa tempat itu sangat bersejarah buat aku? Buat kita.
Tempat biasanya.
Aku ingin kita bisa bersikap seperti biasanya juga, Zak. Kenapa kamu sudah tidak ingin lagi?

To: Zakky
Oke. Makasih ya masih mau ketemu aku :)

***

“Kamu ngapain, May jauh-jauh ke Jakarta?”
Kamu duduk di depanku. Menyesap kopi susu kental. Menatapku penuh tanya. Seakan kedatanganku kesini benar-benar tanpa alasan.
Seakan kamu bukanlah siapa-siapa lagi yang tidak perlu kutemui lagi.
Bagaimana bisa kamu menatapku dengan pandangan seperti itu, Zakky? You will always be somebody to me.
“Aku masih sayang kamu, Zak.” Ucapku lamat-lamat. Jantungku mencelos.
Kamu membuang nafasmu.
“May… Aku sudah bilang. Berhenti sayang sama aku. Ini semua nggak adil buat kamu.”
“Kenapa, Zak?”
“Aku tidak bisa menjelaskan, May.” Zakky memainkan sendok di cangkir kopinya. “Kamu bilang mencintai tidak membutuhkan alasan, lalu mengapa tidak mencintai harus membutuhkan alasan?”
Aku bisa merasakan pipiku basah. Sebelum akhirnya basah sekali.
“Kamu nangis. I’m gonna leave you here.”
Aku mendongak menatap Zakky yang sudah berdiri hendak meninggalkanku. “Jangan pergi, Zak…” ucapku terbata. “Tidakkah kamu ingin memperjuangkan ini, sekali lagi, buat aku, buat kamu, buat kita?”
“Kalau kamu mau yang terbaik buat aku, kamu harus merelakan aku pergi, May.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis dan tersedu. Menatap punggung Zakky yang perlahan menjauh.
Aku masih berharap kamu akan menoleh ke belakang.
Namun ternyata kamu tidak melakukannya.
Jadi, di sinilah aku, terduduk bodoh di sudut sebuah kafe mungil di Jakarta Selatan. Terisak perlahan.
Entah antara kalut berat atau sedikit pusing, aku teringat dengan selembar kartu nama yang diberikan stranger asing di pesawat kemarin.
Aku mengambil kartu nama tersebut dari dompetku, membaca sekilas nomer telepon yang tertera di sana, mengambil ponselku dan menekan nomornya.
Nada sambung terdengar, namun nampaknya shock berat karena ditinggalkan begitu saja oleh Zakky membuatku sampai tidak kepikiran untuk berpikir bahwa ini sebenarnya cukup memalukan.
“Halo?” suara di ujung sana menyapa.
“Halo? Eh… ini dengan Davin?”
“Ya? Ini siapa?”
“Ini Maya.”
Terdengar jeda yang cukup lama. “Ya?”
“Bisa jemput aku di Liberica Coffee Kemang nggak?”
 “Hah?”
“Aku sendirian. Nggak bisa pulang.”
“Hah?”
Yang aku tahu, setelah itu aku langsung menutup teleponku. Dan dalam sepersekian detik aku menyadari bahwa yang barusan aku lakukan itu benar-benar nggak tahu malu!
Beberapa menit aku berusaha berpikir keras bagaimana aku harus menjelaskan kejadian barusan ke si stranger bernama Davin itu.
Aku sudah hendak mengirim SMS permintaan maaf ketika aku sadar bahwa nggak mungkin banget Davin akan datang ke kafe ini, menjemput perempuan asing yang dengan seenak dengkul dan jidatnya sendiri minta main jemput seenaknya.
Sudahlah, paling-paling dia jadi ilfil sama aku. Ngapain juga aku mempermalukan diri dua kali dengan minta maaf ke dia. Sudahlah, stranger ini.
Aku memanggil waiter dan memesan segelas wine. Damn you, Liberica Coffee karena menyediakan alkohol di kafe ini.
Sudah, sudah cukup kebodohan yang kamu lakukan hari ini May. Sudah cukup. Lupakan.
Tak berapa lama, pelayan datang membawa pesanan wine-ku. Aku terpekur memandang kosong ke arah gelasku. Memandang kenanganku dengan Zakky.
Selama ini, kamu adalah rumahku. Lalu kalau kamu memutuskan pergi, kemana lagi aku harus pulang?


to be continued...

Saturday, June 1, 2013

Perempuan-Perempuan Sebelum Kamu #2


read the previous story here

Jakarta
Natasha. Ahh… aku tidak akan lupa dengan gadis yang satu ini. She’s amazing. Pintar, modern, dan dinamis. Natasha yang tidak kenal lelah, Natasha yang selalu bersemangat dengan kehidupannya.
Natasha pintar. Sangat pintar. Seperti Jakarta dengan segala kesibukannya. Dengan gedung-gedung tingginya yang menjulang. Lampu-lampu yang menyala gemerlap saat malam. Bersama Nastasha, aku seakan terhipnotis pesona semangatnya. Dia membuatku mabuk kepayang.
Kamu tahu apa saja yang Jakarta punya? Banyak kan, Lit. Dan segalanya selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Ada pantai yang indah di tengah kota, ada gedung-gedung bertingkat, ada beragam museum, taman bermain, dan puluhan mal megah.
Di saat yang sama, Natasha juga sangat mandiri dan keras. Ia selalu bisa diandalkan untuk segala urusan. Tidak peduli bagaimana orang-orang berusaha menjatuhkan dia, Natasha akan selalu bertahan.
Aku selalu sulit memahami Natasha. Maksudku, bagaimana bisa kamu tetap mau menjaga keaslian dan cita rasa dirimu padahal di saat yang sama kamu harus bersinergi dengan zaman? Dia kerap mengatakan padaku bahwa hidup itu memang keras, jangan jadi orang yang lembek, atau dunia akan memakan kamu hidup-hidup. I hate her, but sometimes it makes me stronger. So this is me, having a love-hate relationship with Natasha. Like what we do to Jakarta.
Tidak romantis, bersama Natasha memang tidak romantis, tetapi aku belajar sangat banyak dari beragam hal dan sifat yang ada pada dirinya. Satu sisi, ia begitu kompleks dan tangguh. Seperti Jakarta yang padat, sibuk, dan tidak pernah tidur. Di sisi lain, ia bisa terlihat sangat genuine. Seperti Jakarta dengan Pelabuhan Sunda Kelapa-nya, Kawasan Kota Tua, puluhan museum yang  seakan mencoba mengingatkan setiap orang yang berada di dekatnya untuk tidak meremehkannya.
Jadi, melihat Natasha, seperti melihat Jakarta. Ketika kamu bisa melihat budaya dan modernitas benar-benar membaur dan berada di satu perspektif yang sama. Menoleh ke kiri kamu akan bertemu Kota Tua, menoleh ke kanan kamu melihat mal dan apartemen yang menjulang tinggi. Dan semuanya berjalan bersamaan dan beriringan, hidup dalam sebuah ekosistem yang sama.
Mengenal Natasha membuatku sadar, mensinergikan kedua hal yang hampir bertolak belakang itu bukanlah hal yang mudah. Sulit bahkan, sangat sulit.
“Aku telah melewati begitu banyak hal, jauh lebih banyak daripada mereka, Dav. ”
Begitu yang ia katakan padaku ketika aku menanyakan pada Natasha, mengapa pribadinya bisa begitu kompleks.
Jadi, itulah Natasha. Pintar, modern, kompleks, penuh tantangan. Dia mengajarkanku untuk hidup dengan memberikan apa yang terbaik yang bisa dilakukan. Bahwa hidup tidak selamanya indah. She’s a very tough woman. That’s why I love her that much.

Bukittinggi
Namanya Rinai. Setelah aku bersama keempat perempuan itu, aku bertemu Rinai. Wanita yang sangat… tenang. Tutur katanya lemah lembut, bersama dengannya menyejukkanku. Seperti Bukittinggi, ia mengajakku untuk menikmati kehidupan yang sudah didesain Tuhan dengan indah.
Rinai, seperti namanya menyimpan begitu banyak keindahan dalam apa adanya ia. Bersama Rinai kamu seakan enggan melewatkan sedetikpun hidupmu tanpanya. Aku ikut terbawa nyaman melihatnya hidup. Seperti bagaimana aku tidak ingin tertidur di setiap perjalanan yang aku lakukan di Bukittinggi karena setiap sudut dan pemandangan yang aku lihat disana tidak akan membuatku merasa bosan.
Mengingatkanku akan Ngarai Sianok dimana sejauh mata memandang maka yang terlihat hanyalah tebing-tebing yang tinggi nan hijau dan udara yang sejuk.  Dengan jurang batu besar diselimuti pepohonan yang tumbuh di atasnya yang secara dramatis menjadikan ngarai ini pemandangan yang sangat memikat hati.
Tidak lebih tidak kurang. Membuat kamu seakan dipaksa berhenti sibuk dengan duniamu sendiri, terpana dengan alam liar semesta yang membuat kita malu karena ternyata kita ini tidak ada apa-apanya dibanding sang Pencipta.
“Nikmati hidup kamu, Dav. Tuhan sudah menciptakan banyak sekali hal yang indah di dunia ini. Tidak perlu bersusah-susah. Kamu hanya perlu sejenak melepas jiwamu dari dirimu sendiri. Dan kamu akan melihat banyak. Jauh lebih banyak.”
Bersama Rinai-lah aku memahami sisi keindahan yang lain. Keindahan yang alami dan menyimpan banyak cerita di dalamnya. Di dalam kesejukan dan ketenangannya, ia telah menjadi saksi akan banyak hal. Seperti layaknya Bukittinggi dengan Jam Gadangnya, atau Lubang Jepang yang merupakan saksi bisu saat tentara Jepang bersembunyi dari Sekutu dahulu kala.
Bukittinggi, seperti halnya Alitya, menyimpan banyak kisah, dan ketenangan serta kesejukannya. Membuatku tersadar, no matter what you’ve been through,it doesn’t make you as the strongest person on earth. Jangan sombong, tetaplah merunduk. Karena hal itulah yang akan membuatmu dicintai dengan kekal.

Alitya
Aku terdiam, menatap manik mata Davin yang mengenggam tanganku erat saat ini.
“Dav…” aku akhirnya mengeluarkan uneg-uneg yang sudah kutahan dari dulu. “So, why do you love me?” aku berkata, mencoba menahan kegelisahanku sendiri. “Aku nggak cantik seperti Raja Ampat, nggak menyenangkan kayak Bali, nggak rendah hati seperti Jogja, pintar seperti Jakarta, dan menenangkan seperti Bukittinggi…”
Davin terdiam memandangku.
“Kamu bahkan nggak punya tempat favorit ketika bersamaku. Nggak seperti ketika bersama gadis-gadis itu…”
Aku tahu sangat bodoh untuk merasa insecure saat ini. Padahal yang memaksa Davin untuk menceritakan semua hal ini toh juga aku.
“Kamu adalah mereka semua, Lit.” Davin berucap pendek. “Kamu cantik, menyenangkan, rendah hati, pintar, dan menenangkan. You’re my perfect complete package everyone wants to have.” Lanjutnya. “And I’m so lucky to having you now.”
Aku mencubit perutnya gemas. “Gombal!”
Davin terbahak. Tawa yang sangat kusukai.
“So, will you marry me, Alitya?”
Alitya tersenyum padaku. Cantik. Sangat cantik. “Yes, Davin. Off course, yes!” Ia kemudian memelukku. Erat.


Davin
Kalian percaya kelima perempuan yang kuceritakan tadi?
Hehe, itu sih terserah kalian. Tapi, sejujurnya, cuma Alitya satu-satunya perempuan yang pernah aku cintai. Aku harus menceritakan kisah ini karena sekali lagi, cuma ini satu-satunya cara yang bisa menjelaskan bagaimana aku mencintainya saat ini.
Dari dulu, aku tidak pernah paham cinta. Girls come and go, tapi tetap saja aku merasa kosong. Bukankah cinta seharusnya membuat hidupmu jadi lebih bermakna?
Aku lalu memutuskan pergi jalan-jalan. Menjelajah. Dengan kedok travelling. Padahal sebenarnya aku sedang kalut dan sedang berusaha mencari makna cinta. Cinta yang kata orang membuatmu menjadi manusia seutuhnya.
Di kelima tempat inilah aku menemukan cinta. Di kelima tempat inilah aku merasa hidupku bermakna. Di kelima tempat inilah aku akhirnya bisa mengerti esensi cinta yang sesungguhnya. Mengerti bahwasanya bahagia itu multi dimensi. Dan aku bersyukur bisa memandang hal itu dari berbagai perspektif.
Oh, jadi, inilah rasanya jatuh cinta.
Sejak saat itu, aku tahu aku harus menemukan perempuan yang bisa membuatku merasa seperti berada di tempat-tempat ini. Dan hadirlah Alitya di hidupku.
Alitya, adalah cinta. Alitya adalah kesempurnaan. Kesempurnaan yang sederhana. Alitya membuat aku percaya bahwa cinta ternyata hanyalah sejauh tempat kita berdiri.
So… have you ever been in love?
Kalau belum, look around. Don’t just sit down home. Berkelilinglah, temukanlah cinta versimu sendiri. Seperti yang aku rasakan saat ini, kamu akan tahu, bahwa cinta terletak sangat dekat, di negerimu sendiri, di hatimu sendiri.
Alitya adalah rumah.
Jadi, Alitya membuatmu merasa seperti dimana, Dav?
Indonesia.
Sesederhana itu.


Friday, May 31, 2013

The One Who Stalks



Semesta ini memang kadang suka aneh dalam memberi kejutan kepada kita. Jadi, berhati-hatilah.

Iya, aku baru putus. Puas?
Dan seperti layaknya perempuan-perempuan patah hati lainnya, aku mengalami fase over-protektif terhadap hatiku sendiri.
Iya, itu lho. Fase dimana kamu jadi tidak mau mengambil resiko terluka lagi. Karena kamu habis merasakan rasa sakit luar biasa. Dan tidak mau itu terjadi lagi.
Jadi, kamu melindungi hatimu sendiri dari perasaan cinta. Berusaha menjauhkan diri dari  yang namanya cinta karena kamu tahu, ketika kamu sudah jatuh, kamu akan sakit lagi.
Mungkin kenapa itu namanya jatuh cinta. Karena jatuh itu nggak enak, sakit.
Itu yang kualami sekarang. Dicomblangin nggak mau, kalo ada laki-laki yang mendekati, aku langsung pasang kuda-kuda. Ya lari lah cowoknya, aku galak begini,
Jadi, aku terduduk diam di kafe ini. Sendiri. Menyelesaikan deadline kerjaan yang menumpuk. Ohiya, satu lagi fase yang menyebalkan dari patah hati ini adalah, kamu mengalami obsesi yang berlebihan pada pekerjaanmu. Kamu menjadi gila kerja, gila dengan laptop, meeting, dan deadline.
Tapi apa boleh buat, cuma ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan agar aku tak lagi tenggelam dalam jurang cinta yang gelap itu. No! Aku tidak akan membiarkannya mengalahkanku lagi! I have to keep myself busy!
Sayangnya, pekerjaan yang menumpuk ini tidak cukup mampu untuk membuatku bertahan tidak membuka Facebookku. Damn you, Mark Zuckenberg. Kamu ini adalah musuh nomer satu perempuan-perempuan patah hati. Coba hitung ya, berapa cewek yang gagal move on gara-gara kamu? Bangkai.
Lucu ya? Bisa melindungi diri sendiri dari cowok-cowok yang mendekati, tapi nggak bisa melindungi diri dari godaan untuk kepo mantan pacar. Aku memang payah.
Jadi disinilah aku, diantara tab microsoft excel, microsoft word, dan inbox email, terselip satu tab Facebook. Bangkai lagi.
Begini, kamu pasti pernah kan mengalami yang namanya menjadi stalker? Dan jaman sekarang, being a stalker bisa menjadi sangat mudah. Lupakan yang namanya memakai rambut palsu, kacamata hitam besar, atau mengendap-endap dibalik tembok. Sekarang menjadi stalker sangatlah praktis, kamu tinggal duduk di balik laptop, mengaktifkan koneksi internet, dan... Facebook akan menjadi agen stalkermu yang paling profesional.
Itulah yang sedang kulakukan saat ini. Ketika kamu berumur 25 tahun, teman-temanmu sibuk sendiri dengan kekasih masing-masing, maka tidak ada yang lebih baik daripada duduk manis di depan laptop, kaos buluk, sendirian di kafe, menyeruput yoghurt blueberry,
Toh, hal ini sangat jauh lebih baik daripada duduk di ruang tengah, menonton televisi bersama mama dan mendapat sindiran berbau malem-minggu-kok-di-rumah-aja.
Dan sekarang, di depan jejaring sosial facebook, aku tengah memantengi profil Wisnuryawan Patradinata lekat-lekat, sambil berdoa semoga statusnya masih single.
Wisnuryawan Patradinata is now Single.
Sebuah kalimat yang seperti oase di padang pasir. Dulu kalimat itu seperti aji-aji kematian bagiku, bagi Wisnu sendiri. Namun sekarang, aku bahkan tidak tahu akan seperti apa perasaanku kalau kalimat itu berganti, Wisnuryawan Patradinata is now In a Relationship, Wisnuryawan Patradinata is now Engaged. Aku sampai tidak berani membayangkan.
Dan hidup Wisnu tampaknya memang baik-baik saja. Ia sedang sangat menikmati karirnya. Yah, pria, mereka memang sangat mudah mendapatkan distraksi. Fokus saja pada karir, maka urusan cinta bisa jadi prioritas ke seribu. Facebooknya bersih dari bau-bau romantisme. Entahlah, mungkin memang begitu kenyataannya, atau Wisnu memang sengaja menyembunyikannya? Aku tidak peduli, aku lebih baik tidak tahu.
“Kamu nggak akan move on kalau terus-terusan bersikap kayak gini Na. Udah deh, block aja facebooknya, you do such an useless thing dengan terus-terusan menatap profilnya! You got nothing!”
Ocehan Biyan membuyarkan lamunanku. Sahabatku itu sudah pasti akan mengatakan hal itu jika aku kepergok sedang dengan sangat kurang kerjaannya mengamati profil facebook Wisnu.
Bukannya kurang kerjaan, Biy... kerjaanku banyak. Dan aku pusing. Seeing him, even if it just his facebook profile bisa jadi mood booster...
Mood booster karena dia masih single! Coba kalo dia udah in a relationship? Mampus kamu, kantor kita  Cuma tiga lantai, nggak cukup buat bikin kamu mati hancur lebur. Paling pol juga kamu Cuma cacat tubuh permanen. Dan otakmu masih akan tetap mengingat Wisnu. Nah, derita banget kan ntar jadinya hidupmu??
Frontal. Dalem. Nusuk. Tapi semua kata-kata miss silet ala Biyan itu memang benar adanya. Tapi aku bisa berbuat apa lagi? Otakku bukan komputer yang memorinya bisa direstart ulang. Kenangan yang tersimpan di otak nggak akan pernah bisa hilang, bagaimanapun kamu mencoba. Ditambah, kenangan ini bukan kenangan main-main, kenangan ini berkonspirasi dengan perasaanku, sehingga membuatku pusing sendiri.
Tahu tidak apa yang membuat semua ini semakin pelik? Karena aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku tidak maju, juga tidak mundur. Karena maju pun tak akan berguna, dan mundur pun hanya membuat hidupku semakin kacau. Sebenarnya aku sangat mau maju, namun menurutku, apalah guna memperjuangkan sesuatu sendirian? Iya, aku sangat tahu cinta itu harus diperjuangkan, namun diperjuangkan oleh kedua belah pihak, dan bukannya sendirian.
“Dwina?”
Sebuah suara mengagetkanku dari lamunanku.
Wisnu. Berdiri dengan tampan dan humblenya di depanku.
Dan di depan layar laptopku dengan jendela profil Facebooknya terpampang jelas.
Rasanya aku pengen mengubur diriku hidup-hidup.

To be continued…



Thursday, May 30, 2013

Is This Love?


I love you. In some other way yang bahkan aku tidak bisa jelaskan bagaimana.
Memangnya kamu tahu apa tentang cinta, Astri?
Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak bisa mendefinisikan perasaan apakah ini. Is this love? Or is it just another crush?
Yang aku tahu, aku menyukai cara kamu memarahiku ketika aku ketiduran di depan laptop gara-gara melembur kerjaan.
Yang aku tahu, aku menyukai bagaimana kamu melindungiku dengan sweater abu-abumu ketika aku menggigil kedinginan dalam perjalanan di suatu malam yang pekat.
Yang aku tahu, aku menyukai bagaimana kamu selalu semangat bercerita tentang mimpi-mimpimu, obsesimu, dan juga kegemaran anehmu yang berlebihan dengan Indomie goreng telur.
Kadang-kadang kamu hanya datang lalu duduk nonton tivi, sementara aku sibuk dengan iPhone dan laptopku. Orang bilang, kami pasangan aneh karena alih-alih ngobrol, kami justru sibuk dengan gadget masing-masing.
Aku bilang, ini kasta tertinggi kenyamanan. When we can enjoy each other silence. Cukup kamu berada di sampingku, dan aku merasa tenang setelah itu.
Sungguh. Sesederhana itu.
Aku juga selalu suka caramu berbicara dengan logat Melayumu yang aneh. Yang kata mama kayak ngedengerin orang Malaysia ngomong.
Aku suka dengan bentukmu yang kusut sepulang kerja dengan kemeja yang ujungnya sudah keluar semua. Dasi yang sudah longgar. Dan mata panda.
Lalu aku akan menghiburmu dengan segelas Nutrisari dingin. Dengan es batu yang banyak. Kemudian kamu akan nyengir senang seperti anak kecil mendapat es krim.
Kadang-kadang aku kesal karena kamu suka tidak peka dengan kode-kode yang aku lemparkan ketika aku marah dan sebal ke ke kamu. Kamu biasanya cuma bisa diam lalu minta maaf karena kamu malas berdebat. How dare you!
Tapi tahukah kamu, the best part-nya adalah ketika kita berhasil menyelesaikan pertengkaran kita, aku menjadi semakin mencintaimu. Dan aku tahu, itulah yang membuat pertengkaran kita tidak useless.
Kadang, ada saat-saat kamu putus asa dan sedih. And it hurts me so much in the same way. Tapi yang bisa kulakukan, hanya mendukung, karena aku tahu, kamu kuat dan kamu akan selalu bisa menghadapi itu semua.
Is this love?
Aku masih tidak tahu. Bagaimana bisa aku tahu, aku bahkan tidak mengerti sebenarnya apakah definisi cinta itu sesungguhnya.
Tapi cuma kamu orang yang bisa menenangkanku hanya dengan sebaris pesan di ponsel.
Hanya kamu orang yang tahu aku sedang PMS di saat aku sendiri tidak menyadari itu.
Hanya kamu yang bisa membuatku merasa ini yakin… dan ragu, di saat yang sama.
Hanya kamu jugalah yang membuatku merasa bahwa aku dibutuhkan. Aku merasa kamu butuh aku untuk melengkapi hidupmu.
And so do I.
Detik ini, di bawah kerlip jutaan bintang di landscape padang rumput di Lembang, mendadak flashback semua kisah yang sebelumnya telah kita lalui, terekam kembali di ingatanku.
Semua terlalu mengejutkan, aku bahkan lupa untuk bertanya dimana kamu mendapatkan tempat seindah ini.
Kamu, ada di depanku, dengan wajah gugup tidak terkira, menatapku kebingungan.  “Astri, ini udah romantis belum?”
Aku bengong sesaat. Lalu terbahak. “Nggak, sih, Ram. Cuman lumayan pening juga kamu dua jam nutup mata aku pake saputangan.”
“Eh maaf… Maaf…” ia mendadak panik.
Aku kembali terbahak. “Rama, Kamu lucu banget deh.”
“Oke, Astri. Aku mau serius, kamu jangan ketawa ya.” Ia merubah posisi duduknya benar-benar menghadapku. “Astri, setiap aku tanya ke kamu, apakah kamu sayang sama aku, kamu selalu jawab, kalo menurutmu ini bentuk kasih sayang, ya nikmati. Kalau bukan, silahkan mencari bentuk kasih sayang yang sesuai dengan keinginan kamu.”
Ia menatapku, melanjutkan kalimatnya. “Kamu itu emang ribet. Nanya sayang apa nggak aja dijawabnya ala filsafat gitu. Susah emang sayang sama kamu.”
“Tapi anehnya, As. Aku suka kamu gituin. Aku menikmati bentuk sayang yang kamu kasih ke aku. Dan bagiku, itu cukup. Kamu segalanya buat aku. Dan cuma bentuk kasih sayang dari kamu lah yang aku ingin nikmati sampai aku tua nanti. Kita tua. Bareng-bareng.”
I want that. I want it so much. Aku juga pengen kita bisa bersama-sama memberikan kasih sayang ini untuk seorang manusia kecil yang baru, yang akan bisa jadi simbol kasih sayang kita ini.”
“Jadi… Astri… Hidup sama aku ya? Bareng-bareng. Ketawa bareng. Bertengkar bareng. Karena, aku sadar, aku cuma mau bertengkar sama kamu.”
“Kamu mau nggak, bertengkar, cuma sama aku, sampe kita tua nanti?”
Lalu Rama mengeluarkan sebuah kotak mungil dari sakunya. Dan mengeluarkan sebuah cincin.
“Nabungnya empot-empotan nih buat beli ini.” ia nyengir. Ya nggak usah diomongin juga sih Ram, ngerusak momen aja.
Aku masih bengong. Seumur-umur nggak pernah aku membayangkan dilamar pake kata ‘mau nggak bertengkar sama aku sampe tua.’ Ini Rama otaknya emang geser.
Tapi, entah kenapa, setelah itu tiba-tiba mataku terasa pedas, sebelum akhirnya pandanganku mengabur karena mataku melamur penuh air mata. Dan yang bisa kulakukan cuma memegang kedua tangannya sambil mengangguk.
Aku tak sanggup berkata-kata.
Aku memeluk Rama, lalu ia memasangkan cincin itu di jariku. Aku memandangnya penuh haru.
So, kalau kamu bertanya? Oh, jadi cinta itu seperti itu ya?
Bagiku, iya. Cinta ternyata memang seperti ini.
Tapi bagimu, belum tentu. Jangan pernah mencari yang sepertiku, karena belum tentu kamu akan menikmatinya seperti aku dan Rama menikmati ini.
Selamat menemukan cintamu masing-masing :)


Buat Atta. 
Selamat menemukan cinta :)






Wednesday, May 29, 2013

Perempuan - Perempuan Sebelum Kamu


Alitya
“Alitya… Will you marry me?”
Aku ternganga menatap Davin. Selama beberapa saat aku mengira ia tengah bercanda seperti yang biasa ia lakukan padaku. Tapi tidak, ternyata ia tidak bercanda.
Anehnya, aku hanya sanggup terdiam. Ada satu hal yang mengganjal. Iya, aku memang sangat sayang Davin. Dia pria yang sangat mengagumkan. Aku merasa beruntung bisa menjadi kekasihnya.
But, still, I’m a woman. Dan aku mati-matian sangat penasaran dengan masa lalunya. Oke, aku tahu itu tidak penting. Tapi tetap saja… hal itu cukup menggangguku. Terlebih karena aku merasa gamang, kenapa ia meninggalkan perempuan di masa lalunya itu… hanya demi seorang aku.
“Sebelum aku jawab… boleh aku tanya sesuatu?”
Davin menatapku heran. “Kenapa? Ada apa sayang?”
“Dav…” tanyaku perlahan. “Berapa perempuan yang ada di hidupmu sebelum aku? Aku pengen tahu. Aku pengen tahu kenapa kamu lebih memilih aku daripada dia.”
Davin tertawa kasual. “Lima. Ada lima cinta sebelum kamu.”
Jantungku berdesir mendengarnya. “Siapa aja?”
“Sherly, Nilam, Tika, Natasha, dan Rinai.”
“Kenapa kamu mencintai mereka?”
It will be a long long story, Lit…” Davin mengelus rambutku lembut. Aku cemberut. “Kamu benar-benar ingin tahu?” tanya Davin lagi yang dijawab dengan anggukan cepatku.
“Ada syaratnya.” Tukas Davin tidak kalah cepatnya. “Ikut aku pergi ya… ke lima tempat di Indonesia. Harus mau.”
“Kenapa?”
“Karena hanya dengan cara itulah aku bisa menjelaskan kenapa aku bisa mencintai mereka…”
“Kemana aja?”
Davin diam saja. Ia hanya tersenyum penuh rahasia.

Davin
Raja Ampat
Namanya Sherly, Lit. Tempat ini selalu mengingatkanku padanya. Karena… Ya, melihat tempat ini seperti melihat surga yang jatuh ke bumi. Indah, luar biasa indah.
Tentang Raja Ampat, orang-orang sering mengatakan, “Once you get there, maka lo nggak akan pernah menemukan keindahan yang seabsolut dan sesempurna itu.”
Iya, itulah Sherly menurutku waktu itu, Lit. Indahnya benar-benar mutlak. Bawah air bagus, atas air juga tak kalah menakjubkan. Seperti halnya koral-koral, pasir putih, dan terumbu karang yang dimiliki Raja Ampat, nggak ada yang bisa membantah keindahan Sherly. She’s perfect. Tutur katanya indah, rambutnya, hidungnya, bibirnya, tawanya indah. Membuat kamu seakan terbius dengan pesonanya. Benar-benar enggan berpisah. Rasanya ingin menikmati keindahan itu selamanya.
Keindahan yang Sherly miliki sangatlah mewah dan prestisius. Bersamanya membuatku merasa menjadi tamu VIP. Ia selalu cantik saat bertemu denganku. Dengan penampilannya yang membuatku merasa sangat istimewa.
Aku merasa diperlakukan seperti raja dan pria yang berharga. Seperti ketika melihat pulau Waigeo di Raja Ampat, dan menahan nafas melihat teluk-teluk kecil disana. Melihat gradasi biru muda-turquoise-hijau air laut di sana membuatku merasa seakan-akan pulau itu sengaja berdandan cantik dan menyambut kedatanganku dengan penampilan sempurna.
“Jangan takut menunjukkan keindahanmu. Syukurilah kamu bisa memilikinya karena banyak orang mendambakan itu. Keindahan yang hakiki memang terkadang tersembunyi dan tak banyak orang yang tahu. Tapi begitu kamu merasakannya, it will never let you down, Dav.”
Ya, aku benar-benar melihat surga. Breathtaking paradise. I’m so in love with Sherly.

Bali
Aku pikir aku tidak bisa menemukan cinta lagi yang seindah Sherly. Sampai aku bertemu Nilam. Dan pada dirinyalah, aku melihat sebuah bentuk cinta yang lain.
 Being with Nilam is always awesome. Dia sangat menyenangkan di segala aspek. Satu sisi ia punya ciri khas, tapi di sisi lain dia tetap bisa bersikap universal dan berbaur dengan siapapun. Nggak ada orang yang bisa nggak suka sama Nilam.
Seperti Bali, Nilam juga memiliki semua kualitas perempuan terbaik di dunia. Aku ingin makan, dia sangat pintar memasak berbagai makanan enak. Aku ingin dipijat, dia akan memberikan pijatan paling enak sedunia.
Dan begitu pula Nilam, Bali juga sangat nyaman dan menyenangkan. Aku meminta pantai indah dengan ombak yang besar, maka aku tinggal memilih Kuta, Legian, atau Seminyak. Aku ingin pergi berbelanja barang-barang khas yang unik, maka ada pasar Sukowati yang menungguku. Ketika di Kuta kamu akan menemukan hingar bingar club, di Ubud kamu akan menemukan ketenangan dari sawah dan hutan hijaunya.
Iya, bersama dengan Nilam tidak pernah membosankan. Banyak sekali hal-hal yang aku dan Nilam selalu lakukan. 24 hours a day with her is not enough. Selalu ingin lagi dan lagi. Terlalu banyak hal yang bisa aku lakukan bersama Nilam. Seperti Bali yang menawarkan puluhan hal kepadaku. Surfing, berjemur, traditional dance, pegunungan yang mengagumkan, wihara-wihara yang membuat terpukau, sampai night club yang menyenangkan. Yang paling mengejutkan, ritual-ritual khas Hindu masih tetap akan kamu lihat di setiap sudut Bali.
Life’s awesome, Dav. Jadilah dirimu sendiri, jaga prinsip hidupmu, tapi jangan menutup diri. Sering-seringlah tersenyum dan memberi orang lain kebahagiaan. Bukankah hidup memang seharusnya semenyenangkan itu?” ucap Nilam.
Sangat Nilam. Asyik, dan sangat fleksibel. Tidak pernah membosankan. Tidak heran pribadinya long lasting. Gadis yang sangat bersahabat bagi semua orang. Seperti Bali, Indonesia’s Sweetheart.

Yogyakarta
Aku telah bertemu keindahan Sherly dan having fun dengan Nilam. Namun… cinta memang selalu misterius. Tika adalah salah satunya.
Tika… Tika itu selalu bikin kangen. Dengan segala kesederhanaan, kesantunan, dan sikapnya yang rendah hati. Orangnya manis, membuat aku tidak tahan lama-lama berpisah dengannya. Dengan Tika, rasanya seperti pulang ke rumah yang hangat dan tenang. Persis seperti apa yang kamu rasakan ketika menginjakkan kaki di Jogja.
Yang aku rasakan dengan Tika benar-benar unik. Tika dengan segala kesederhanaannya selalu membuatku merasa seperti keluarganya. Istilah bahagia itu sederhana benar-benar kurasakan ketika aku bersama Tika.
“Bahagia itu mudah Dav. Berbaurlah dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. Rajin tersenyum. Ikuti apa yang alam katakan padamu. Hidup sesuai dengan porsinya, nggak usah terlalu memaksakan diri.” Aku ingat sekali kata-kata Tika yang sampai saat ini aku pegang teguh untuk kehidupanku.
Lucu, kan Lit? Tika itu seperti Jogja. Keindahannya terletak di soul yang ada di dalamnya. Bagaimana mereka menghargai gunung Merapi, tugu Jogja, istana Keraton, dan pantai Parangtritis sebagai sebuah garis lurus yang akan selalu bersinergi satu sama lain.
Seperti Jogja, yang baru bisa kamu resapi ketika kamu melihat musisi jalanan beraksi di pinggir jalan Malioboro yang tidak memasang tarif untuk setiap aksinya. Semua bebas berekspresi, seikhlasnya saja, toh, seni itu milik alam. Dimana kita, manusia bebas menikmatinya. Seperti irama yang didendangkan para penjual makanan lesehan di pinggir jalan dan warung gudeg yang buka tengah malam.
Mencintai Tika mengajarkan aku untuk tidak sombong dengan hidupku, untuk selalu menjaga dan menghargai orang-orang yang ada di sekitarmu. Cinta Tika membuatku legawa. Seperti halnya Jogja yang memberiku satu wejangan yang pasti: Sepanjang kamu masih bisa tertawa dan bersenda gurau bersama orang-orang yang kamu sayangi, maka itulah kebahagiaan.

To be continued…