Saturday, May 5, 2012

Bagaimana Aku Menjagamu Agar Tidak Patah Hati?


Semua mungkin jarang menyadari, ketika kita sibuk merayakan hari Ibu, merayakan hari Kartini, tidak ada yang sadar bahwa (di Indonesia) justru tidak ada hari Ayah. Padahal, saya merasa, ayah-ayah di dunia ini juga butuh untuk diapresiasi dan disanjung. Ayah selalu berusaha kuat dan tahan banting, tapi mereka pasti ingin sekali-kali dipuja juga.

Papah, begitu saya memanggil ayah saya, adalah orang paling gengsian yang pernah saya temui. Eventhough, wajar sebagai seorang anak perempuan untuk lebih terbuka kepada ibu mereka, saya tahu, di balik segala kegengsiannya untuk mengungkapkan perasaannya, papah sangat sayang saya.

Tulisan ini sepenuhnya fiksi (karena saya tidak sebentar lagi menikah kok, hahaha), saya hanya berusaha menuliskan apa yang mungkin setiap ayah di dunia ini rasakan, ketika anak perempuannya akan pergi bersama lelaki lain.

Anyway, saya sayang papah saya :)


Untuk Cahaya, yang sebentar lagi menikah.

Cahaya kecilku yang kusayang,

Ya, aku tahu aku egois. Aku selalu ingin kamu hanya untukku. Aku ingin menjadi satu-satunya pria dalam hidupmu. Aku menyayangimu, terlalu menyayangimu.

Tapi maafkan aku karena menjadi egois. Maafkan aku karena ingin memilikimu sepenuhnya. Maafkan aku karena menjadi protektif. Maafkan aku karena sering marah padamu ketika laki-laki lain datang menghampirimu. Aku cemburu, iya, aku cemburu. Kamu harusnya selalu jadi milikku, selamanya!

Kamu harus paham, sayang. Aku sudah bersamamu semenjak kamu masih berumur satu hari. Aku menyuapimu ketika kamu belum bisa makan sendiri. Aku mengajarimu cara cebok yang benar. Aku mengajarimu cara berjalan, cara menyanyi, cara berhitung, semua cara agar kamu menjadi wanita yang tangguh dan cantik.

Lalu lama kelamaan kamu bertambah besar. Dulu ketika kamu merasa sedih atau kesal, maka kamu lari dan menangis padaku. Lalu kamu akan dengan mudah tertawa lagi ketika aku membelikanmu es krim.

Sekarang, kamu menangis pada orang lain. Dan kamu marah ketika aku mendekat dan menanyakan kamu kenapa. Katamu, aku tidak akan mengerti urusanmu. Benarkah begitu? Ah, aku sedih mendengarnya. Ketika aku menawarkan es krim, kamu malah tertawa, katamu, kamu sudah besar. Ah..

Jadi ya—maaf—aku sesungguhnya (agak) senang ketika dia, laki-laki yang menjadi pelipur laramu ketika kamu sedih, lalu justru menjadi sumber kesedihanmu. Kamu malah menangis karena dia. Kamu kembali lari kepadaku, menangis kepadaku, “Papah, aku patah hati.” Begitu katamu.

Aku sedih, tapi dalam hati menyimpan senang, karena aku tetap menjadi pria terhebat di hidupmu. Tentu saja, aku adalah pria yang paling tulus menyayangimu. Jangan samakan aku dengan pria-pria ingusan lain, cuma aku satu-satunya pria yang terbaik bagimu :’)

Begitu terus, berulang-ulang. Aku selalu panik dan jadi paranoid ketika ada pria lain yang datang ke rumah. Berbagai macam, yang tampan, yang kaya, yang pintar, yang kurus, kekar, gemuk, lucu, ramah. Semua juga bergantian menjilatku dengan berbagai kata-kata. Kata mereka, kamu cantik, ramah, pintar, baik. Ah tentu saja, itu tidak perlu diragukan lagi. Kamu hasil didikanku. Kamu akan diperebutkan banyak pria tentu saja, tapi cuma aku yang boleh memilikimu!

Aku juga laki-laki dan pernah muda, aku tahu mana pria yang benar dan yang tidak. Jadi maaf sayang, ketika kamu menangis dan marah karena aku tiba-tiba bersikap defensif terhadap pria-pria itu, demi Tuhan, aku hanya mencoba melindungimu..

Tapi aku tidak menyangka, bahwa tiba saatnya aku harus patah hati, saat itu tiba justru ketika kamu bertemu pria yang tepat. Bahwa ketika kamu bertemu pria yang tepat, ternyata menjadi saat-saat paling menyedihkan dalam hidupku.

Ketika kamu bertemu dia, aku tidak punya alasan untuk mengusirnya dari rumah. Aku tidak punya alasan untuk melarangmu bertemu dengannya. Aku tidak punya alasan untuk bersikap protektif lagi. Dan terlebih lagi, aku tidak tahan melihat matamu yang berbinar bahagia ketika bersamanya. Saat itu aku tahu, dia tidak akan mematahkan hatimu lagi. Saat itu aku juga tahu, bahwa tugasku untuk menjagamu agar kamu tidak lagi patah hati telah berakhir.

Saat ini, aku berada di sampingmu. Kamu menitikkan air mata ketika ia berjanji akan menjagamu seumur hidup.

Aku memandangnya dengan pedih. Aku harus merelakanmu bersamanya. Perempuan yang kujaga sepenuh hati selama 25 tahun. Yang sangat kucintai. Dan saat ini kamu memilih pria lain.

Tak apa-apa. Kamu telah bersama pria yang tepat. Aku tahu, dia tak akan membuatmu patah hati lagi. Baik-baik, sayang. Selamanya, kamu akan tetap menjadi perempuanku. Terima kasih, karena telah menjadi perempuan yang paling kucintai. Terima kasih, karena telah menangis di pelukanku.

Sampai kapanpun, aku akan selalu menjagamu agar kamu tidak patah hati :)

Salam sayang,

Papah.

*Spesial untuk semua laki-laki di dunia. Read carefully dan pahami. Think twice, so you can respect women more, because someday, you are going to be a father, dan saya yakin kalian tidak ingin anak perempuan kalian disakiti :)

Friday, May 4, 2012

Menikmati Milikmu


Aku dan dia bertatapan lama sekali di restoran ini, menunggu bebek goreng yang tidak kunjung datang. Tatapan penuh suka. Tatapan kerinduan. Tatapan sembunyi-sembunyi. Takut kamu tiba-tiba datang dan melihat kami. Takut pelayan datang dan berubah menjadi kamu.

Kami takut kamu.

Dia berkata kalau dia menyayangimu dan begitupun aku. Tapi dia juga menyayangiku, dan begitupun aku yang menyayanginya. Tentu saja, karena kami saling menyayangi. Dan sekali lagi mataku dan matanya mendadak awas, menatap penyanyi restoran, takut ternyata itu kamu yang sedang menyanyi sambil menangis tersedu-sedu.

Kamu menelepon dia, menanyakan kabarnya, dan berkata merindukannya.

Dia menjawab kalau dia juga merindukanmu, tak lama, dia menutup telepon dan memandangku kemudian berkata, ”Bima, tentu saja aku lebih merindukanmu daripada adikmu itu. Tenang saja.”

Hatiku perih. Menusuk-nusuk. Sungguh, aku ingin sekali tidak mencintainya.

Mataku dan matanya kembali mengawasi sekeliling restoran. Kami takut kamu. Takut bebek goreng di depan kami tiba-tiba menjadi kamu. Takut tembok restoran berubah menjadi kamu. Karena kami tahu, menjadi kamu rasanya sangat menyakitkan.

***

Kamu tiba-tiba datang tergopoh-gopoh mendadak muncul di hadapan aku dan dia. Di hadapan bebek goreng yang tinggal tulangnya saja. Di hadapan gelas fruit punch yang isinya tinggal setengah. Di hadapan tangan yang sedang berpegangan.

Dia terperangah. Lidahku berubah kelu. Sedangkan kamu kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekagetanmu.

”Mas Bima ngapain di sini berdua sama Ricky?”

Aku terdiam ditanya begitu. Kamupun menangis dan terpaku beku.

Lalu dia melepaskan pegangan tangannya dari tanganku, kerut jidatmu berlipat-lipat, berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan semua ini.

Yang aku tahu, seperti biasa, aku hanya sanggup melihat rambutmu. Rambutmu yang panjang berkilau yang membuatku silau. Silau oleh kecantikanmu, terpukau oleh kemolekan tubuh wanitamu. Tersisih karena kehebatanmu yang menarik hati semua orang. Iri dengan gaunmu. Kosmetikmu. High heels-mu. Sakit dengan semua yang ada padamu yang tak bisa kumiliki.

Selanjutnya, aku dapat melihat dia menatap, lalu memelukmu erat, meminta maaf karena telah berbohong.

Aku tercekat, sadar bahwa aku pasti akan kehilangannya kalau tak mau kehilanganmu.

Dan akupun berbohong. Lagi. Karena aku tahu aku tak mau kehilanganmu. Karena aku masih ingin memakai semua yang kau miliki. Masih ingin mencoba eye shadow-mu ketika kamu sedang sekolah, masih ingin mengintip Ricky-mu dari balik pintu kamarku dan terpukau oleh ketampanannya, serta tidak ingin melukaimu, orang tuaku, pacarku.

”Mbak Denise besok ulang tahun. Dan mas Bima tahu, Ricky adalah orang yang paling tepat untuk ditanyai soal surprise buat cewek. Dan restoran ini sempurna, bukan begitu?” akhirnya aku berkata, berpura-pura santai dengan kemampuan aktingku yang luar biasa, sedikit merasa bersalah pada Denise, pacarku yang tidak pernah kucintai sama sekali.

Dia langsung menatapku kelu. Pucat pasi. Seakan mengucapkan selamat tinggal. Selalu begitu. Berkali-kali. Aku balas menatapnya dengan pandangan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana mengartikannya.

”Kenapa nggak minta tolong aku aja, mas?” kamu sepertinya sudah melupakan insiden pegangan tangan itu.

”Boys’s stuff.” aku tersenyum mengelus rambut adikku itu penuh kasih sayang. ”Pulang yuk.”

Dia mengantar kamu pulang. Aku berpisah denganmu dan dia, sambil menatap mobil kalian yang perlahan menjauh. Mungkin aku memang masih harus menikmati semua yang kamu miliki, diam-diam, tanpa ada yang tahu.

Aku akhirnya sendiri lagi di restoran ini, frustasi sekali lagi, dan akhirnya menyerah, lalu memesan segelas wine pada pelayan.

Ponsel-ku bergetar. SMS.

From : Ricky [08564236791]

Subject: Sayang, maaf ya soal yang tadi. besok kita ketemuan ya? I love you…

Aku tersenyum sendiri menatap ponselku. Damn, inilah kenapa aku nggak bisa berhenti menyayanginya…

Thursday, May 3, 2012

Filsafat adalah Quote


“Filsafat adalah quote”

Statement ini saya ambil dari salah seorang teman saya saat kami sedang pusing-pusingnya mendengarkan kuliah Filsafat Komunikasi -__- Seperti kebanyakan manusia pada umumnya, I just don’t get filsafat karena filsafat yang saya mengerti itu juga ujung-ujungnya pasti lari ke filsafat asmara—dasarnya otak udah otak bawaan galau begini kali ya.

Saya punya kebiasaan, kalau sedang cunthel di kelas, saya akan otomatis coret-coret enggak jelas di blocknote saya. Entah darimana rutinitas ini berasal, tapi tiap saya (dan teman-teman saya) menemukan quote-quote galau, kami langsung menuliskannya di blocknote saya ini.

Blocknote saya ini bikinan salah satu teman saya namanya Astrini, seperti ini bentuknya:

gambar diambil dari blognya Astrini, bisa diklik disini

Dan ternyata materi kuliah saya yang paling saya sukai itu justru hasil coret-coret enggak jelas itu :p Quote-quote nan unyu tersebut akan saya tulis di halaman-halaman belakang blocknote. Jadi bisa ditebak, blocknote saya isinya quote-quote kegalauan yang semuanya didapat dari mana saja, bisa dari teman-teman saya, bahkan dari dosen. Padahal si dosen ngomongin materi kuliah, tapi di kepala, jatuhnya ya galau asmara, huehehe.

Jadi, ketika si dosen menanyakan kepada kami, “Menurut kalian, filsafat itu apa?”

Dan teman saya nyeletuk, berbisik kepada saya, “Filsafat adalah quote.”

Kemudian saya meringis setuju, kembali membuka-buka blocknote sakti saya yang isinya adalah quote-quote, dari yang beneran, sampe yang koplak.

“Semakin sulit seseorang untuk dicintai, semakin ia membutuhkan cinta” - @MarioTeguh via ibuknya @astriniw (kata astrini, teman saya, tiba2 ibuknya nge-BBm quote ini ke dia. Ibuknya selo ._.)

“Kalo IP-nya bagus, nanti sama Tuhan dikasih pacar yang bagus juga” - @astriniw

“Cowok itu kayak sepatu, cari yang nyaman… dan bisa diinjek-injek” – Intan Kurnia (melipir ah, nggak ikut-ikut :p)

“Cowok hanya bisa berusaha, cewek yang menentukan” - @agustaep, kemudian dilanjutkan “tapi usahanya harus maksimal, Tang, jangan setengah-setengah.” - @fitaarmela

“Brand: I can live without it, but I choose to live with it.” - @PulungUci (mbak Pulung ini dosen saya, quote ini diucapkan ketika kelas Brand Management. Oke, kasta cinta tertinggi adalah ketika kita sudah bisa menganggap seseorang seperti… brand. Huik :p)

“Satu-satunya cara untuk menjaga perasaan adalah dengan selalu mengingat kalau kalian gak selamanya.” - @dvpndtm

“Mantan itu cemilan, masalahnya orang lebih suka nyemil.” - @hawwinbf

“Bribikan itu kayak pop-corn caramel, manisnya diujung doang, kalo udah abis, yaudah…” -@jengmand

“Merek: Semakin kamu mencoba melupakannya, semakin ia mencengkeram erat ingatanmu. “ – mas Sulhan, dosen Marketing PR

“Saking deketnya, sampe nggak keliatan. Butuh orang lain supaya kita bisa lihat dan sadar.” - @PulungUci

“Apa bedanya mencintai kursi dengan mencintai pacar? Kalo dengan kursi, kita nggak pakai empati saat mencintainya. Mencintai pacar, harus pakai empati, jadi kita bisa merasakan penderitaannya, kalau mencintai pakai empati, cinta kita akan lebih bermakna.” – Dosen Filsafat UGM *quotenya filsafat banget, tapi unyu.. :’(

“It takes time to build a loyalty. You just don’t need a reason to be loyal to a “brand” you just relate to it, it’s all about sense.” - @PulungUci

“Nggak papa cowokku nggak ganteng, yang penting dia nggak suka sama yang ganteng.” - @AnnisaIT

“Aku nggak peduli sama hubungannya, aku peduli sama tujuannya.” - @hawwinbf

“Karena lo gak cocok jadi masa depan gua, makanya gua jadiin lo masa lalu.” - @winads

“Should be a relationship that: mutual benefit, relaxed and friendly, long term, a working relationship with shared responsibilty.” – Mbak Betty, dosen manajemen Periklanan

“The most productive relationship are those where give and take is art of the understanding and each party has mutual respect for the others.” – Mbak Betty lagi :p

Ini hanya beberapa quote dari sekian banyak quote yang sudah terkumpul di blocknote saya. Menurut saya, materi kuliah terpenting justru quote-quote koplak yang ada di halaman belakang block note saya ini :p Walaupun keliatan banget kalo pas lagi kuliah saya menghabiskannya dengan ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman saya, tapi membacanya lagi bikin ketawa-ketawa sendiri sebenarnya.

Saat ini sudah menginjak halaman ke -8 Kumpulan Quote Galau di blocknote saya, dan saat saya sedang beranjak untuk mengakhiri semester keenam saya. Semester akhir, dimana saya harus mulai bersiap untuk kehilangan momen menggalau bersama sahabat-sahabat saya.

This is the art of galau. Kalau kata seorang teman, galau itu adiktif. Someday, saya akan sangat merindukan saat-saat menggalau dengan mereka semua.

*lah kok jadi mellow*

Intinya, galaulah sebelum galau itu dilarang ;p

Cheers! :)

Wednesday, May 2, 2012

Menunggu Batara Mendarat

Untuk Batara.
Yang sedang terbang.

Memangnya gampang, melewati setiap sudut kota setiap hari dan merasakan jiwamu di setiap sudutnya?

Aku masih ingat. Bagaimana aku pertama jatuh cinta padamu. Aku kelas 1 SD, kamu kelas 5 SD.
Aku bingung, sendiri di taman itu. Anak baru. Tanpa teman.
Sampai mataku tertuju pada sebuah ayunan besi. Ayunan yang bisa diduduki empat orang tapi dan akhirnya hanya kududuki sendiri, karena aku belum kenal siapapun. Juga tidak berminat mengenal siapapun.

Lalu kamu datang, tiba-tiba saja tanpa ba-bi-bu memasuki ayunanku, ayunan yang sudah kukuasai, dan berkata, “Aku jadi pilotnya ya!”
Aku hendak menangis, sebelum kamu dengan sekuat tenaga mengayun-ayun ayunan berat itu dengan kekuatanmu. “Aku pilotnya, kamu pramugarinya! Mau kemana kita?”
“Ke Jogja!”
“Loh, memang ada apa di Jogja?”
“Aku mau ketemu mamahku.”
“Okee. Kita berangkat ke Jogja, ngeeeeeng. Pesawat siap lepas landas ke Jogja, penumpang harap memasang sabuk pengaman. Ngueeeeeng.”
Dan itu pertama kalinya aku tertawa terbahak. Pertama kalinya di kota asing ini.

Batara, aku harap kamu mengingatnya juga.

Kamu, Batara, selalu ingin menjadi pilot. Kamu, Batara, rajin sekali belajar.
Katamu, kamu ingin menyentuh langit seperti namamu, Batara Jumantara, yang berarti Dewa Langit. Kamu ingin terbang diantara angin. Ingin menembus awan nan mempesona. Bahkan kamu ingin menyentuh bulan.
Tidakkah kamu sadar bahwa kamu adalah langitku? Kamu adalah anginku, awanku, dan bulanku?

Gara-gara kamu, untuk pertama kalinya di kelas 3 SD, aku mandi pagi lebih lama, pakai parfum wangi agar kamu sadar keberadaanku. Gara-gara kamu, aku suka Manchester United. Gara-gara kamu, aku ikut-ikut suka David Beckham. Bayangkan, ketika teman-temanku sibuk menggemari Amigos aku malah repot menelan info tentang David Beckham. Hanya supaya bisa mengerti semua kegemaranmu!

Gara-gara kamu aku rela ikut klub basket ketika SMP. Dan tahu nggak, aku bahkan sama sekali nggak paham olahraga yang satu itu. Aku cuma tahu, aku senang membawa pulang handuk yang basah oleh keringatmu dan botol minum warna merah marun yang selalu kamu teguk habis isinya sambil berkata, “You are cool! Bisa apa aku tanpa kamu?”
Dan sepanjang hari berikutnya aku akan senyum-senyum saja dengan kebahagiaan yang fully charged oleh kamu. Padahal kakiku serasa mau copot karena harus pemanasan keliling lapangan 100 kali.

Tapi kamu, Batara. Tetap ingin jadi pilot.
We hugged, we kissed, we shared stories.
Dan kamu, Batara, tidak pernah berhenti ingin jadi pilot.

Aku sangat senang, Batara. Kamu akhirnya benar-benar menjadi pilot.
Kamu terbang, bebas, kamu menembus awan, kamu menyentuh langit.
Sampai suatu saat kamu terbang, dan tak mendarat.
Sampai suatu saat kamu tak lagi pulang kepadaku.

Orang-orang berkata aku harus merelakanmu pergi, menuju langit.
Aku tidak percaya.
Karena hanya aku tempatmu akan mendarat.
Karena cuma aku seseorang yang menunggu kamu mendarat. Mendarat di bandara, mendarat lagi di hati, dan kembali padaku.

Cepatlah mendarat, Batara.
Aku tengah menatap pusaramu yang hening. Menatap setiap peluk, cium, dan cerita yang kamu berikan kepadaku. Cepatlah mendarat, Batara. Aku rindu.

2 Mei 2012,
(masih) menunggu kamu mendarat.

Tuesday, May 1, 2012

Karena Menulis adalah Berlibur

Buku harian pertama saya, dari covernya aja udah genit...

Writing is a very personal thing, at least, for me.

Saya pertama menulis, menulis dalam bentuk cerita adalah ketika saya memiliki buku harian pertama saya saat kelas 4 SD. I still kept it. Hanya untuk tertawa senyum-senyum sendiri melihat betapa besar energi saya untuk menulis SATU HALAMAN, SETIAP HARI, selama DUA TAHUN!

Buku harian tersebut warnanya pink, dengan gambar Minnie Mouse. Yang kemudian mengingatkan saya, betapa saya sangat selo, untuk setiap hari menulis, SATU HALAMAN PENUH. Selalu, enggak pernah enggak. Selama dua tahun tersebut, hanya ada satu dua kali saya absen nggak nulis, dan dengan selonya juga, saya menulis permintaan maaf sama diary itu kalo kemaren enggak sempet nulis -__-

Semakin tua, saya tentu saja masih suka menulis. Namun tentu saja dengan frekuensi dan intensitas yang jauh berbeda. Menjelang SMP, I bought a new diary, yang masih saya pergunakan sampai saat ini. Bisa dibilang buku harian itu adalah harta saya yang paling berharga, dan saya akan menangis hebat kalo sampai buku harian itu hilang…. atau kebuang deng (selo banget Sar ada yang mau nyolong diarymu). Tidak seperti ketika SD, buku harian biru ini hanya diisi ketika saya sedang mood nulis, atau sedang ingin melampiaskan sesuatu (mostly sih ketika galau huehehehe)

Menulis lama-lama menjadi kegiatan yang saya lakukan hanya ketika saya selo. Menulis menjadi sasaran keseloan, sasaran ketika saya sedang mood berpujangga, sasaran ketika saya galau, ketika sedih, dan juga ketika sedang bahagia.

Singkat kata, menulis adalah eskapisme. Pelarian untuk segala rutinitas saya. Menulis adalah satu-satunya kegiatan yang saya lakukan tanpa terpaksa (pengecualian untuk menulis tugas kuliah .__.), menulis adalah kegiatan tersier, mewah bagi saya, dan saya konsumsi jarang-jarang, dimana ada sebuah kesenangan yang sulit dijelaskan ketika saya selesai menyelesaikannya.

Dan saya teringat kembali pada diary Minnie Mouse Pink saya yang tergeletak berdebu di laci meja belajar saya. Mengingat bagaimana saya yang dulu bisa menulis setiap hari, and amazingly… there is always a story. Everyday! Gusti aku selo banget dulu… selo dan bahagia -__- Dan kalau saya dulu dengan bahagia melakukannya, mengapa sekarang saya tidak mencobanya lagi?

Jadi proyek selo #31HariMenulis yang diadakan kakak-kakak senior di kampus saya seperti menjawab betapa saya ingin kembali selo untuk melakukan kegiatan mewah ala saya ini. Mungkin, kasta selo tertinggi adalah ketika kamu rela mengorbankan waktu selomu untuk melakukan hal yang luar biasa selo. *halah*

Yes, #31HariMenulis is about commitment.. and concistency. Ah, konsistensi adalah sesuatu yang paling sulit dilakukan di dunia ini, menurut saya. Jadi sebenarnya agak nekat juga bagi saya untuk ikutan proyek ini, 31 tulisan dalam sebulan lho Bro! Mau nulis apa aja ituuu -_- Secara selama ini, saya selalu nunggu wangsit tiap mau nge-blog. Artinya saya harus galau dulu, dan setelah mendapat hikmah dari kegalauan tersebut, baru deh saya tulis. Masak saya harus galau setiap hari? Nggak mau kan ada mahasiswi UGM, 21 tahun, edan karena kebanyakan galau setelah proyek #31HariMenulis (abaikan…)

Dan agak pusing juga mengingat satu kali enggak nulis means denda 20 ribu. Mayan banget itu denda bisa dipake beli mobil *lebay*

Walaupun saya bahkan juga belum tau besok bakalan nulis apa (kebayang dua puluh ribu di depan mata) tapi, demi buku harian Minnie Mouse Pink, kuikuti program ini dengan Bismillah.. *ketok palu sambil pegang tasbih*

Ya, menulis telah bertahun-tahun menjadi kegiatan tersier saya. Seperti halnya liburan yang di buku-buku jaman SD dikategorikan sebagai kebutuhan tersier. Kegiatan tersier itu, jarang dilakukan, mewah, dan ada unexplained happiness setiap saya melakukannya, kebahagiaan yang sifatnya personal. Tapi, demi hidup yang enggak gitu-gitu aja, anggap saja saat ini saya lagi mau hedon! Tiap hari beli mobil, tiap hari liburan! *self suggestion*

Happy writing, saya, happy writing, 62 teman-teman selo lainnya! Huh hah! Dan tunggu tulisan-tulisan selo selanjutnya, langsung dari blog akuuhhh *dibalang sendal*

Selamat Berlibur! :D

*31 Hari Menulis adalah kegiatan yang intinya mengajak teman-teman Komunikasi UGM untuk menulis maraton selama 31 hari dimulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 31 Mei 2012. Setiap harinya peserta akan diwajibkan menulis satu tulisan untuk diposting ke blog atau note facebook. Blog 31 Hari Menulis bisa dilihat disini