Sunday, August 23, 2009

Diarrhea aka Diaria (huahahaha)

Jadi si sinilah saya. Sebulan lebih nggak ngeblog. Saya benar-benar seorang blogger yang buruk.
Sebulan belakangan ini saya habiskan 3 minggu dengan pergi ke dunia fana, ke Indramayu bersama si mama dan papa. Agak menakjubkan rasanya, karena yeah, setelah 3 tahun kamu hidup sendirian, walaupun cuma 3 minggu merasakan lagi makan disuruh-suruh dan nonton tivi ada yang nemenin bikin kamu jadi ketagihan huehehe. Bahkan saya menikmati rasanya dimarahin.
Dan apa akibatnya, pulang-pulang dari sana, saya langsung jatuh sakit. Dan itu membuat semua yang saya rencanakan ketika pulang ke Jogja jadi berantakan. Fyi, sakit saya nggak elit banget, diare aka m**cr*t. Untuk selanjutnya, sebut saja penyakit laknat ini dengan nama versi inggrisnya—diaria. Mungkin aja bisa terdengar sedikit ngangkat -____-
Si diaria ini membuat saya jadi enggak bisa bangun dari tempat tidur dan saya dan seorang teman saya setuju, penyakit ini membuat seluruh semangat kamu seakan hilang. Takut bergerak, karena berubah posisi dikit aja bisa membuat perutmu demo lagi. Takut pergi dari toilet karna malas bolak-balik. Dan imodium adalah makanan sehari-hari. Saya sangat berharap, semoga teman saya ini besok bisa menemukan cara menyembuhkan penyakit diaria dengan sekali kedip. Serius. Besok dia harus jadi dokter spesialis penyakit diaria—mungkin besok bisa deh dibikin. (Ya nggak, mbe? :p)
Parahnya, diaria ini membuat semua 3 kilo lemak yang saya timbun waktu di Indramayu (tentu saja, dengan mama di samping saya, asupan gizi saya jadi overload), menyusut lagi kembali ke takaran asal. 44 kilogram. Grr. 47 kilogram tinggal mimpi. :8
Dan sayapun ikut ospek dengan bayang-bayang diaria.
Ngomongin ospek, Oh my gooood, ospek saya coooooool banget. Hahaha. Gojlok-gojlokan is soooo yesterday ! :D Dan kami masih bisa kompak tanpa itu semua!
Saya dulu sempet wondering loh, kenapa harus ada ospek? Kenapa di luar negeri nggak ada? Sempet mikir juga kalau tetek bengek ini wasting time semata. Tapi sekarang saya menemukan jawabannya : Kekompakan memang lebih gampang didapet kalo orang lagi susah. LOL.
Walaupun ospek saya bersih dari yang namanya dimarah-marahin tetep aja tugasnya wuidih dan harus dikerjain bareng-bareng dong. Tahu deh, kalo lagi susah pasti lebih kepingin kerja sama hahaha. Itulah kenapa orang desa lebih kompak daripada orang kota. Orang desa lebih ngerasa susah dari orang kota. Hahahaha.
Ini apaan sih, postingan yang makin lama makin ngaco aja.
Ohiya, saya juga mau cerita, Agustus ini adalah bulan yang sangat berat buat saya. Secara saya harus kehilangan 3 orang yang paling saya sayangi. 2 orang shabat terdekat saya—mereka semua minggat ke Undip. Tega ya? (bawa pisau siap membunuh) dan 1 orang pacar saya. Yes, we ended up this 2 years relationship. Hiks hiks. Feels pretty hard lho awalnya, but the show must go on. Saya tetap harus survive di dunia saya yang baru.
Satu lagi, selamat ulang tahun Indonesia! (telat banget) Hari kemerdekaan Indonesia sukses bikin daerah di sekitar kampung saya jadi amazing banget karena penuh dengan lampion-lampion lucu. Berasa ada di China Town lho kalo malem malem lewat situ—lebay.
Dan besok hari pertama kuliah!
Semangat saraaah ! :D
XOXO

Thursday, July 16, 2009

You are Your Best Friend

Lama juga ya saya enggak ngeblog hehe.

Saya sedang merelakan masa SMA saya, dimana itu berarti saya harus kuliah, dan nggak bisa dikategorikan TEENS lagi, dan fokus belajar untuk bekerja – jah.
Ngomong-ngomong tentang bekerja, tadi saya ke bank loh—hubungannya apa?
Sebentar, sebentar, sebelumnya, ketika saya baru keluar dari rumah saya menuju bank, saya melihat....
ULAR.
IYA, ULAR.
Di depan rumah tetangga saya, dengan diameter sekitar 10 cm dan panjangnya ada kali 2 meter. Beneran saya enggak bohooooooong.
Dan kamu tahu tidak, ekspresi normal saya seharusnya :
Sarah Karinda naik motor, matanya tiba2 melihat seekor binatang melata yang besar sekali, ia pun menjerit ketakutan, ia sampai nggak sanggup melajukan motronya lagi, seluruh tetangga keluar dan akhirnya beramai-ramai membunuh binatang itu.
Tapi sebagai seorang gadis yang speed mikirnya tidak terlalu cepat—oke, lemot—ekspresi saya malah jadinya kayak gini:
Sarah Karinda naik motor, bersenandung sok merdu pelan nyanyi lagu One Day in Your Life-nya Michael Jackson, lalu tiba2 ia melihat seekor binatang melata besar sekali, ia terus melajukan motornya pelan2, berpikir sejenak, binatang apa itu? Besar sekali, panjang 2 meter, dan bersisik??? WHAT? BERSISIK? Di kampung kecil nan asri??
Dan ketika Sarah Karinda tersadar, ia sudah sekitar 20 meter dari gang tempat dia melihat binatang bersisik
slash ULAR itu. Lalu dengan telatnya baru mengeluarkan ekspresi terkejut.


Inilah untuk pertama kalinya saya sebut lemot itu menguntungkan.
Coba ya, kalau saya mati kaget gara-gara lihat makhluk sebesar itu, terus saya jadi jatuh dari motor?
Mending kalo cuman jatuh dari motor, gimana kalo jatuh dari motor—terguling—si ular merayap ke arah saya yang terkilir (jah)—dan finally saya berakhir jadi santapan ular—lalu headline Minggu Pagi adalah gadis desa manis cantik mati dimakan ular Piton.

Ha. Kumat deh lebaynya.

Tapi serius, ITU ULAR DARI MANA COBAA???
Karena begitu saya pulang, ular itu sudah enggak ada.
Tau ah gelap. Mungkin dia jelmaan Suzanna si Ratu Ular yang arwahnya gentayangan gara-gara anaknya masih rebutan harta gono gini sama suaminya.
Dasar penggemar infotainment tulen.

Kembali ke topik, itu tadi pertama kalinya saya pergi ke bank dengan orientasi menabung. Ini ironis sekali karena ayah saya kerja di bank dan saya bahkan belum pernah menabung satu kalipun.
Sorry daddy :B Slogan Ayo ke Bank! mungkin tepat buat saya, Ayo ke Bank, lari ke ATM dan ambil uangnya lol.
Kalau saya sedang dapat uang, saya lebih suka menyimpannya dalam bentuk tunai, dan tahulah, uang tunai itu ada untuk dipakai dan dalam sekejap pasti langsung lenyap ehehehe.
I have to change this bad habit.
Walaupun kalau untuk urusan belanja sebenarnya, saya sama sekali enggak
IMPULSIVE. Serius. Kalau saya ke shopping centre tidak dalam rangka belanja, saya jarang sekali berakhir dengan kantong belanja di tangan saya.
Lain lagi ceritanya kalau memang sudah niat, naah saya selalu memilih untuk sendirian waktu belanja, karena selain saya kasihan sama orang yang nemenin saya belanja keliling setiap toko—ingat, semua toko bakalan saya masuki, karena saya tipikal yang nggak bisa jatuh cinta pada pandangan pertama hehe—tapi juga karena, hmm...
being alone is completely fuuuun!
Kemarin waktu saya ke toko beli jeans, sedikit cerita nih:
Dengan wajah agak agak mengintimidasi saya ngomel sama si mbak pelayan toko, aduh mbaak masak nggak ada yang size S sihh?
Duh mbak, abis, adanya tinggal M, L, sama XS.
Sarah Karinda menatap mbaknya dengan tatapan, sumpe lo XS? Badan anak kuliah gini dikasih XS?? (ciee, anak kuliaah? :p)
Dicoba dulu aja mbak XS-nya...
Yaudah deh mbak, tak cobanya aja (tersungut2 menuju ruang ganti meninggalkan si mbak begitu aja)

Dan selanjutnya kamu tahu apa?
Jeans
skinny yang sudah saya jatuhi pilihan diantara sekian ratus merk jeans lainnya itu sangat PAS di pinggul, dan malah sedikit kebesaran di bagian pergelangan kakinya.
Si mbak pelayan tokolah yang akhirnya gantian menatap saya dengan pandangan anarki karena waktu sekitar 10 menitnya tadi terbuang sia-sia dengan mencari jeans ukuran S untuk seorang cewek sok kegendutan yang walaupun ketemupun pasti nanti nggak jadi dibeli.
Aduh, maaf ya mbaak, hehehe.
Holy shit.
Padahal kan saya liburan ini bagaikan beruang mau hibernasi yang menimbun makanan sebanyak-banyaknya hik hik.
XS?
God. Mungkin saya beneran cacingan.

Saya pulang dengan membawa 3 kantong belanjaan. Mampir ke toko buku sebentar beli novel dan nggak sengaja melihat pembantas buku lucu dengan tulisan:
When I have a little money, I buy books. And if any is left, I buy food and clothes.
Sebenarnya kalo versi saya urutannya adalah
food-books-clothes. Hehehe. (Dan dengan jeans ukuran XS saya bisa bilang, urutan nggak ada bedanya deh TT)
Pembatas buku itu akhirnya juga berakhir di salah satu kantong belanja saya lho
anyway.

Saya cuma mau bilang, saat belanja waktu itu sangat mengasyikkan. Bukan karena puas dengan barang2 yang kamu dapat (oke, itu juga sebenarnya lol), tapi lebih karena saya sukaaa being alone. Dan menjadi sendiri tidak selalu menyedihkan.
Everyone needs their own time kaan?

I’m officially out of high school now. Dan walaupun semua orang bilang high school never end, kenyataannya itu semua pasti berakhir. Dan kata-kata kodian semacam friendships are forever itu memang nyata ada, tapi hadapilah, semua enggak akan sama lagi.
Trust me, I felt it for thousands times. Hei, ingat, saya pindah sekolah hampir 7 kali! Bukannya semua itu lantas berakhir begitu saja, kami masih selalu rajin berkomunikasi, tapi yah itu tadi, semua nggak akan sama lagi
Toh saya masih punya buku kenangan 64—yang sangat
awesome!—kalau sewaktu-waktu saya kangen dan kepingin flashback.
Seperti yang mama saya selalu bilang:
You have your own new life—dan jalanilah.

Teringat salah satu lagu Alm Michael Jackson yang saya suka banget—
You Are Not Alone
(Menghabiskan waktu dengan si mama yang selalu nangis melihat berita kematian Michael Jackson di TV membuat saya nggak mungkin nggak ikut suka dengan lagu2nya. Gimana enggak, mama enggak pernah absen menyetel Michael Jackson top 40 di MTV dan dengan quote andalan:
Mama dulu dance group SMA pake lagu ini naak lagu inii! Lagu ini! Hiks hiks hiks. Dan tissue pun diambil lagi.
Aku nangis heppi karena Tuhan telah menciptakan MJ tuk jadi bukti bahwa Allah seniman besar. Subhanallaah…
Serius, ini saya lagi enggak lebay. Ini nyata dan beneran—jadi, mungkin mama saya ya yang lebay ya :p)

You’re not Alone adalah lagu yang sangat bagus.
People come and go. Jadi, satu-satunya yang bisa membuatmu merasa enggak sendiri adalah dirimu sendiri! You are your best friend. Itulah kenapa banyak orang yang bisa merasa sepi di tengah keramaian—bahkan ketika dikelilingi banyak teman.
Yesterday was a greeeat day. Because i was alone and I didn’t even feel lonely.
Dan kemarin juga saya tahu,
I’m ready for my new life.

Thanks for giving me such a perfect high school life :D we gotta go our own way right?

malam tutup tahun--lucu lucu ya kostumnyaa? ;p

wisuda--perfect small class ♥

Good day everyone!
;D
(Menutup catatan kecil ini dengan masih penasaran, ular oh ular, ular apakah yang kemarin tiba-tiba muncul dan lalu hilang tanpa pernah muncul lagi? Diameter 10 cm Panjang 2 meter. Nggak mungkin kan ular sawah bentuknya kayak gitu?? )

Wednesday, June 17, 2009

Ganyang Malaysia? Krik Krik.

Setiap hari nonton televisi yang beritanya melulu tentang konflik Indonesia-Malaysia lama-lama bikin bĂȘte juga.
Bete dengan berbagai macam alasan ya, selain karena bosan dengan berita yang itu-itu melulu enggak selesai-selesai, atau alasan kodian semacam geram gara-gara merasa dibodohi sama Malaysia, tapi juga bete gara-gara saya baru sadar inilah waktu buat kita untuk aware.
Maksud saya, Malaysia colong sana colong sini itu bukan tanpa alasan kan? Oke deh, mereka mungkin emang butuh sesuatu untuk dibanggakan tapi...
Catat ini, pasti mereka merasa lebih punya hak untuk ’ngepek’.
Contoh aja, untuk hal-hal sesimpel bunga bangkai yang mereka jadikan icon dan bahkan dimasukkan ke iklan Malaysia Truly Asia-nya mereka itu. Saya lihat sendiri iklan itu dengan mata kepala sendiri. Padahal kita semua tahu, bunga bangkai itu yang menemukan adalah mas Raffles yang gubernur jenderal Inggris itu, di Bengkulu.
Satu yang kita harus catat, kita enggak pernah bikin iklan Indonesia Very Truly Asia—or whatever—dengan icon bangkai.
Ya, kita keduluan.
Begitu juga yang terjadi dengan batik. See, pagelaran batik yang diramaikan para artis baru deh ramai setelah huru-hara batik direbut malaysia.
Ngik. Telat lagi...
Mau tahu alasan mengapa Pulau Sipadan-Ligitan akhirnya dengan sukses diambil malaysia?
Mahkamah Internasional menyatakan, banyak orang Malaysia yang tinggal di sana, it means di saat yang sama, Malaysia lebih memanfaatkan pulau Sipadan-Ligitan daripada pemiliknya sendiri—ya kita ini.
Tahu tidak, waktu penduduk di perbatasan Ambalat sana ditanyai tentang betapa hotnya hubungan Indonesia-Malaysia ini, mereka mengaku keadaan di sana tenang-tenang saja. Mereka bahkan percaya tidak mungkin akan ada perang, dan akan sangat sedih kalau benar-benar kejadian. Soalnya, hasil pertanian mereka hampir sebagian besar dijual ke Malaysia. Tuh kan, yang disana stay cool kok kita stay hot? Hehe.
Saya bukannya membela Malaysia, cuman saya sebal saja kalau solusi yang diambil terus sok-sokan nantangin perang. Kayaknya masih ada cara yang lebih smart dan berkelas deh. Menurut saya ini jadi kayak anak SMA tawuran gara-gara alasan klise dan krik krik banget : harga diri.
Karena saya pikir, persoalan ini ya Cuma kayak geng-geng cowok SMA yang punya musuh bebuyutan gara-gara dendam yang menurun dari generasi ke generasi. Iya kan, Indonesia kan yang menyulut sendiri slogan Ganyang Malaysia itu pas jamannya Bung Karno—yang kata guru Sejarah saya cuma cara bung Karno untuk mengalihkan perhatian masyarakat Indonesia dari masalah ekonomi yang enggak bisa dia selesaikan, entahlah, i dont know much about history, so i wont talk more lol.
Saya tidak tahu apakah dengan menang perang, harga diri kita akan naik lagi atau bagaimana. Yang jelas, kita semua tahu, Amerika Serikat sudah menang perang, dan—yeah—kita malah semakin sebal dengan tingkah congkak itu.
Untuk masalah se-complicated Amerika-Irak saja, perang masih tidak menyelesaikan apapun.
Mungkin dunia akan ketawa kalau dengar Indonesia-Malaysia perang gara-gara Manohara Odelia Pinot lol.
Karena saya selalu yakin, perang nggak akan menyelesaikan apapun.
Selalu ada beribu jalan menuju Roma. Daripada kita misuh-misuh dan mengacung-acungkan bendera perang, kayaknya lebih baik kita belajar menghargai negara kita sendiri dulu deh. Semua kan dimulai dari diri sendiri 
Ayo ayo kita berbuat hal-hal yang baik untuk negara kita. Jangan sampai keduluan lagi, jangan sampai kita baru protes setelah semuanya terlambat. Setidaknya, saya merasa bersyukur ada kejadian seperti ini karena membuat kita semua mendadak jadi nasionalis.
Mungkin kita akan merasa harga diri jadi naik setelah menang perang, tapi belum tentu yang lain akan melihat kita seperti itu juga, Ya kan?
Lagian, kayak kalau perang pasti menang aja deh, huehehehe.

Mau membangkitkan semangat nasionalis? Klik this site:
www.dontvisitindon2008.blogspot.com
Ini blog yang isinya menjelek-jelekkan Indonesia. Dan kayaknya better kalau kita hanya baca saja blog ini dan nggak usah menanggapinya, apalagi pake misuh-misuh. Dibaca saja, mungkin kita jadi bisa instropeksi, kenapa Indonesia bisa jadi kayak gitu atau setidaknya membuat orang lain berpikiran kayak gitu.

Saya sangat cinta negara saya :)

Tuesday, June 9, 2009

Present For Future

Saya punya cerita tentang wrapping and gift shop.
Jadi ceritanya, kemarin saya pergi ke Kado Kita Sagan, mencari kotak kado untuk kado ulang tahun buat si pacar. Dan saya tiba-tiba mikir saja, kalo atmosfer toko ini ternyata lucu sekali.
Ada yang sadar nggak sih, kalo sebuah
Gift Shop itu adalah toko yang penuh cinta? Maksud saya, kamu bisa melihat banyak orang datang di sini, dengan berbagai alasan mereka masing-masing, tapi dengan satu tujuan yang sama: giving others a happiness.
Kamu bahkan bisa membuat ceritamu sendiri di toko ini, mulai dari menyatakan cinta, jadian, merayakan hari jadi, lamaran, dan menikah, punya anak, lalu
finally sampai bingkisan berbela sungkawa-pun ada di sini.
(terdengar seperti iklan Kado Kita, hmm,
they have to pay me for this word :p)

Bahkan ketika sedang antre untuk beli pita kado, dalam 15 menit saya menemukan 2 kejadian lucu:

Case satu:
Seorang ibu-ibu dengan suaminya:
Mas, ini kotaknya muat nggak ya, soalnya si Ardi (yah sebut saja begitu) mintanya yang ukuran 25x25... (si suami manggut-manggut mengiyakan)
Terus perhatian si ibu langsung dialihkan ke mbak-mbak pegawai:
Mbak, mbak, ini bingkisannya bisa jadi besok nggak? Yah, jelek-jeleknya besok siang deh... tolong dong mbak..
Wah,bu, iya deh bu kami usahakan sebisa mungkin besok pagi bisa jadi...
Tolong ya mbak, soalnya ini mau buat lamaran anak saya... ini penting banget mbak, anak saya mau merit, kasihan mbak... Ntar kalau nggak jadi nikah gimana mbak? Mbaknya emang mau tanggung jawab hayo? Tolong ya mbak... please...
(Si mbak Cuma garuk-garuk kepala speechless)

Case dua:
Di meja seberang dua orang cewek usia
twenty-something sedang cekikikan menatap kado mereka yang sedang sibuk dihias oleh si pegawai. Mulanya saya biasa saja ya—secara saya juga sedang bete banget, masak cuman mau beli pita 2 meter aja harus nunggu lama sekali—tapi saya langsung melek begitu melihat isi kadonya itu:
Ya, bapak dan ibu sekalian serta teman-teman yang berbahagia,
Sepasang stiletto seksi, Lingerie nan menggoda, dan.... KONDOM.
Serius.
Saya berusaha berpikir ’lurus’ (maksud loh rah? :p), dan akhirnya menemukan penjelasan rasional setelah beberapa menit.
Itu kado pernikahan, Saraaaaah... -_____-
Tapi lucu juga ya, ngena, terus abis itu di dalemnya kita kasih ucapan:
Have a very hot and full of passion first night ya hon. Itulah gunanya kamu menikah. Santai wae... Pergunakan kado kami dengan baik.Trust me, it works.
Love
Nisa dan Tia, your bff :D
Oke. Untuk yang terakhir tadi saya Cuma bercanda.

Lamunan saya terhenti ketika si mbak pegawai—akhirnya—menghampiri saya dan menanyakan keperluan saya, sembari menambahkan kalau mau bungkus kado sekarang sudah tutup dan jadinya pasti baru besok. Saya cuman bisa meringis kuda dengan duka penuh nestapa sambil ngomong, “Mau beli pita 2 meter mbak…”
Mbaknya cuman angguk-angguk sok nyaho, dengan pandangan saya-pikir-mau-bungkus-kado-mbak-tiwas-tak-anggurin-15-menit.
Dan voila, dalam satu menit pita yang saya inginkan ada di tangan saya.
Dasar barbar.

You know what, sampai rumah, waktu saya sudah mau mulai sok bisa mbungkus kado, saya baru menyadari kalo pita yang saya beli itu ternyata membentuk rangkaian tulisan : IT’S A BOY
Ngek.
Padahal kan saya beli pita itu gara-gara kesengsem sama motifnya yang dari jauh terlihat seperti sulur-sulur biru yang terangkai menjadi satu membentuk tali.
Ternyata itu adalah pita untuk kado kelahiran anak.
Pantas tadi ada yang jenisnya kayak gini juga dan warnanya pink, pasti itu versi IT’S A GIRL-nya.
Gebleknya saya.

Anyway, saya jadi kepikiran. Bukan kepikiran tentang hot and full of passion first night yang tadi ya, tapi tentang toko itu.
Saya jadi kepingin punya toko kado. Kayaknya lucu sekali, hahaha.
Mungkin deh,
someday, kalau saya sudah tua dan ingin berekspiremen.
Ah apaan sih rah.
Merit aja belom lo. Gila aja.

Pada akhirnya,
Present not always for Now, karena hadiah menurut saya akan terus diingat sampai besok-besok.
Ya kan?
Tumben saya soswit.

Wednesday, June 3, 2009

Tentang Karinda

Jadi, saya menemukan kejadian lucu hari ini.
Maksud saya, tadi pagi saya menemukan kenyataan bodoh. Begini, kalian tahu kan nama saya, Sarah Karinda. Iya, Karinda.

Begini, tadi pagi, pas sedang kursus nyetir—saya bersumpah akan hati-hati naik motor mulai saat ini, serius, motor-motor itu ternyata kalau dilihat dari mobil SANGAT MENGERIKAN (lebay)—tante-tante yang kebagian giliran les nyetir habis saya, melihat formulir daftar nyetir saya, dan nyeletuk , ”Waaah mbak Sarah tinggal di Manado manaa?” –sekali dengar saya langsung tahu si tante ini orang Manado, logatnya kelihatan banget. Jadi mulai saja sebut dia, TTM (Tante-tante Manado)

Saya: Hah?
TTM: Saya punya banyak teman yang Karinda juga loh
Saya: Hah?
TTM: Loh, mbaknya karinda kan?
Saya: Iya tante.
TTM: Pernah tinggal di Manado?
Saya: menggelengdengantampangmasihenggaknyaho
TTM: Loh? mbaknya asli mana?
Saya: Jogja tante..
TTM: Ayah Ibu?
Saya: Jogja semua tante. Asli jogja. (membayangkan wajah si ayah yang ngomong inggris dengan logat jawa, dan yang tiap pulang kejogja selalu melampiaskan nafsunya dengan sarapan gudeg setiap pagi—saya sampai jengah liat gudeg kalo papa ke jogja—katanya sih gara2 eyang uyut adalah bakul gudeg famous pada zamannya, jadi tiap hari cucunya dicekokin gudeg tiap sarapan dan itu yang membuat papa nggak pernah bosan sama gudeg, dan katanya itu jugalah yang membuat badannya sehat kuat smart karena telor dan ayam setiap hari, padahal sih sekarang perutnya membengkak lol)
TTM: Wah, masaak? Saya pikir orang Manado, KARINDA KAN MARGA MANADO.

Saya cuman bisa meringis dan pulang dengan 2 fakta baru di kepala saya:
Satu, saya baru tahu kalau orang manado punya marga. Saya pikir marga hanya milik batak dan padang.
Dua, saya mulai ngeh kenapa lumayan banyak orang bernama belakang Karinda nge-add saya di facebook.
Masih sedikit surprised dengan kenyataan lucu tentang nama saya, sayapun buka facebook, dan melihat profile Karinda2 itu.
Anda benar saudara-saudara, MANADO semua.
Dan yang paling mengejutkan, saya di-invite sebuah grup bernama : RUKUN KARINDA
Saya speechless. Andai mereka tahu kenapa si ayah dan si mama ngasih saya nama KARINDA:
KaRinDa: Kasih Sayang Ririn dan Danang
(Ririn itu mama saya, dan Danang adalah papa saya)
Fyi, Sarah itu adalah nama sekretaris papa yang katanya cantik banget—ya, saya tahu, papa saya memang kadar kenggatelannya sudah overload.
Jadi, masih dengan sedikit enggak percaya dengan fakta baru ini, pikiran saya jadi terbang kemana-mana.
Bayangkan saja kalau ternyata jodoh saya besok adalah seorang Manado bermarga KARINDA.
”Dengan ini saya nikahkan Wisnu Karinda dengan Sarah Karinda..”
Satu lagi, orang yang bermarga sama boleh menikah nggak sih? Karena saya nggak bisa membayangkan kalau saya dan si Wisnu ini harus mendapat kecaman dari kerabat nenek moyang dan dianggap menodai garis keturunan dan kami harus menjelaskan ke ribuan orang kalau saya bukan orang manado.
”Bapak Ibu, tolong perhatikan, Karinda ini bukan Marga, Karinda ini adalah Kasih Sayang Ririn dan Danang, bapak ibu! KASIH SAYANG RIRIN DAN DANAAANG! Tolooong restui cinta kamii!”
Atau kalau di undangan tertulis begini:
Diharap kehadirannya pada pernikahan anak-anak kami yang tercinta:
Wisnu Karinda (Asli Manado)
&
Sarah Karinda (Bukan Manado)
Oke imajinasi saya mulai liar.
Dan saya mulai takut dengan nama saya.
Bukannya saya bermaksud SARA (SARA Karinda :p), tapi saya benar-benar baru tahu kalau nama KARINDA banyak pengikutnya.
Eh, by the way, seseorang bernama Wisnu Karinda nggak mungkin membaca blog ini kan? Karena demi Tuhan nama Wisnu itu nyantol begitu aja di kepala saya dan kesamaan nama, tempat, serta kejadian bukan suatu kesengajaan melainkan hanya fiktif belaka.

Beneran.