Tuesday, May 28, 2013

Layang- Layang #3

read the previous story, "Layang-Layang #1" here, and "Layang-Layang #2" here 2016
“Bim… He cheated on me…” Tissa tiba-tiba muncul di depan pintu apartemen Bima dan langsung menghambur ke pelukannya sambil terisak.
Bima terlonjak kaget. “Fatur?”
“Ya siapa lagi?” jawab Tissa tak jelas sambil masih terisak di dada Bima.
“How come?”
“Kamu bener, Bim.” Gumam Tissa di antara sela tangisnya. “Long distance relationship sucks. Bullshit.”
Sambil memeluk Tissa dan menenangkan gadis ini, Bima kembali teringat bagaimana Tissa yang dari dulu Bima kenal sebagai cewek yang “easy-going” dan “ramah” sama cowok ini mati-matian mempertahankan hubungannya dengan Fatur, pria yang ditemuinya saat kuliah di Melbourne.
Bagaimana Tissa rela harus LDR karena Fatur memilih untuk melanjutkan kerjanya di Melbourne. Bagaimana Tissa bertahan untuk tidak memperdulikan pria-pria yang bertaburan mendekatinya sepulangnya ia dari Melbourne. Bagaimana Tissa menangis karena perhatian Fatur mulai memudar lama kelamaan.
Namun Tissa tetap bertahan. “Gara-gara ketemu Fatur aku bisa settled down, Bim.” kata Tissa waktu itu. “He changes me into someone I thought I will never be. Dan karena itulah aku mempertahankannya. Cuma dia satu-satunya laki-laki yang bisa merubah aku.”
Tissa masih terisak di dadanya. Menangis tersedu-sedu. Sendu.
“Tissa, kamu terlalu lama menangis di dadaku. Masih tak bisakah kamu mendengar debar jantungku saat ini?” Bima membatin.
Those heartbeats.
Debar yang hanya muncul ketika Tissa ada di dekatnya.

2017
“Untuk Tissa dan Bima… 27 tahun, dan jomblo. And we’re proud of it!” Tissa dan Bima bersulang dengan kaleng coca cola di tangan mereka.
“Kita nggak modal amat. Toast aja pake coca cola. Yang keren dikit sih, Bim. Beer kek gitu. Wine kek gitu.” Tissa berkata sambil terbahak lalu ia menenggak coca colanya.
“Ini jam 8 pagi dan kamu mau minum alkohol, Tiss?”
“Ya nggak papa. Kan bule.” Jawab Tissa sekenanya.
Bima terkekeh. Menatap Tissa yang sedang menatap lurus ke depan.
Ke arah laut.
Ke arah ombak yang bergulung dengan indahnya.
“Eh… layang-layang, Bim!” Tissa menunjuk segerombolan anak-anak yang tengah berlari di pantai sambil bermain layang-layang. “Aaa, mau banget main itu!!”
“Aku inget banget dulu waktu kecil kamu paling ogah diajak main layang-layang.” Ujar Bima. “Katanya takut item. Anak kecil umur 5 tahun aja udah takut item. Centil amat kamu dulu.”
“Bangke!” Tissa memukul pundak Bima spontan.
“Hahaha. Iya iya tuan putri… Aku beliin dulu ya layang-layangnya.” Bima berdiri dan beranjak menuju penjual layang-layang yang banyak mangkal di sekitar pantai.
Tissa menatap punggung Bima yang tengah berlari.
“Kalau ini cinta, mengapa rasanya bisa semenakutkan ini?” Tissa membatin perih.
“Tissaaa! Ayoo sinii!” Bima berteriak dari kejauhan. Layang-layang yang ia pegang perlahan terbang.
Tissa berlari sambil menyungging senyum lebar. Berlari menuju Bima. Berlari menuju debar jantung yang selalu malas ia definisikan maknanya.
Tidakkah kamu merasa hubungan kita seperti layang-layang ini, Bim? Kita terbang mengikuti angin, menikmati angin. Dan kita selalu membiarkannya seperti itu. Karena kita takut, ketika kita menariknya terlalu kencang, kita akan putus. Dan ketika kita melonggarkan talinya, maka kita jatuh.
Masalahnya… sampai kemana angin akan membawa kita, Bim?

***

2018
From: Tissa
Fatur ngajak balikan Bim... What should I do?

Pesan singkat dari Tissa seakan membolak-balik dunia yang sedang dipijak Bima. Tanpa pikir panjang, Bima langsung memutar balik mobilnya dan menuju apartemen Tissa.
Damn Tissa!
Siapkah aku kehilanganmu lagi?

***

“Kamu mau balikan sama Fatur, Tiss?” Bima langsung mencecar Tissa dengan pertanyaan sesampainya ia di apartemen Tissa. Ia bahkan tidak duduk terlebih dahulu.
Tissa terkejut dengan kedatangan Bima yang mendadak. “Eh…”
Bima terduduk di sofa. Nafasnya tersengal karena berlari dari parkiran mobil.
Tissa terdiam menatap Bima yang panik. Tidak perlu ditanya terlebih dahulu, sebenarnya Tissa sudah tahu dan maklum akan respon berlebihan Bima ini.
Toh, selama ini mereka sebenarnya sudah sama-sama tahu. Hanya saja saat ini mereka memilih untuk pura-pura tidak tahu.
“Is it okay for you, Bim?” akhirnya Tissa memecah keheningan.
Bima memandang Tissa lemah. Ia melonggarkan dasinya. Sungguh ia panik, ini terlalu tiba-tiba.
“No, Tiss. It is not.” akhirnya Bima menjawab perlahan. Pertahanannya runtuh.
Tissa menghela nafas dalam. “Bima, what happened to us?”
“Aku nggak tahu, Tiss. Sampai kapan kita mau seperti ini? Menahan perih ketika salah satu pergi, hanya untuk memastikan apakah nanti ia akan kembali atau tidak?”
“Aku selalu sayang sama kamu, Bim. Aku tahu kamu itu.”
“Dan aku juga selalu sayang sama kamu ,Tissa. Semenjak kamu ngambek sama aku waktu kamu nggak mau main layang-layang sama aku.”
Tissa terdiam, ia menggigit bibirnya. Akhirnya saat-saat yang paling ia takutkan datang.
“Can we make it, Tiss? Aku nggak sanggup lihat kamu balikan sama Fatur. Aku nggak sanggup kehilangan kamu… lagi.”
Tissa menggenggam tangan Bima erat. “Bima, aku sudah mengalami berkali-kali kisah cinta yang gagal. Dan menangisi semuanya. Aku payah dalam cinta, Bim. Kamu tahu itu.” Tissa menjawab, ia menahan isaknya. “I don’t wanna ruin this with you. This is too scary. Because I love you too much.”
“Aku juga takut, Tiss. Tapi aku lebih takut lagi kalau harus kehilangan kamu sekali lagi.”
“Mungkin pertanyaannya harus kamu ganti, Bim. Siapkah kamu bersama aku setelah ini? Karena, you know what, kita bersama setelah ini akan lebih menakutkan daripada kita kehilangan satu sama lain.”
Bima memandang Tissa. Mereka berpandangan lama. Lama sekali. Seakan-akan mata mereka bisa berbicara.
“Let’s take the risk, Tiss.” akhirnya Bima menjawab. “Ayo kendalikan layang-layang kita, berdua.”
“Bagaimana jika putus? Bagaimana jika ia jatuh?”
“Setelah yang kita lalui bertahun-tahun ini, aku percaya kita selalu bisa menyambungnya dengan benang lagi, dan memperbaikinya jika memang harus jatuh.”
“Kok mendadak kamu bijak? Hahaha.” Tissa terbahak.
“Hahaha. Yang aku tahu, aku nggak mau kamu pergi lagi, Tiss. There’s no guarantee in every love story. So… let’s take the risk. High risk, high return, dan bersama kamu, aku tahu kamu adalah resiko yang layak diperjuangkan.”
Tissa tersenyum. “I love you.”
“I love you too, Tissa.”
Bagi Bima dan Tissa, butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa mereka memang harus bersama. Butuh waktu bertahun-tahun untuk sadar bahwa sampai kapanpun mereka menunggu, tetap tidak akan ada yang tahu pasti apakah mereka nantinya akan berjodoh atau tidak.
Layang-layang memang bisa putus jika ditarik terlalu kencang. Bisa juga jatuh jika benangnya terlalu longgar. Namun mereka tidak bisa bergantung selamanya pada angin. Toh, layang-layang mereka tidak akan terbang indah jika mereka hanya mengikuti angin. Kadang butuh ditarik, kadang butuh dilepas sejenak.
Jadi… siapakah layang-layangmu?

Monday, May 27, 2013

Cheater 2


Nadia

Saya terbangun dengan mata bengkak dan berat seperti digantungi beban berkilo-kilo. Hati saya masih sesak, saya masih ingin menangis, tapi rasanya saya sudah tidak punya daya lagi untuk menangis.
Saya sangat sayang kamu, Wisnu. Don’t you realize it? What’s wrong with us? What’s wrong with me? Aku melakukan segalanya untuk mempertahankan hubungan kita. Aku berusaha untuk selalu sempurna demi kamu, untuk selalu menjadi hebat, cantik, dan luar biasa. Dan aku berhasil. Tapi kenapa? Kenapa kamu harus melakukan ini ke aku?
Can we save this relationship? Tell me, Wisnu. Tell me.
Wisnu, are you the one?

Wisnu

What am I supposed to do?
Saya sangat sayang Nadia, dia segalanya yang saya inginkan dalam hidup ini. Cantik, penyayang, dan sangat mengerti saya, luar dalam. I'm the luckiest guy on earth. Everything goes well. Dua tahun berpacaran, maka saya pun tak ragu lagi untuk menikahi wanita indah ini.
Sampai kemudian segalanya mulai berubah. Perlahan-lahan, mereduksi segala kasih sayang yang ada di hati.
Saya masih sayang Nadia, dan Nadia, saya tahu juga masih menyayangi saya. Tapi entahlah, kadang sesuatu memang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Mendadak jarak menjadi masalah. Mendadak waktu menjadi alasan. Dan menurut saya, ketika kami telah menemukan alasan, lalu apa gunanya cinta? Bukankah cinta tidak membutuhkan alasan?
Saya menatap layar ponsel saya. Mencoba memahami alasan dibalik menghilangnya dia dari pintu rumah kami setelah pertengkaran hebat kami semalam. Dan tak kembali lagi sampai saat ini.
She knows, Wisnu. Off course, she knows.
Tapi saya tidak berselingkuh! Saya cuma jalan sama Dwina, sekali!
Go ask yourself, are you cheating.
Define cheating!
Kamu merasa bersalah?
Iya.
Then you’re cheating.

***
Wisnu – Nadia

Kadang-kadang, ada hal yang memang tidak bisa terselesaikan. Atau selesai, tapi cara satu-satunya adalah dengan berhenti mencoba menyelesaikannya. Itulah yang membuat saya dan Nadia sepakat untuk tidak melanjutkan hubungan ini.
Kami berhenti mencoba menyelesaikannya.
But breaking up is never easy, bagi siapapun. Jalan setiap orang untuk akhirnya find out who’s the best juga bermacam-macam. Mungkin, bagi saya dan Nadia, butuh Dwina untuk menyadari bahwa kami tidak diciptakan untuk satu sama lain.
Kami sadar bahwa masalahnya ada di kami berdua. Dwina sama sekali tidak ikut andil dalam semua ini. Justru kami seharusnya berterimakasih pada Dwina, karena dialah kami sadar kalau kami tidak berjodoh.


Dwina – Nadia

Jadi sudah pacaran dua tahun ya, kalian?
Iya.
Sedih?
Menurut kamu?
Menurut saya kamu tidak sedih.
Define sedih.
You’re upset. Tapi enggak sedih. Ada batas yang sangat tipis antara menyadari bahwa kamu kehilangan orang yang kamu cintai, dan menyadari bahwa selama ini pilihan kamu salah.
Benar juga.
Kita dan ego kita. Mengakui sebuah kesalahan adalah hal yang tersulit. Apalagi jika selama ini kamu sudah berusaha membohongi dirimu sendiri bahwa kamu benar.
Dan sayangnya… tepat. Aku salah memilih.
Yup.
Sori, tapu tidakkah kamu ingin meminta maaf padaku?
For what? I safe you.
Do you love Wisnu?
Belum tahu.
I think he loves you.
Saya tidak ingin dia bersama saya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa meninggalkanmu adalah keputusan tepat. Saya tidak ingin saya bersama dia untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya bukanlah penyebab kalian berpisah.
Kamu dari dulu memang unpredictable. Hmm, anyway, ini baju yang akan kamu pakai untuk pagelaranku minggu depan.
Tujuh baju? Keterlaluan kamu, model lain cuma dapat jatah tiga, bayarannya sama lagi!
Anggap saja ini hukuman karena kamu nggak mau minta maaf.
Hahaha. Deal. :)

Sunday, May 26, 2013

Cheater

Wisnu

Jadi laki-laki itu harus tegas. Berkali-berkali ibu selalu mengatakan itu kepada saya. Nggak boleh plin-plan. Iya ya iya, enggak ya enggak. Jangan di tengah-tengah.
Umur saya sudah 29 tahun, jadi saya sudah mengerti benar definisi dari kalimat itu. Dan betapa dalamnya makna yang ada dari kalimat sesingkat itu. Pun ibu saya memang cerdas sekali, kalimat yang kata ibu harus menjadi pedoman saya selama hidup itu memang tokcer membuat hidup saya menjadi lebih mulus. Baik pendidikan, karir, percintaan.
Eitss…. Tunggu sebentar. Percintaan?
Percintaan saya tidak mulus-mulus amat.
Iya sih, saya memang tengah menjalin asmara dengan Nadia, fashion designer, cantik, menarik, dengan senyum lesung pipitnya yang mampu menarik hati semua pria yang ada di dunia ini dan idealismenya untuk membuat baju-baju yang chic dan tetap seksi tanpa perlu menunjukkan bagian tubuh.
Hubungan kita sudah berjalan kira-kira dua tahun.
I’m about to purpose her, dan rencana saya untuk survey pesta pernikahan dengan nekat sendirian datang ke pesta pernikahan—biasanya kemana-mana saya selalu mengajak Nadia, tapi berhubung saya sedang survey acara pesta pernikahan makanya kali itu saya sendirian—tiba-tiba membuat semuanya malah jadi kacau balau.
Menurut saya sih pestanya terlalu meriah, jadi saya mencoret model pernikahan seperti itu dari daftar saya dan memilih untuk keluar sejenak dan merokok.
Dan kamu harus tahu, keputusan untuk keluar sejenak dan merokok itu merupakan keputusan yang paling saya sesali sampai saat ini.
Karena entah bagaimana Tuhan merencanakannya, semesta menakdirkan saya untuk bertemu dengan Dwina.
Perempuan yang wajahnya sampai saat ini tidak pernah bisa lepas dari kepala saya.
Dammit.
Wajah cewek itu nggak pernah bisa lepas dari kepala saya. Jadi kamu tahu, ketika akhirnya saya memutuskan untuk bertemu dengannya lagi, saya berdoa kepada Tuhan, berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga semua ini cuma gara-gara rasa penasaran keparat. Dan semoga saya ilfil karena dia ternyata punya bulu ketek nggak dicukur, atau gigi berjigong, atau bahwa ternyata dia adalah wanita lacur yang kerjanya cuma ngabisin duit orang tua.
Tapi enggak, doa saya enggak dikabulkan Tuhan. Justru sebaliknya, gigi Dwina malah menghasilkan senyum manis yang unforgettable, atau fakta bahwa dia gadis biasa yang super menyenangkan.
Tidak seperti Nadia, Dwina is so usual. Dia seperti gadis kantoran kebanyakan yang suka mengomel tentang bosnya, dan obsesinya untuk menjadi kurus tapi nggak pernah bisa mengurangi nafsu makannya.
Saat-saat dimana saya merasa harus melamar Nadia malah berbalik menjadi saat-saat dimana saya mulai meragukan cinta saya kepada Nadia.
Ini akan mudah ketika saya masih berumur 20 tahun, tapi, heey, saya sudah 29 tahun. Mau gimana juga saya nggak bisa seenak jidat memutuskan.
For God’s sake. Nadia adalah gadis tanpa cela idaman setiap laki-laki. Saya enggak punya alasan untuk enggak mencintainya.
Tapi, Dwina… Dwina juga nggak pernah bisa lepas dari kepala saya!
Saya sangat takut menghubungi Dwina lagi. Saya takut perasaan saya malah semakin menjadi dan saya semakin kebingungan, padahal, seperti kata Ibu, jadi laki-laki itu harus tegas.
3 hari, saya ketakutan dengan perasaan saya.
3 hari, saya lewati tanpa menghubungi Dwina, maupun Nadia.
Ponsel saya berkedip. Nadia.

From: Nadia
Subject: Hon, sibuk banget ya 3 hari ini? I miss you :(

Saya menjambak rambut saya sendiri.
I miss you too… Dwina.
NAH TUH KAN??? Bahkan dalam hati saja saya bilang saya kangen Dwina.
Saya selingkuh ya? Kalian jangan ngeliatin saya kayak gitu dong! Nggak tahu apa saya lagi ketakutan gini!

***

Nadia

Living with Wisnu will be awesome, we're gonna buy a little house, having two kids, boy and girl, and we're gonna spend our time playing with them both.
That's heaven.
Setidaknya hal itulah yang awalnya saya pikirkan. Sederhana, indah, menakjubkan. Namun, siapa sangka akhirnya ternyata saya berakhir menyedihkan di kamar hotel ini sendirian?

Wisnu Calling.....
Reject.
Wisnu Calling....
Reject.
You received 1 new message.

From: Wisnu
Hon, kamu dimana? Jangan bikin aku khawatir gini, kabarin dong hon...
Deleting message.

From: Wisnu
NADIA, BALES SMS AKU!!

Saya mematikan ponsel, segera, dan memutuskan untuk tidur, dengan mata yang sembab dan sudah pegal gara-gara kebanyakan menangis. Memeluk guling dengan hati teriris.
Hal terakhir yang saya inginkan adalah memimpikan Wisnu malam ini, iya, Wisnu, the guy (I thought) will be the center of my life. The only guy I want to be with at the rest of my life.
Please, biarkan saya tidur nyenyak malam ini, jangan datang ke mimpi saya. Please.

Wisnu

From: Dwina
Subject: Just asking, free for tonight? Me want Coto Makassar! :)

Jantung saya serasa mau keluar dari dada. Setelah seminggu perempuan yang bikin saya mabuk kepayang ini nggak terdengar kabarnya, tiba-tiba ia muncul, dan guess what? Coto Makassar? Kemana kata-kata basa basi nan basi semacam ‘apa kabar?’ ‘lagi ngapain?’
Coto Makassar. How it can be real? Karena Coto Makassar adalah makanan favorit saya. Semua warung Coto Makassar di kota ini sudah pernah saya jabanin, dan saya sampai menciptakan rating ala saya sendiri untuk Coto Makassar.
Nadia sedang duduk di depan saya. Cantik, anggun, dan berkharisma seperti biasanya sambil tangannya sibuk mengusap kertas sketch dengan pensil. Saya nggak pernah begitu paham apa yang sedang ia kerjakan, setahu saya, ada tulisan Night Gown disana. Eh… itu artinya gaun malam kan? Entahlah, di kepala saya sih semua baju wanita itu sama saja. Yang bisa membedakan ya cuma mereka sedang pakai baju atau tidak, hehe.
Been busy for a week, for her next runway, Nadia masih menyempatkan untuk bertemu dengan saya. Kalau tidak atas inisiatif Nadia, mungkin kami berdua adalah terrible couple, sibuk dengan kesibukan masing-masing, bekerja sampai rambut rontok, dengan alasan ini-kan-buat-masa-depan dan malah lupa dengan esensi relationship yang sesungguhnya. Mendalami perasaan satu sama lain.
Tapi yang saya tahu, Nadia memang ada di depan saya. Tapi tidak dengan pikirannya. Menghilang entah kemana. Tenggelam dengan dunianya sendiri: desain, pagelaran, butik, dan lain sebagainya.
What are we supposed to do, when something you called ‘quality time’ has no longer quality?

To: Dwina
Subject: Aku tahu satu warung Coto Makassar terenak. It’s like heaven in your mouth. Aku jemput habis maghrib?

From: Dwina
Subject: Can’t wait :))

Saya menatap Nadia yang berada di depan saya sambil menyeruput jus lemon. “Hon, aku nanti malem mau pergi makan Coto sama temen aku, cewek. Is it okay kan?”
Nadia membalas tatapan saya dengan senyum lesung pipitnya yang khas. “Kenapa enggak? Sejak kapan aku melarang-larang kamu?”
Saya pernah membaca artikel tentang batasan selingkuh yang berbeda antara wanita dan pria di sebuah majalah wanita milik teman kantor saya. Waktu itu saya ngetawain habis-habisan artikel itu dan teman saya langsung ngomel betapa pria itu nggak sensitif banget perkara beginian.
Intinya, kalau melihat kriteria dari majalah itu, maka menurut pria, apa yang saya lakukan ini tidak termasuk kategori selingkuh. Saya tidak menggoda dia, saya tidak melakukan hal-hal menjurus, saya bahkan meminta izin pada pacar saya sebelumnya.
Sayangnya, si penulis artikel mungkin tidak tahu bahwa ada faktor ‘kedalaman-perasaan’ dalam artikelnya. Yang berarti walaupun kamu nggak ngapa-ngapain-pun kalo kamu punya perasaan yang dalam kepada orang lain, maka kamu harus mengakui bahwa kamu berselingkuh.
Dan dengan sepenuh hati, I have to admit that I do cheating just right now.
Yes, I’m a jerk. A dammit cheater guy.

To be continued..

Saturday, May 25, 2013

Adegan Kalbu

Kadang, pelajaran hidup terbaik justru kamu dapatkan dari potongan-potongan dialog dari adegan di serial atau film favorit kamu. Saya menyebutnya Adegan Kalbu.
Mine are: Friends, How I Met Your Mother, and Bones. Semuanya TV series.

(1)
Booth: Well, it means, Bones, that, you know, you could love a lot of people in this world, but there’s only one person that you love the most.
Brennan: Well, how do you know which person you love the most when you’re confused by chemical messages traveling throughout your limbic system?
Booth: You just do.

Brennan: What if you let that person get away?
Booth: That person’s not going anywhere

(Booth & Brennan - Bones)

(2)
Ted: Okay, I’m going to say something out loud that I’ve been doing a pretty good job of not saying out loud lately. What you and Tony have, what I thought for a second you and I had, what I know that Marshall and Lily have, I want that. I do. I keep waiting for it to happen. I’m waiting for it to happen. I guess I’m just tired of waiting. And that is all I’m going to say on that subject.
Stella: I know that you’re tired of waiting. And you might have to wait a little while more but, she’s on her way, Ted. And she’s getting here as fast as she can. 

(Stella & Ted - How I Met Your Mother)

(3)
Chandler: Phoebe thinks you and Don are soul mates, and I don’t believe in that kind of stuff. But then you two totally get along. So look, I won’t stand in your way if you want to run off with Don and live in a house of cheese.
Monica: Chandler, you don’t believe in soul mates?
Chandler: No. But I’m sure (mimics Don) ‘tomatoes’ does.
Monica: I don’t believe in soul mates either.
Chandler: You don’t?
Monica: No. I don’t think that you and I were destined to end up together. I think that we fell in love and work hard at our relationship. Some days we work really hard.
Chandler: So you…you don’t want to live with Don in a cheese house?
Monica: No, I’ve had second thoughts about that. Do you realize how hard that would be to clean?
Chandler: I love you.
Monica: I know.

(Monica & Chandler - Friends)

Apa potongan dialog film favorit kamu?

Friday, May 24, 2013

A Trip Towards You


Kapan terakhir kali kamu merasa sangat gamang dengan hidupmu sendiri?
Gamang dalam artian kamu seakan-akan tidak punya tujuan hidup. Tidak punya tempat pulang. Tidak punya keinginan.
Bagiku, saat itu adalah sekarang.

***

Breaking up is never easy. Bagi siapapun.
Aku udah lelah dengan kata-kata ingin move on. Iya, aku tahu, aku harus move on. Harus dan tidak boleh tidak. Move on itu yang terbaik, kalau nggak move on bagaimana aku bisa melanjutkan hidup?
Iya aku tahu.
Hanya saja, itu sangat sulit untuk dilakukan. I can’t handle the pain.
So… ketika aku menempuh perjalanan 512 km untuk bertemu dia, boleh kan?
Tujuannya apa?
Nggak ada. Aku bahkan nggak tahu apa tujuannya.
Untuk memohon-mohon agar mendapatkannya kembali? No. Untuk marah-marah dan memaki-maki? No.
Kan dari awal aku sudah bilang, hidupku sedang tidak ada tujuannya.
Sesederhana itu.
Jadi saat ini aku sedang terduduk diam di dalam pesawat, memandang awan-awan yang dari jendela terlihat sangat putih, empuk, dan indah.
I wish I could just fly dan menghambur di antara awan-awan itu.
Lalu entah kenapa awan-awan itu tiba-tiba mengingatkan aku kepada dia. Mengingatkanku kepada arum manis warna putih yang ia bawakan ke rumahku ketika aku ngambek saat kita berantem dulu.
Dan air mataku mendadak menetes.
Damn you broken heart. Bisa-bisanya ngeliat awan terus inget mantan pacar. Dari mana asal usulnya coba. Sial.
Tiba-tiba seseorang yang duduk di sampingku menyodorkan tissue-nya ke arahku.
Aku menoleh gagu. Kampret, malunya ampun-ampunan sampai ketauan lagi mewek sama stranger. “Eh… Thanks, mas…” ujarku dengan senyum kaku sambil meraih tissue yang ia serahkan.
“Sama-sama.” Ujarnya sambil tersenyum.
Sepersekian detik aku berharap kisah ini akan jadi romantis, ternyata mas-mas ini adalah jodohku, dan dia ternyata orangnya asyik banget diajak ngobrol, kemudian kami bertukar nomer handphone, yang dilanjutkan oleh pertemuan-pertemuan romantis setelah itu.
Namun yang ada ternyata mas-mas ini kembali melanjutkan membaca buku dan memasang headset di telinganya seperti nggak ada kejadian apa-apa sebelumnya.
Aku yang tadinya berniat mengajaknya ngobrol langsung kesal melihat sikapnya yang lempeng bin arogan seperti ini.
Huh! Laki-laki dimana-mana sama aja ya!

***

Pesawat mendarat, aku berniat mengambil tasku di bagasi atas. “Mas,  misi, mau ambil tas.”
Laki-laki itu menyilakan aku lewat, masih dengan ekspresinya yang super datar. Lama-lama aku merasa jangan-jangan tadi dia nawarin aku tissue gara-gara dia pikir aku pilek apa ya.
Tak berapa lama ia ikut berdiri mengantri keluar, kemudian ia menoleh sejenak ke arahku.
“Davin.” Tukasnya pendek sambil mengulurkan tangan kepadaku.
Cuma orang gila yang ngajak kenalan di dalam antrian penumpang pesawat yang dempet-dempetan penuh sesak seperti ini.
Aku untuk kedua kalinya meringis gagu. “Maya.” Jawabku pendek.
“Ini kartu nama saya, tolong nanti kalau mau, mbak hubungi saya ya.” Dia kembali berbicara sambil mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
Aku menerimanya sambil menatap si Davin ini dengan ekspresi bengong kuadrat. Orang aneh. Ini laki jangan-jangan mau nawarin MLM apa ya?
Belum sempat aku menjawab, antrian sudah lengang, dan kami semua berjalan keluar pesawat, masuk lagi menuju bandara.
Aku pikir ia akan mengajakku ngobrol lagi, tapi ternyata ia justru berjalan cepat mendahuluiku dan sibuk dengan telepon genggamnya. Totally melupakan aku yang beberapa menit yang lalu ia tawari kartu nama.
Sambil berjalan menuju pintu keluar bandara, aku mengenggam kartu namanya erat. “Orang aneh.” Batinku dalam hati.
Namun aku tidak begitu lama memikirkan Davin-Davin aneh ini. Jalan menuju pintu keluar bandara ini mengalihkan kenanganku lagi.
Aku masih ingat bagaimana aku selalu antusias melewati lorong bandara ini. Karena artinya dalam beberapa menit aku akan bertemu dia. Dia yang biasanya sudah menjemput dan menungguku di luar dengan senyum merekah.
It feels so weird to know how good memories can left you so much pain.
Meninggalkan lubang yang sangat perih di dada.
Meninggalkan luka.
Bandara Soekarno-Hatta, belum pernah aku melihat tempat ini dengan perasaan semenyakitkan ini.

To be continued…