Showing posts with label #Random. Show all posts
Showing posts with label #Random. Show all posts

Friday, May 8, 2020

Kehilangan, Angka-Angka, dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Terjawab

Jadi di sinilah saya. Duduk, sendiri, menahan nyeri di perut karena efek samping obat peluruh rahim.

Saya tidak pernah membayangkan, harus ada di posisi ini. Being a miscarriage survivor. Beberapa memberi istilah rainbow mama untuk hal ini. Sudah tiga hari semenjak dokter bilang janin saya nggak berkembang, tapi saya masih saja merasa kosong. Entahlah, sangat aneh rasanya… Bagaimana sesuatu berakhir tanpa penyelesaian? Tanpa penjelasan? I just need a simple closure.

Saya masih ingat jelas detik-detik itu. It’s been 7 weeks, but the baby stopped growing on the 6th week. Detak jantungnya masih ada, tetapi sudah di bawah normal, di situ, saya sudah tahu, saya harus merelakan dia pergi.

Saya tidak begitu nyaman membahas kehidupan pribadi, namun dengan tulisan ini, saya harap bisa berguna untuk perempuan-perempuan di luar sana yang juga mengalami hal yang sama. Karena saya sadar, pengalaman ini, bagi perempuan rasanya sangat… campur aduk. Dan saya tahu, hanya sesama perempuan yang pernah keguguran lah yang mengerti rasanya.

Saya juga mau bilang, bahwa kita nggak sendiri. The physical pain, nggak ada apa-apanya dibanding emotional painnya. Setidaknya, itu yang saya rasakan.

We went home, tapi rumah nggak pernah terasa sekosong itu.

Dan seperti selayaknya perempuan dengan akses teknologi yang bertaburan di sana sini, hal pertama yang saya lakukan setelah itu adalah membaca puluhan artikel-artikel tentang keguguran.

Dua dokter sudah bilang bahwa ini tidak ada hubungannya dengan aktifitas sang Ibu, makanan, ataupun hal-hal yang dilakukan apapun. Dokter juga meyakinkan bahwa saya baik-baik saja, chin up and you can star a new pregnancy plan. This happens to 1 in 5 pregnancies, so you’re just fine.

Yeah, I’m fine.
But I’m not feeling fine.

There is always part of me, yang rasanya ingin menyalahkan diri sendiri. Nggak peduli puluhan artikel bilang bahwa ini bukan gara-gara si Ibu, tapi rasanya ingin sekali nyalahin diri sendiri. Saya pun jadi mencari-cari… WHY? I eat good food, I don’t smoke, I don’t drink alcohol, I consume all medicines and vitamins. Tapi kenapa? Apa yang salah dengan saya?

Sampai sekarang… Sampai Kiara umur 2 tahun pun. Jawaban dari WHY ini nggak ketemu. Dan saya sampai pada titik, mungkin beberapa hal memang nggak perlu ada jawabannya.

Dokter bilang, ini random aja. Kesalahan kromosom yang terjadinya… ya random aja.

Kebayang nggak rasanya? Saya yang terbiasa mencari jawaban, sebab akibat untuk segala hal harus puas dengan jawaban “ya ini random aja” padahal kan ingin sekali ya kita tahu, kenapa bisa kromosomnya salah?

Di suatu malam dimana saya dan suami sama-sama terdiam setelah menerima kabar ini, suami bilang “Mungkin ini cara Tuhan buat ngasih tahu, bahwa dia bisa ngasih dan ngambil hidup ini, begitu saja.”

That’s the closest thing to closure we’ve ever got.
And that’s enough.

17 Juni 2017
*Dipublikasikan hari ini, 8 Mei 2020 dengan penyesuaian secukupnya

Sunday, July 5, 2015

The Headphone Splitter

Rasanya sudah lama sekali sejak saya terakhir menonton sebuah film lalu memutar potongan scene-nya berulang-ulang. Film terakhir yang saya perlakukan dengan barbar seperti itu adalah 27 Dresses-nya Katherine Heigl. Adegannya tentu saja adegan saat Jane (Katherine Heigl) menyatakan perasaannya ke Kevin (James Marsden) di sebuah boat saat pesta pernikahan sahabat Jane.

Adegan itu saya putar berulang-ulang, karena saya begitu terpana dengan ekspresi Kevin yang bikin meleleh dan juga tentu saja karena tak lain tak bukan soundtrack-nya adalah Like a Star-nya Corinne Bailey Rae yang merupakan salah satu lagu kesukaan saya.

Itu terjadi sudah lama sekali. Sekitar 5 tahun yang lalu, ketika saya baru lulus SMA. Semenjak itu saya belum bisa lagi menemukan sebuah film yang bikin saya benar-benar melting dan dengan banalnya memutar tombol rewind berulang kali hanya untuk satu scene yang sama.

Sampai tiga hari yang lalu. Saat saya menonton Begin Again. Sepulang kantor sebelum tidur.

Begin Again, film yang saya tonton dengan ekspektasi biasa-biasa saja ini, sukses bikin saya nggak bisa move on sampai sekarang.

Salah satu scene favorit saya adalah The Headphone Splitter scene, dimana Gretta (Keira Knightley) dan Dan (Mark Ruffalo) jalan-jalan berkeliling NYC dengan headphone di telinga masing-masing dimana kedua headphone itu terhubung ke satu gadget.

“You can tell a lot about a person by what’s on their playlist.” – Dan

And here you go, adegan dream date paling epic yang pernah saya saksikan. Rasanya saya pengen meloncat masuk ke dalam layar saat menonton adegan itu.

Ohya, jika ingin lihat scene luar biasa ini, silakan klik saja link YouTube ini ya. Saya sih saking gilanya sampai download scene ini dan saya masukkan handphone supaya saat tiba-tiba kangen saya bisa langsung nonton di handphone. Iya, panggil saya sinting. Saya nggak peduli.

[SPOILERS BELOW!]

Jadi, di tengah keriuhan New York yang gemerlap itu, mereka berdua seperti ada di dunia mereka sendiri. Kalau Dan bilang playlist seseorang adalah kepribadian orang tersebut maka dengan mendengarkan satu playlist yang sama sebenarnya mereka sedang bertukar kisah, mendengarkan dunia yang sama. Tanpa perlu banyak berkata-kata.

Alat ini, headphone/ earphone splitter, resmi sudah jadi benda paling romantis yang ada di dunia ini. Swear to God.

Ini juga sekaligus menampar saya yang hobi dengerin musik pakai earphone. Ketika di jalan, rasanya dunia memang cuma milik sendiri. Kebisingan jalanan Jakarta, klakson yang berisik nggak terdengar karena saya seperti sedang menari dengan lagu favorit saya. My earphone is a powerful weapon.

Cuma saya nggak pernah kepikiran aja ternyata benda ini bisa jadi romantis parah kalau dipakai ngedate. Sial!

Magisnya film ini nggak cuma tentang headphone splitter scenenya saja. This movie tells you a lot about how to… begin again.
Endingnya dalam banget, ketika Gretta menonton Kevin, (mantan) kekasihnya—yang diperankan si keturunan bidadara Adam Levine *lap iler* —di panggung menyanyikan lagu ciptaannya dan sadar bahwa Kevin yang sekarang sudah bukan yang dulu lagi. Kevin is a star, seorang bintang yang butuh bersinar dan menyukai lampu panggung, and she losts him.

Itu pandangan mata super gila ketika kamu memandang seseorang yang sudah terbang jauh. Dan sadar bahwa keadaan sudah berubah. Face it. No need to take it back.

Atau adegan sewaktu Dan menatap Gretta di subway.
Ini screencapnya:



Bunuh aja adek bang. Bunuh!!

Di The Avengers, karakter kesukaan saya adalah Hulk, itu karena saya suka banget sama tokoh Bruce Banner yang diperankan luar biasa sama Mark Ruffalo. A cute shy guy who turns out genius. A wallflower. Minta dicubit-cubit emesh kan.

Yaudah deh ketika dia memerankan Dan di Begin Again ini saya langsung menyerah angkat tangan sambil mengibarkan bendera putih. The image of an old mature guy (with five o’clock shadow) never fails me. Duh.

Disitu juga perasaan saya dibuat kacau balau ketika melihat bahwa Gretta ternyata nggak berakhir dengan Dan. Malah Dan diceritakan balikan sama istrinya. Padahal saya sudah dibikin jatuh hati mati-matian gegara adegan headphone splitter ini. Saya yang semula nggak melihat mereka sebagai couple, hatinya dibikin pontang-panting, di satu titik pingin mereka get together, satu titik melihat mereka nggak cocok bersama (Dan is too old and he also has a teenage daughter), tapi satu titik sedih banget karena sebenarnya mereka cocok banget, punya hobi dan passion yang sama, yang satu produser musik, yang satu penulis lagu, cute banget. This is very confusing my brain hurts.

Sampai kemudian saya sadar, ya mungkin itu ya maksudnya. Punya passion dan energi yang sama, nggak berarti kalian harus bersama romantically.

Kadang-kadang kamu bertemu orang-orang dengan hobi, passion, kisah, keinginan, visi, dan mimpi yang benar-benar seiring. Rasanya seperti ketemu kembaran. Tapi toh, ternyata hal-hal itu ternyata nggak beririsan dengan cinta. Ah, cinta memang tidak pernah bisa ditebak ya.

Kenyataan memang nggak semudah plot sebuah romantic comedy. Mungkin cinta memang tidak sesederhana itu.

Ah sudahlah. Kenapa jadi kalbu begini ya.

Yang jelas, kesimpulannya:

Dream date:



Killer eyes (harus banget dipost lagi pokoknya):




Aku mau beli headphone splitter. Sekarang.

Wednesday, June 17, 2015

Stalking Diri Sendiri

Pernahkah kamu merasa sangat songong, sehingga kamu tidak sadar kamu sudah menghabiskan satu jam hanya untuk scrolling timeline profil social media-mu sendiri?

Saya pernah. Barusan saja.

Diawali dengan bingung hendak menulis apa untuk hari ke-29 ini, dan saya malah berakhir dengan journey to the past: ngepoin diri sendiri.
Surem.

Itulah anehnya Facebook, rasanya seperti melihat album foto sendiri selama kurang lebih 6 tahun. Dan di sinilah seramnya Twitter, rasanya seperti membaca diary sendiri 4 tahun ke belakang.

As I grew up, makin kesini, saya makin nggak pernah update apapun di kedua social media itu. Satu, saya mulai nggak nyaman kegiatan dan perasaan saya dibuka untuk umum. Kedua, simply saya sudah merasa bosan saja. Gitu aja.

Tapi malam mini, saya melihat ke belakang, dan melihat sendiri betapa banyak momen yang telah saya lalui. Ulang tahun teman, kelulusan, kegiatan di kampus, kumpul UKM, seragam SMA, foto bersama keluarga, dan foto-foto sendiri dari berat 43 sampai 53. Dari bahagia tanpa dosa dan beban saat SMA (43 kilogram) sampai saat patah hati (53 kilogram), hahaha!

Berpindah ke Twitter, saya selalu merasa malu dengan kicauan saya dulu. Itu juga yang membuat saya sekarang hampir enggak pernah update sesuatu di sana. Sederhana, karena beberapa tahun kemudian saya selalu malu dengan apa yang pernah saya tulis.

Hal ini biasa dan manusiawi sih sebenarnya, bedanya, dulu ini semua hanya ada di buku diary saya. Sekarang, jejak digital saya sudah terlanjur terekam di atas sana. Hampir mustahil untuk menghapusnya. So this is actually scary. Bagaimana jika anak saya kelak membaca kelabilan emaknya dulu? (Actually I’m lil bit worried if she/he is gonna read this blog too J)

Tapi anehnya, detik ini, saya menikmati petualangan saya ngepoin diri saya sendiri ini. Mengingat kembali apa yang terjadi saat foto itu diambil, dan tertawa ketika ingat drama-drama di baliknya.



And the most important thing is how I miss them—my best friends. Ada foto-foto ketika liburan di Semarang (saat saya sedang mencoba mengobati patah hati :p), saat menonton festival layang-layang di pantai Parangkusumo, menonton Ramayana Ballet Prambanan dan berfoto dengan turis Jepang dan anak balitanya yang lucu, mengunjungi Bienalle Jogja dan foto-foto sampai sinting, main ke ArtJog, wisata ke Tamansari, sampai liburan dadakan ke pantai-pantai selatan di Jogja saat liburan kuliah.

Ada juga foto di Bandung saat menemani rombongan PSM ikut kejuaraan Paduan Suara di ITB, foto rapat kepanitiaan acara paling nggak efektif di Mister Burger (but I remembered it as the most fun and insane meeting ever), foto saat tutup tahun menjelang lulus SMA, foto-foto buku tahunan….

How time just goes by…

I miss them.
I just miss them.
:’)
  

Monday, June 15, 2015

The It Person

Hari ini saya mendadak teringat dengan salah satu adegan di TV series kesukaan saya, Ghost Whisperer. Disitu diceritakan adegan ketika suami Melinda, Jim, diikuti oleh sesosok hantu wanita yang ternyata adalah mantan model. Hantu wanita itu mengikuti Jim dengan harapan Jim bisa membantunya menyampaikan ‘unfinished business’-nya dengan seseorang.

Yang justru menarik bagi saya bukan cerita bagaimana si hantu model itu bisa menyelesaikan unfinished business itu, tapi adalah alasan mengapa si hantu memilih Jim sebagai messengernya.

Turns out, si hantu ini dulunya adalah teman SD Jim, dan ia bercerita bagaimana dulu hanya Jim-lah satu-satunya yang pernah mengatakan pada dirinya bahwa ia cantik di saat teman-temannya yang lain membully dia.
Satu kalimat dari Jim itu-lah yang menyemangatinya untuk kemudian memoles dan mempercantik diri dan akhirnya bisa menjadi model terkenal. Gara-gara kalimat Jim, ia jadi percaya bahwa ia cantik,

Setelah menonton film itu, saya jadi berpikir, tidakkah kita semua pernah merasakan apa yang dirasakan oleh si hantu?

Kita semua punya ‘it person’. Orang yang kehadirannya di bumi ini mampu mengubah kita seluruhnya. Tidak selalu harus orang penting sih, kadang-kadang mereka adalah orang-orang yang sangat sepele, tapi bertahun-tahun kemudian saat kita melihat ke belakang, kita baru sadar betapa orang tersebut telah mengubah cara pandang hidup kita selamanya.

Mungkin ada yang berubah jadi alim dan sopan hanya setelah melihat anak kecil kecelakaan di depan rumahnya. Ada yang jadi playboy kawakan setelah diputusin pacarnya yang hanya jalan tiga bulan. Banting setir jadi anak band setelah melihat pengamen yang bermain musik demikian piawainya.

Tentunya, yang saya sebutkan di atas hanyalah contoh random.

Tapi… Tidakkah ini benar?

Bukankah kita memiliki seseorang yang bisa bikin kita jadi percaya atau tidak percaya dengan sesuatu selamanya setelah bertemu dengannya?

Dan jika dipikir-pikir lagi… Bagaimana jika kita sendiri juga telah menjadi ‘it person’ bagi orang lain? Bagaimana jika perbuatan atau kata-kata kita ternyata telah mengubah jalan pikir seseorang… Selamanya?
And we don’t even realize it.
Isn’t that scary?



Sometimes we have no idea the effect we can have on other people.
You know, it's things that we forget are turning points for someone else.
(Melinda Gordon – Ghost Whisperer)


Saturday, June 13, 2015

Hal-Hal Tentang Kesehatan


Beberapa minggu sekali, setiap Jumat sore, kantor saya mengadakan sesi sharing kecil-kecilan yang diberi tajuk Mind Snack. Di sesi sharing ini, setiap orang boleh mengundang siapapun tokoh/ praktisi dari bidang apapun untuk bertukar cerita di kantor kami. Semua bidang boleh, asalkan bukan dari Public Relations. Tujuannya sederhana, supaya otak ini nggak jenuh dan buntek karena setiap hari di kantor dan menghadapi hal yang sama terus menerus.
Nah, Jumat lalu sesi Mind Snack di kantor benar-benar membuat saya tersentuh. Kami mengundang beberapa orang dari LovePink—organisasi sosial, semacam support group untuk para penderita kanker payudara. Di sesi itu pula beberapa survivor breast cancer bercerita tentang pengalaman mereka bertarung melawan sel kanker dan bagaimana mereka tetap semangat untuk berbagi dan melakukan hal-hal positif.
Rasanya seperti ditampar di muka. Berkali-kali.
Saya baru sadar, selama ini saya cuek sekali dengan kesehatan. Makan seenaknya. Olahraga nggak pernah—apalagi sejak tinggal di Jakarta. Pola hidup juga nggak jelas, seenaknya sendiri.
Alhamdulillah memang selama ini saya jarang sakit parah. Paling mentok nyeri haid dan batuk pilek. Hal itulah yang bikin saya jadi jumawa. Sombong. Merasa sehat, lalu nggak peduli karena merasa tubuh tidak memberikan tanda-tanda protes.
But, cancer come up with no sign.
Nggak pakai sakit, nggak pakai pusing dan demam. Bisa saja tahu-tahu sudah gawat dan semua sudah terlambat.
Lalu mendengar cerita para survivor cancer itu, saya jadi sadar, kalau saya kenapa-napa, yang sedih bukan hanya saya. Keluarga juga pasti ikut pusing dan sedih.
Dan selanjutnya… Saya jadi mikir… Kalau salah satu anggota keluarga saya kena musibah ini… Apa yang harus saya lakukan?
Semua pikiran-pikiran ini datang berentetan. Gila. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah membayangkan hal-hal seperti ini mungkin terjadi. Terlalu sibuk dengan dunia sendiri sampai lupa kalau orang-orang yang kita sayangi bisa saja suatu saat sakit dan pergi.

Kemarin ini, saya seperti ditampar dan dibangunkan bahwa mau bagaimanapun, kesehatan itu nomor satu.

Cuma membayangkan hal-hal seperti ini saja saya sudah stres sendiri. Maka saya nggak bisa membayangkan perjuangan para survivor cancer yang tetap semangat chemo dan masih mau bersosialisasi bahkan rela sharing pengalaman mereka. Bahkan di saat-saat seperti itu, mereka masih bisa memikirkan orang lain. Salut sekali.

Saya jadi ingat salah satu line paling menyentuh di sesi kemarin:
“If you forgive yourself, you have won 50% of the battle…”



Entah mau apa bentuknya, saya rasa kalimat terakhir itu maknanya sangat dalam. Seperti sebuah mantra untuk segala penyakit. Rasanya sakit hatipun bisa sembuh dengan mantra itu.
To embrace the pain and hug it. Berhenti menyalahkan diri sendiri dan tidak melihat ke belakang.
Bukankah begitu?

Untuk yang ingin tahu lebih banyak tentang LovePink dan bagaimana deteksi dini breast cancer, silakan visit www.lovepinkindonesia.org



Thursday, June 11, 2015

Khotbah Marah

Malam ini adalah malam yang tidak biasa di kamar kos saya. Sehabis membeli nasi goreng depan kos, saya kembali dan mendapati halaman depan rumah ibu kos saya penuh dengan bapak-bapak dan ibu-ibu berpakaian putih-putih.
Oh… rupanya sedang ada semacam pengajian di halaman depan rumah ibu kos saya.

Saya masuk ke kamar dan membuka laptop, berniat menonton salah satu episode Friends sebelum pergi tidur.

“TAPI ITU KAN KEPERCAYAAN MEREKA!! KENAPA KITA HARUS DIAM SAJA???”

Suara keras melengking dari sang ustadz pengajian mengagetkan saya.

Ah, sial, feeling saya benar, this is just another “khotbah marah”
Khotbah marah dengan volume keras menggantikan lantunan ayat suci. Marahnya 70%, ngajinya 30%.

Sebelumnya, sebenarnya saya paling malas jika harus berpendapat, apalagi menulis tentang hal-hal yang sangkut pautnya dengan agama. Kenapa? Karena rasanya kayak ngomong sama tembok. Nggak berguna. Dan lagi, menurut saya agama itu personal sekali. Orang nggak perlu tahu alasan saya, dan saya juga nggak perlu tahu alasan mereka.

Tapi kali ini, saya nggak tahan nggak menulis. Satu, saya kesal karena saya dipaksa mendengarkan orang berteriak marah-marah menggunakan microfon. Kedua, orang itu marah-marah dan berteriak menggunakan sesuatu yang selalu saya anggap sebagai penenang batin. Oxymoron.

Kesal sekali.

Sudah sering sekali saya mendengar ustadz yang khotbah dengan menggunakan nada yang tinggi dan keras. Bahasa-bahasa yang kasar. Kata-kata yang merutuk. Seakan-akan dunia dan akherat ini ya milik mereka. Yang lain cuma ngontrak. *dipikir-pikir bener juga sih, saya kan cuma ngekos T_T*

Saya menyebutnya khotbah marah.

Memangnya tidak sadar ya, kalau kita menyampaikan sesuatu dengan marah, yang mendengar akan ketularan marah, dan marah itu jadi epidemi virus yang menyebar kemana-mana?
Pesan yang tersampaikan itu adalah amarah. Sesuatu yang pondasinya bukan ‘hal ini baik’ tetapi ‘hal itu salah dan aib’—bisa paham kah perbedaannya?

Puas, sudah jadi masyarakat yang penuh marah?
Puas, sudah merecokin orang dengan ancaman dan ketakutan?
Sadar nggak kalau itu berarti pelan-pelan kamu sudah meneror orang lain secara halus?



Bisakah kita menyampaikan sesuatu dengan lembut?
Bisakah kita tidak menilai dan menghakimi?
Bisakah kita tidak menjadi polisi moral?

Sampai mati ya ini akan jadi pertanyaan yang nggak akan bisa dijawab.

Dan mungkin saya bisa menulis berhalaman-halaman hanya tentang hal ini, tapi lalu… apa bedanya saya dengan si bapak oknum ustadz yang lagi marah-marah di depan?

Maka yang bisa saya lakukan hanyalah mengambil headset saya, menyumpalkannya ke telinga dan menyetel lagu-lagunya Corinne Bailey Rae saya dengan volume tinggi. Berharap suaranya bisa menutup polusi suara dari si oknum ustadz.

Sampai marah itu tidak lagi terdengar.
Sampai marah itu tidak bisa lagi mengganggu hati saya.
Dan yang saya bisa dengar hanyalah lantunan melodi-melodi indah.

Tenang Sarah… Percayalah dunia akan baik-baik saja.