Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Monday, June 8, 2015

Rindu Rahasia


Jangan meminta aku untuk kembali.
Tak bisa lagi hatiku kau tinggali.
Aku tak lebih hanyalah sendu.
Yang bersembunyi dalam sebilah rindu.

Kamu ada di depanku. Dengan gaun warna kuning terang. Membuatku semakin dimabuk kepayang.

Malam ini angin laut berhembus kencang sekali. Berulang kali kamu merapikan rambutmu.
Aku menatapmu lamat-lamat berharap kau bisa kembali. Kau menggigil, bibirmu menyunggingkan senyum semu.

Tak berapa lama lalu kamu berdiri. Mengulurkan tanganmu kepadaku. Mengajakku berdansa.

Syubidubidupa… Syurupapap…


Kamu berputar. Tertawa. Rambutmu bergoyang-goyang indah.
Lalu kamu memelukku, menempelkan kepalamu di dadaku. Menikmati hangatku.
Dan akupun. Terdiam merasakan nafasmu di dadaku.
Saling merasa detak jantung masing-masing berdegup.
Deg.
Deg.
Deg.

Seperti inikah rasanya perpisahan?
Ketika waktu berputar perlahan.
Lalu semua adegan-adegan indah yang pernah kita miliki berubah jadi potongan-potongan gambar.
Yang perlahan memudar.

Dan biarkan ini jadi malam terakhir kita. Biarkan ia melarut dengan rindu yang
Hanya satu malam ini. Satu malam terakhir.

Setelah ini kita tak lagi harus menyamar.
Tak jua perlu kita berpura-pura.

Rindu ini tak lagi harus jadi rahasia. Biarkan ia lenyap ditelan ombak. Menguap bersama angin laut.

Jangan kembali padaku.
Kembalilah kepada ia, rumahmu.
Aku tak lebih hanyalah tempat singgah.
Yang tak indah, apalagi megah.


Aku hadir agar kau ingat kembali rasanya ingin pulang.

Friday, June 5, 2015

Lupa yang Tak Bisa

Tolong. Beri aku cara, bagaimana agar aku bisa lupa adamu?
Apakah aku harus menghentak kepala ke tembok sampai berdarah?
Atau aku harus mengejarmu lagi dan tak biarkan kamu pergi?

Adalah kamu yang tak henti mengusik setiap jengkal hatiku.
Menyusup ke setiap sendi tubuh.
Merasuk perlahan ke pikiran.



Malam hari, adalah saat yang paling menakutkan. Ketika kamu muncul dan menghantu. Menjadi ramai di antara hening dan suara jangkrik. Masuk di sela-sela jendela bersama dengan cahaya bulan sabit. Menjadi bayangan dalam gelap malam yang kelam.

Ada kamu dalam pejamku.

Aku kamu paksa merasakan adamu yang tiada.

Tapi kamu seharusnya tahu, cintaku tak peduli dengan waktu. Cintaku segan dengan kenangan. Disimpannya kenangan itu rapat-rapat, baik-baik, hangat, di dalam bilik jantung. Terlelap seperti kucing Persia di dalam sofa bantal.

Aku tak bisa tak ingat gelak tawamu sewaktu kita berdua berjalan berkeliling kota semalam suntuk. Memegang es krim rasa vanilla. Menari di antara cahaya bulan yang menyala.

Kamu dan alis tebalmu. Mata bulat. Rambut ikal pendek. Dan sepatu kets warna turquoise. Si perempuan maha indah.

Dan kecupan singkat di setiap akhir pertemuan kita.

“Lupakan aku. Itu semua masa lalu.”

Namun aku tak jua sanggup lupa. Semakin aku coba lupakan, semakin ingatan tentang kamu masuk ke dalam lubuk. Mencambuk. Merasuk. Takluk.

Sayang,
Ini sudah malam.
Dan aku masih saja akan selalu cinta.

Biarkan aku tidur. Sekali saja tanpa perlu ingat kamu.


Wednesday, June 3, 2015

Mencoba Mendiamkan Diam


Aku tengah mendiamkan diam.

Diam yang bising ini mulai membuatku lelah. Aku ingin rebah. Aku pasrah.
Aku tidak suka diam. Tapi dia terus menerus diam tanpa suara. Membuatku bertanya-tanya. Memaksaku untuk tak percaya. 

Aku sudah katakan sebelumnya, aku ingin suara. Aku ingin teman bicara. Tahukah kamu rasanya cinta tanpa pertanda? Rasanya seperti sedang cinta sendiri.

Di luar begitu ramai. Ramai yang damai. Ramai dimana aku bicara dan berbalas. Dimana aku tersenyum dan dibalas tawa. Dimana aku memeluk dan dibalas dekap. Lalu mengecup dan dibalas dengan cumbu.

Salahkah aku mencari semua keramaian ini?

Aku berlari kesana dan kemari. Mencari balas hari demi hari. Balas yang tak pernah kudapatkan darimu. Suara yang tak pernah kupercaya ada padamu.

Aku menyerah menunggumu bersuara. Rasanya seperti berusaha berbicara tak tentu arah. Bahkan berbicara pada lautpun maka ia akan menjawab dengan debur ombak. Berbicara padamu, sebait bisikpun kudapat tidak.

Maka jika kau sudah bahagia hanya dengan diammu, padaku terjadi sebaliknya.
Diamku ini menyiksa. Aku tak bisa. 

Dan aku pun kembali mencari riuh. Mencara senyum yang dibalas tawa. Mengejar peluk yang dibalas dekap. Mengecup yang dibalas cumbu.

Lalu aku terjatuh dalam riuh. Riuh yang kudapat supaya aku tak lagi mendengar diam. Ramai yang kukejar hanya agar aku bisa mendiamkan diam.

Namun apa daya. Diammu lah yang selalu ada. Diammu yang begitu bising. Bertubi-tubi membuatku terpelanting.

Aku lelah diam.

Haruskah aku dahulu yang bicara?

Dan jika aku bicara... Akankah kita berdua lalu jadi bahagia?


Jika cinta terlalu egois untuk dipendam sendiri, adilkah itu untuk yang bahagia karena adanya sunyi itu sendiri?


Monday, June 1, 2015

Monolog Benci

Aku membenci orang yang kucintai. Benci teramat benci.
Aku heran, bagaimana bisa kita membenci orang yang pernah kita cintai.

Aku membaca lagi semua jejak percakapan antara kita yang pernah kamu tinggalkan. Membaca kata demi kata. Huruf demi huruf. Spasi demi spasi. Dan menyadari betapa besar memang cinta yang pernah aku punya untukmu dahulu. Lalu menyesali semua itu. Menyesali rasa cinta itu. Menyesali adaku untuk kamu.

Namun kita memang pernah sangat saling mencintai. Tak ada satu hari pun di hidupku yang tak kuceritakan padamu. Kita selalu ada untuk satu sama lain.

Sampai kita ada di suatu titik dimana cinta itu perlahan melukai kita. Menyakiti cinta itu sendiri. Semakin kita berusaha mempertahankannya, semakin kita menyakiti satu sama lain.

Dan cinta itu lalu bermetamorfosis jadi benci yang menjadi. Lelah yang membuncah. Marah yang hilang arah.

Sungguh, tak pernah aku menyangka. Bagaimana manusia ternyata bisa membenci orang yang pernah ia cintai dengan sepenuh jiwa. Betapa bengisnya perasaan, betapa tak pedulinya ia dengan kenangan.

Segala imaji ala puteri raja yang kumiliki bersamamu hangus. Mampus. Menghisap semua kebahagiaanku dengan rakus.

“Jadi… Inikah akhirnya?”
Kalimat pendekmu memecah kesunyian panjang dan monolog yang sedari tadi ada di kepalaku.
Aku terhentak, tersengal lalu meraba pipiku yang lembab oleh air mata. Dadaku panas. Sungguh, kebencian ini benar-benar membunuhku.

“Tak ada lagi cinta?” tanyamu sekali lagi.

“Menurutmu?” serangku dalam hati. Tapi aku tak sanggup bersuara. Rupanya aku sudah terlalu marah dan jengah. Tenggorokanku kelu. Ngilu. Rasanya aku ingin menghilang saja.

“Tak ada kah maaf?”

“Pergi.”

“Aku cinta kamu, Cynthia. Aku menyesal. Kamu berhak marah. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Aku bisa hidup tanpa kamu.

Kamu menangis. Dari situ aku tahu kamu sungguh-sungguh.
Tapi aku sudah terlanjur benci kamu.
Perasaan benci ini menyakitiku, dan sebentar lagi akan menyakitimu. Aku tak bisa.

“Aku nggak mau pergi, Cynthia. Aku sayang sama kamu….”

Aku mengernyit jijik.
Tanpa pikir panjang aku berlari keluar. Jika kamu enggan pergi, aku yang akan pergi dari sini.

“Aku akan menunggu sampai kamu berubah pikiran. Aku bersumpah.”

Langkahku terhenti. Aku menengok ke belakang, melihat bentukmu yang sudah tidak beraturan.
Lalu bayangan kamu bercumbu dengan perempuan itu muncul lagi di kepalaku.

Ya. Aku memang sudah membencimu. Ini adalah batasnya.

Jangan tunggu aku. Aku tak mau kembali.
Aku tak bisa mencintai orang yang kubenci.

Maafkan aku karena membencimu. Maafkan aku karena cinta itu tak lagi muncul.



Sudah waktunya kita berhenti berpura-pura masih saling cinta.

Saturday, May 23, 2015

Telepati


Ah… Kamu masih sama seperti dulu. Kacamata frame tebal dan rahang kotak yang dulu selalu sukses buat jantungku seakan melompat. Yang tak henti-hentinya buatku dimabuk kepayang.
Aku masih ingat bagaimana dulu aku bertemu kamu di sebuah sudut kampus. Kamu dengan kemeja garis-garis yang menyapa dan tersenyum kepadaku. Senyum yang tak akan bisa kulupa. Senyum yang masih sama seperti dahulu.

Dalam jarak puluhan meter pun aku bisa mengenali sosokmu. Rambut hitam sebahu itu. Dasar kamu, bahkan setelah sekian tahun pun kamu masih mempertahankan gaya rambut jadul itu ya?
Ah sudahlah. Memangnya aku peduli.
Lalu kamu menoleh dan menatap mataku.
Oke. Sepertinya aku masih peduli.


Memangnya kamu mau apa?

Tak mau apa-apa. Hanya ingin dengar suaramu.

Sudah puluhan tahun berlalu. Memangnya kamu tak malu?

Jadi kamu malu? Kalau sedang malu seperti itu, pipimu memerah. Kamu memang tidak berubah.

Stop. Hentikan. Aku sudah berubah. Kali ini aku tak akan termakan rayuan gombalmu!

Pipimu semakin memerah.

Pergilah sudah, apa pedulimu?

Tidakkah kamu merasakan itu jua? Atau hanya aku yang terlalu perasa?

Apalah gunanya rasa, jika itu hanya menjadi asa?

Apa yang salah dengan asa?

Karena kita… sudah terlalu tua untuk berharap, sayang.


Aku memang tua tapi aku tidak mati. Aku masih menggilai harapan! Haraplah yang membuatku hidup!


Jangan berani-beraninya membicarakan harap. Kamulah yang membunuh harap itu dariku 30 tahun lalu.



Kamu pergi, rambut hitam sebahumu bergoyang indah. Rambut hitam yang tak kehilangan kilau dan lebatnya di usiamu yang ke lima puluh sekian ini.
Lalu aku bisa melihatmu menghampiri suamimu saat ini yang tengah menggendong anak berusia tiga tahun.


“Daritadi opa liat-liatan aja sama oma itu emangnya ada apa?”
Suara cucuku membuyarkan lamunan panjangku.
Aku tertegun.
Anak kecil memang pandai membaca pikiran.