Saturday, May 18, 2013

Mixtape #2



Read the previous story here

Alita
Dadaku perih. Aku membongkar kotak boks berisi benda-benda kenanganku dengan Dhanan. Tiket nonton, foto-foto di photobox, surat-surat cinta, kaos buluk Dhanan…
Benar kata orang,  its the good memories that kill you inside out, not the bad ones.
If you’re really the one, why does this feels so painful?

Dhanan
Kadang-kadang gue juga heran kenapa ya gue selalu keblinger sama Melody-Melody itu? Padahal, gue udah punya perempuan tercantik dan terindah se-bumiku Indonesia ini. Ya walaupun galak. Galak-galak tapi ngangenin. Biarin.
Tapi nggak tahu juga, kadang-kadang, gue merasa butuh melarikan diri sejenak dari hubungan gue dengan Alita.
Girls, jangan buru-buru nge-judge dulu! Biarkan gue menjelaskan ya.
Bersama Alita, semua terasa sempurna. It’s like, we’re really going to end up together. Tapi sesuatu yang sempurna, tentu membutuhkan usaha yang juga sempurna. Dan semua itu nggak mudah. Sangat sulit, dan melelahkan. Ada kalanya lo ingin egois, ingin sesuatu yang ringan dan menyenangkan, ingin istirahat.
Because sometimes, it’s like working… no day-off, 7/24, without no holiday, without no break. Bahkan istirahat makan siang sekalipun.
Jangan salah, you love your job… sangat cinta pekerjaan lo. Melebihi apapun di dunia ini. Pekerjaan lo adalah apa yang paling lo banggakan di dunia ini. Tapi kalau lo bekerja terlalu keras dan sering, maka dunia lo adalah tentang pekerjaan lo. Dan lo seakan tidak punya dunia lain selain pekerjaan lo itu.
Dan lo akan sampai pada titik ketika lo lelah bekerja. Lo ingin bersenang-senang.
Ada kalanya lo penasaran dengan seperti apa lo sesungguhnya ketika lo belum memiliki pekerjaan itu.
Ini kenapa gue jadi mendadak bener begini sih??

***

Alita

There’s always a part of me that want to sets you free.
Dhanan, kamu adalah laki-laki paling baik hati yang pernah aku temui. Kamu lucu, bandel, loveable in a very cute way, dan yang paling penting, kamu selalu bisa melindungi aku, kamu selalu berusaha untuk itu.
And how you hugs me when I cry… Bagaimana aku bisa melepaskan semua itu?
Kalau aku egois, jujur, aku akan kembali padamu. Seperti apa telah aku lakukan sebelum sebelum ini.
Tapi entahlah… Mungkin saat ini adalah saat bagiku untuk berhenti egois. Egois menyayangimu. Egois ingin memilikimu hanya untukku saja.
Kadang, cinta saja enggak cukup, buat kamu, buat aku, buat kita.
I’m no longer your job, Dhan.
Jadi sekarang tinggal… Bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan hal paling menyakitkan dalam hidupmu kepada orang yang sangat kamu sayangi?
Damn.

The Mixtape

Track #01 For Your Love (Stevie Wonder): Bersamamu selalu indah Dhan. Thank you for always giving your best for me. You are doing a very good job.
Track #02 Understand (Christina Aguilera): Kamu, aku, tau. Ada yang salah dengan hubungan ini. Let’s be honest… Kita bisa bohong untuk satu sama lain, tapi kita nggak akan bisa bohong sama diri kita sendiri.
Track #o3 - Better That We Break (Maroon 5) : I think this is pretty clear that maybe we’re better off this way.
Track #04 – Love (Keyshia Cole): This is what will happen when we break up. Hidupku akan hancur, dan aku akan menghabiskan waktu meratapi perasaanku sendiri. Tentu saja aku akan selalu masih sayang sama kamu.
Track #05 – Proses Melupakanmu (Abdul): Aku nggak tahu bagaimana dengan kamu, tapi yang jelas, bagiku ini akan jadi sangat sulit. Aku bukan orang yang bisa dengan menemukan “Melody” seperti kamu, Dhan. But, I’m gonna make it.

Alita

Aku mengenggam paket kotak CD di tanganku erat. Aku sudah hendak memasukkannya ke dalam kotak surat ketika tiba-tiba sesuatu mencegahku untuk mengirimkannya ke alamat Dhanan.
No, this isn’t the right thing to do.

Dhanan
From: Alita (08765328xxx)
Makasih ya, Dhan. Mixtape bikinan kamu bagus banget. Gonna listen it soon.
Terima kasih atas waktu2 kita yg indah.
But I found someone else.
Good bye.

Alita
Aku rasanya ingin mati saja ketika mengetikkan kalimat itu di ponselku. Hatiku melesak. Mataku melamur oleh air mata.
I want you to let me go, Dhan.
Another sweet mixtape? I don’t think you need that. You need to think that I’m also a bitch, that I’m totally over you.
Aku hanya ingin membuat proses ini jadi lebih mudah buat kamu. Bahkan ketika itu artinya berarti membuat kamu benci sama aku.
Maaf ya, Dhanan. Maaf.

Dhanan
Gue terbangun dengan Melody yang tertidur nyenyak di samping gue. Masih cute, cantik, dan naked.
Gue meraih ponsel gue dan mengambil foto gue berdua di samping Melody yang tengah tertidur pulas.
And then send it to Alita.

Yeah, Lit. Kalo ini yang kamu mau. Move on.

Aku menekan tombol send.
Yang gue tahu, dada gue sesak, mata gue pedas.
No Lit, I lied. Gue belom move on dari lo.

“Kita bisa bohong untuk satu sama lain, tapi kita nggak akan bisa bohong sama diri kita sendiri.”

Friday, May 17, 2013

The Tale of Broken Hearts


Volume tape maksimum, pintu kamar dikunci triple, selain dikunci, digembok juga diganjal dengan meja belajar. Jendela ditutup rapat. Lampu dimatikan. Suara musik Gun’s and Roses membahana.
Orang normal mungkin akan buru-buru mematikan musik ini. Bisa tuli lama-lama. Tapi nampaknya Eryc tidak merasa terganggu dengan suara yang memekakkan telinga ini. Dia butuh distraksi. Dia butuh ramai. Baginya, sepi itu berbahaya. Sepi akan membuatnya bisa mendengar suara hatinya sendiri yang saat ini sedang terluka.
Yah, begitulah keadaan Eryc saat ini.
Frustasi? Iya. Saat ini hanya ada dia dan Venus, kucingnya, yang termenung diam menatap langit-langit kamar. Sesekali erangan Venus menyela suara tape Eryc. Sudah dua hari dia nggak keluar kamar. Sudah dua hari dia nggak makan. Cuma minum.
Eryc mematikan tape-nya.
Ini sudah jam sembilan malam. Hening. Venus-pun menggeliat dari tidurnya.
Sakit, pikir Eryc.
Jadi ini ya, yang namanya patah hati?
Setiap pikirannya melayang ke Vitta, gadis yang dalam waktu singkat sanggup merubah perspektifnya tentang hidup, gadis yang luar biasa berbeda dan lucu, gadis yang teramat sangat disayanginya itu—hatinya kelu, beku.
Eryc meringis. Ia menatap Venus lekat-lekat.
Cih, bahkan kucing kampret ini dikasih nama olehnya.
Kenapa ia harus memilih Nero? Kenapa bukan dia yang seribu persen mencintainya sepenuh hati. Kenapa??
Sebenarnya…
Baru kali ini Eryc merasa sekuat ini.
Kuat menahan kecewa, kuat menahan sedih, kuat menahan ragu, kuat menahan tangis, kuat menahan marah.
Eryc tahu, ia berhasil untuk menjadi kuat.
Tapi saat ini, ia lelah menjadi kuat! Seriously…
Gimana sih cara ngelupain orang yang cepat, efektif, dan efisien??
Kenapa dia nggak bisa suka sama Ferginna? Kenapa dia harus suka sama Vitta, orang yang sudah jelas-jelas nggak mencintai dia, orang yang jelas-jelas mencintai orang lain dan mencampakkan segala usaha dan pengorbanannya bahkan ketika hanya untuk melihat senyumnya???
SAKIT TAUK.
Eryc merasa mendadak matanya basah. Persetan dengan pepatah boys dont cry. Eryc tidak peduli.
Venus terbangun, seperti sadar kalau Eryc sedang dalam kondisi yang sangat hancur.
Air mata Eryc tambah lancar menetes, membasahi bulu coklat Venus. Membuat kucing itu sedikit tersentak
Baru kali ini ia merasakan perasaan sesakit ini. Letih.
Lalu apa yang harus ia lakukan? Menyerah? Atau tetap bertahan pada komitmennya semula untuk tetap mendapatkan gadis itu? Sesulit apapun itu? Komitmen jika baru akan berhenti ketika Vitta menikah?

So bittersweet
This tragedy
Won't ask for absolution

This melody
Inside of me
Still searches for solution

A twist of faith
A change of heart
Cures my infatuation

A broken heart
Provides the spark
For my determination

I never wanted you to be so full of anger (anger)
I never wanted you to be somebody else
I never wanted you to be someone afraid to know themselves
I only wanted you to see things for yourself

(Gun’s and Roses – Better)

Pilihan lagu yang salah, Ryc. Salah. Eryc menggumam dalam hati.


***

“Hmm... perpisahan yang manis.” Gumam Vitta.
Blitz kamera ada dimana-mana. Semuanya berfoto. Semuanya sibuk menyimpan kenangan mereka banyak-banyak. Yang cewek, terutama yang punya geng SMA, sibuk berkumpul. Mencoba mempergunakan kesempatan terakhir ini. Beberapa cewek yang pacarnya kelas 3 sibuk mengambil waktu berdua. Sekedar mempersiapkan diri kalau-kalau sehabis ini mungkin akan lebih susah untuk mereka ke depannya.
Vitta sendirian. Duduk di kursi paling belakang. Gelas cocktail Vitta isinya tinggal setengah. Ia menatap buah cherry yang mengapung-apung di cocktailnya, kemudian menghembuskan nafas berat. Ia sendiri sekarang. Perfect time buat kesepian di tengah keramaian.
Lamunannya terhenti oleh Samantha yang mengajaknya berfoto. Vitta menurut saja. Setelah beberapa klik, ia pun duduk lagi. Samantha melanjutkan kegiatannya mencari korban untuk berfoto lagi.
Vitta sendiri enggak berminat untuk seperti Samantha—mencoba menyimpan kenangan manisnya. Karena menurut Vitta, kalau kenangannya yang paling indah saja sudah tidak bersamanya lagi, apa yang harus disimpan? Dan kalau ia tidak bisa menyimpan kenangannya yang paling manis, maka ia tidak membutuhkan kenangan-kenangan lainnya lagi, karena rasanya tidak akan manis lagi.
Terdengar membingungkan. Tapi itulah yang Vitta rasakan.
Malam ini ia merasa sangat terpukul. Sangat terpuruk. Empty.
Vitta menelan tegukan terakhir cocktailnya. Cherrynya ia biarkan. Ia tidak suka Cherry. Kecut.
“Cherrynya nggak dimakan sekalian?”
Nero. Nero di sampingnya. Begitu humble-tampan-menghanyutkan. Vitta menatapnya kaget untuk beberapa saat.
“Eh...eh, nggak. Nggak suka.” Ia menjawab gagu. Ada apa ini? Apa yang Nero lakukan di sampingnya sekarang?
“Semenjak kita putus, kita jadi nggak pernah sms-an lagi, nggak pernah telpon-telponan lagi, dan nggak pernah jalan bareng lagi ya?”
Terus kenapa? Kangen? Nyesel kita putus? I will kill my self kalau kamu beneran ngerasa kayak gitu.
Vitta menertawakan apa yang baru saja dipikirkannya dalam hati dan sebagai gantinya ia hanya menjawab, “Iya ya...”
“Aku benci keadaan kayak ini, Vitt…”
Vitta mendongak, dadanya berdegup kencang. Ia masih belum bisa 100% melupakan Nero rupanya. “Aku butuh waktu Ro.”
“Butuh waktu buat apa?”
“Buat melupakan kamu. Buat berhenti mencintai kamu. Buat sadar dari mimpi panjangku ini. Aku butuh jeda Ro. Jeda sampai aku bisa melihat mata kamu lagi tanpa merasakan debar yang sangat membuatku terluka.”
“Aku… aku maaf…”
Nero terlihat sangat canggung dan gagu. Raut wajahnya menampakkan ekspresi penyesalan yang sangat dalam.
“Nggak perlu minta maaf Ro. Akunya aja yang sedikit konyol karena susah banget menghilangkan perasaan ini.” Vitta tersenyum lebar. “Tapi kamu harus tahu Ro, apapun yang terjadi, we will always be friends. Dan kita akan kembali berteman kok. Mungkin nggak sekarang, but I will make it. Just let me pass this one ya.”
“Dan aku tetap bisa nyobain kastengels buatan kamu?”
Sure. Hahaha.”
Nero menghela nafas. “Kamu gadis baik, Vitt. Kamu akan mendapatkan yang jauh-jauh lebih baik daripada aku. I’m pretty sure about it.”
Vitta hanya tersenyum.
See ya, aku menunggu tawaran persahabatanmu lagi.”
“Iya. Pasti.” Vitta mengangguk.
Nero mengelus rambut Vitta lembut, tersenyum, lalu berjalan menjauh. Bersamaan dengan itu Vitta bisa merasakan dadanya berdesir perih.
Vitta menatap cherry di gelas kosong cocktailnya. Ia memakannya bulat-bulat, berharap rasa kecut di buah itu bisa menutupi rasa perih yang mendera dadanya.
Tidak berapa lama kemudian kembang api tanda pesta perpisahan selesai meletus dan mengukirkan rona indah di langit malam yang cerah.
Vitta memandangnya tersenyum, ia mengusap air matanya perlahan.
Ia tahu, hidupnya tetap harus berjalan.

***

Thursday, May 16, 2013

No-Filter



Debur ombak. Suara burung camar. Kulit yang lembab terkena angin pantai.
Dan kamu.

 “Gue nggak percaya cinta, Tris.”
Aku mengerling, mencoba membaca kalimatmu barusan. Angin berhembus lembut, menggoda kami yang tengah berbaring berdua menatap langit biru. Dengan awan yang bergoyang perlahan seakan mencoba memayungi kami dari terik matahari.
Aku selalu suka caramu berbicara. Caramu berbicara tentang dirimu sendiri. Cara memandang kehidupan. Caramu memandang cinta. Caramu tertawa. Caramu berlari.
“Kata orang, kita hidup buat cinta. Kalau begitu, kenapa gara-gara cinta gue malah sakit ati, ya, Tris?” ujarmu sambil mengangkat lenganmu ke dahi, berlindung dari terik matahari.
“Mungkin itu bukan cinta.” Sahutku pendek.
Jujur, aku tidak pernah memikirkan hidupku seperti kamu. Yang aku tahu, aku bahagia ketika melihat kamu. Ketika bersama kamu. Dan bagiku, itu sudah bisa disebut cinta. Itu cukup. Kalo bagimu ini bukan cinta, ya terserah, bagiku sih iya.
 “Kalo lo bilang cinta itu tidak harus memiliki, Tris, bullshit. Nonsense.” sahutmu lagi.
Aku menghadapkan tubuhku ke hadapanmu. Aku menatap wajahmu tajam. “Iya deh, iya. Yang abis diputusin, santai dong, bos. Cewek masih banyak.”
“Hahaha!” kamu bangkit, duduk, meraih tasmu meraba-raba sesuatu. “Iya cewek lain masih banyak.” Kamu mengambil kamera kesayanganmu dan mengalungkannya di leher. Kamu lalu mengarahkan lensanya ke arahku. “Eh jangan gerak ya, stop, lo kayak gitu aja, pose lo lagi keren.”
Aku terbahak. “Tau nggak, Nick. Kayaknya lo harus berhenti memandang cinta dengan cara yang sama dengan cara lo memandang objek foto. It’s a total different thing, tauk.”
“Hah? Gue nggak paham.”
“See, buat lo bisa mengambil gambar yang bagus, there’s a lot to think about. Lensa, light, filters, komposisi, timing, and so on and so on. Lo melihat dari balik lensa lo. You’re not in the world, you’re in your head.”
“Yup. Dan itulah yang bikin gue suka foto. It’s like a temporary escapism buat gue, Tris. Ketika dunia yang lo pijak sekarang terasa terlalu penat.”
“Tapi cinta itu bukan kayak hubungan lo dengan kamera lo, Nick.” Ujarku perlahan. “Kadang, ketika gue ngeliat lo sibuk dengan kamera lo, satu yang gue tahu pasti, you’re looking, but you’re not really seeing.”
“Maksud lo?”
“Ya itu. Gue capek ngedengerin lo ngeluh sama pacar-pacar lo yang gagal, dan akhirnya bilang kalo cinta itu cuma bikin capek, lo ngeliat itu semua dari lensa lo, you don’t enjoy it as a whole.” aku masih meracau sambil berbaring menatap langit.
“Lo menunggu kesempatan untuk menekan tombol capture dan menangkap gambar yang lo pinginin. Lo nunggu dan menunggu dengan seksama. Saking serius dan fokusnya lo nunggu, sampai akhirnya when you finally did it, lo nggak menikmati proses penantian itu. Because, you’re already looking for the next opportunity. And you know what, itu yang melelahkan, Nick.
“Lo tumben ngomongnya agak bener.”
“Bangke.”
“Tapi, Tris… Apa salahnya? Gue cuma mau mendapatkan gambar yang bagus. Foto yang indah. Apa teknik  gue yang kurang pinter dalam menangkap gambar? Atau gue yang kurang peka menangkap lokasi-lokasi bagus?”
Aku memandangnya gemas. “Guess what? None of it is real. It’s all in your head. What you’re not enjoying is not actually love.” Sahutku. “Let me show you something.” Aku merebut kamera dari tangannya dan berdiri.
“Liat gue.” Aku mengarahkan kamera ke arah kapal dengan beberapa nelayan yang tengah membereskan hasil tangkapannya. Aku menjepret beberapa kali sebelum lalu menunjukan hasilnya ke Nick. “Apa yang barusan gue foto?”
“Ngg… Perahu.” Ujarnya pendek. “Anyway, blur, Tris. Lo emang bisanya difoto doang ya, nggak bisa nge-foto. Hahaha!” Nick nyengir kepadaku sambil menahan tawa.
“Sempet-sempetnya ngeledek!” aku berdecak kesal.
“Iya, ini gambar perahu. Terus?”
“Itu kan yang lo liat, Nick. While in fact, sebenarnya ada kisah lebih di balik sekedar perahu itu Nick. Ada nelayan, ada jaring, ada hasil tangkapan selama di laut, ada langit, ada awan. Cuma, lo nggak bisa ngeliat itu semua, karena lo melihat dari balik lensa kamera lo. Lo fokus dengan yang lo pengen capture, ya kapal itu.”
“Oke, get it. Terus, apa hubungannya ini semua dengan kisah percintaan gue?”
“Try to see with your eyes, Nick. Nggak usah pake lensa, pengaturan cahaya, filter, shutter, timing, atau tetek bengek fotografi lain yang sering lo ceritain ke gue deh. Maybe it’s not perfect, but at least it’s real.”
Kamu terdiam sejenak. Memainkan kamera di tanganmu. Lalu kamu mendongak, menatap lurus ke laut.
“Yeah, mungkin selama ini gue nggak sadar aja ya. Fokus mencari objek yang sempurna sesuai ekspektasi gue. Dan akhirnya ekspektasi itu sendiri yang membunuh gue.”
“Nah, lo akhirnya paham.”
“Hahahaha.” Kamu terbahak lagi. “Thanks ya Tris, lo masih betah ngedengerin curhatan gue. Curhatan ke sekian juta kali kayanya.”
“Mungkin gue satu-satunya perempuan yang mengerti kelakuan playboy kondang macam lo.”
“Gue nggak playboy kali. Gue hanya sedang mencari yang terbaik… hahaha!”
Aku menjulurkan lidahku. “Udah ah, gue mau main air, fotoin yang bagus ya! Hahaha. Upah curhat.”
Aku beranjak setengah berlari menuju laut. Menghela nafas panjang. Meninggalkan Nick di belakang.
Can you see me through your eyes, Nick? Not through your lens? aku membatin dalam hati, dari kejauhan memandangmu yang sedang sibuk dengan kameramu.
“Bentar ya Tris! Ngepasin settingan dulu!” kamu berteriak dari kejauhan.

Kamu tadi bilang kalo cinta yang tidak harus memiliki itu nonsense. Kamu mungkin benar, jadi, selama ini, aku mungkin memang memiliki sesuatu yang nonsense. Tapi, aku harus berbuat apa kalo sesuatu yang nonsense itu nyata? Bagaimana kalau omong kosong itu nyata ada?

Langit cerah. Awan putih berarak. Burung camar berkicau. Deru ombak.
Jantung yang berdegup kencang. Hati yang menyimpan rasa.
Dan kamu.

Please berhenti melihat gue dari balik lensa lo, Nick.
Maybe you can see that… what I have for you… is real.

Wednesday, May 15, 2013

Mixtape




Dhanan
Gue menggenggam sekeping CD di tangan gue erat-erat. Sebuah mixtape. Cuma buat dia.
Jadi begini, lo pernah nggak, cinta secinta cintanya sama seorang perempuan? Cinta banget sampe-sampe lo rela hidup lo jungkir balik, bumi lo gonjang ganjing, cuma karena dia?
Please banget ya kan ya, sebagai seorang lelaki sejati, apalah arti otot dan perut kotak-kotak hasil sit up dan angkat beban setiap pagi ini kalo lo akhir-akhirnya berakhir bertekuk lutut di hadapan seorang perempuan. Bye bye, macho…
Dan sayangnya itulah yang sedang gue alami. Sekarang.
Tapi, selayaknya laki-laki biasa yang juga manusia, tentu tak lepas dari salah dan dosa kan ya? Apalagi kalo dosanya berwujud perempuan cantik rupawan berkulit putih mulus langsing imut selayaknya Melody JKT48. Ya gimana gue nggak khilaf.
Begini, lo bayangin Melody JKT48 tiba-tiba dateng ke depan rumah lo, kemudian menghambur ke pelukan lo sambil nangis-nangis karena abis putus sama lakinya.
Bendera putih, dude. Bendera putih. Pertahanan gue hancur.
Sini dik, sini abang peluk, biar adek hepi lagi…
Ngerti kan? Oh, kalo lo laki-laki, lo pasti ngerti dilema gue. Respect bro. Tapi kalo lo cewek, lo pasti merutuki gue sebagai buaya darat. Iya, itu istilah favorit kalian kan?
Girls, asal lo tau aja, buaya itu mamalia yang paling setia lho, karena dia hanya punya satu pasangan seumur hidupnya.
Oke, anyway, Melody JKT48—mulai sekarang panggil aja dia dengan sebutan Melody—yang peluk-able itu terus menerus mendatangi gue dengan tingkahnya yang manja dan imut. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan. Awalnya dia selalu datang dengan tampang kusut berderai air mata karena belum bisa move on dari mantannya. Tapi lama kelamaan, senyumnya merekah, setelah gue ajak main-main. Eh ini main-main beneran lho, kalian jangan mikir yang aneh-aneh ya.
Lihatlah, gue pahlawan banget.
Gue berada di atas angin sampai kemudian, Alita, matahari terbit gue, oasis gue, bidadari gue, memergoki gue lagi main-main sama Melody. Mampuuuus.
Marahlah Alita. Minta putuslah dia.
Gue merasa kiamat sudah dekat.
Oke, walaupun statement ini akan bikin gue terlihat lembek, tapi gue mau jujur. Cuma Alita lah cewek yang bisa bikin gue jadi gue yang sesungguhnya. Gue nggak pernah ada kepikiran buat serius sama cewek, sampai gue ketemu Alita. Alita dengan segala kejudesan dan kecerdasannya. Alita yang nggak pernah lupa buat ngingetin gue buat makan (dan mandi, ohiya, gue ini males banget mandi), yang selalu ngomel kalo jaket gue bau apek keringet, dan yang selalu jadi demonstran pertama kalo gue udah ngeluarin rokok gue.
Ini kenapa yang gue inget selalu yang galak-galaknya ya?
Jadi, karena dia galak. Dan sebagai laki-laki yang cinta matinya kebangetan sama dia. Ngg… jujur, cuma mixtape ini solusi yang ada di kepala gue saat ini. Kata Mario Teguh sih, jadi laki-laki harus berani ngomong langsung. Malah kalo kata Felix Siauw gue harus berani ngelamar.
But, dude, ini untuk pertama kalinya gue takut. Iya, gue takut dia bilang langsung di depan muka gue kalo dia udah nggak cinta lagi sama gue.
Anjir, mau dikemanain ya titit gue kalo gini caranya? Ah. Bodo deh.
Cinta gue ke Alita udah keterlaluan sampe gue takut menghadapinya. See, kalo bukan cinta, ini namanya apa coba?

Alita
Aku membolak-balik mixtape yang tadi pagi sudah nongkrong di depan pintu kamarku. Dari Dhanan.
Aku mendesah. Breaking up with him is the hardest thing I’ve ever done in my life.
Ini bukan pertama kali Dhanan main-main sama cewek lain. Walaupun aku sudah cukup paham dan mengerti bahwa main-main itu ya sungguh-sungguh main-main.
“There’s nothing serious, Lit. Kita cuma have fun, kamu nggak percaya sama aku?”
Mau percaya gimana, Dhan…
Ini bukan perkara aku nggak percaya, aku percaya sama kamu. Aku percaya kamu sayang cuma sama aku. Ya iyalah, lagian juga cakepan aku ketimbang Melody-Melody itu (ini kenapa aku ikutan manggilnya Melody ya?) But, it hurts me so much untuk menyadari bahwa kamu nggak bisa having fun sama aku, dan lebih memilih untuk having fun sama mereka, ya Melody-Melody-mu itu.
So maybe… it’s not about you. It’s all about me.
“Aku nggak bisa lagi, Dhan. We’re over. This is too painful.”
Dan setelah itu aku pergi. Dan Dhanan nggak berkata apa-apa lagi.

I'll make you a mixtape that's a blueprint of my soul
It may sound grand but babe it's all you need to know
I'll make you a mixtape that will charm you into bed
It details everything that's running round my head
(Mixtape – Jamie Cullum)

Aku memasukannya ke pemutar CD-ku. Pemutar CD yang waktu itu hunting-nya juga sama kamu. Pemutar CD yang waktu itu harganya aku tawar abis-abisan ke abang penjualnya sampe kamu nggak tega dan bilang, “Alita, kalo kamu sampe nawar lagi, aku balik. Udah, biar aku aja yang bayar selisihnya kalo kamu masih nggak ikhlas bayar segini.”
“Abang penjual itu juga punya istri dan anak yang harus dihidupi, Alita. Lagian kamu segitunya amat nawar, emang kenapa sih?”
“Gemes aja, hon. Wanita…”
Dhanan hanya mengelus-elus rambutku lembut. Gesture andalannya untuk membuatku nurut sama dia.
Itulah Dhanan dengan segala tingkahnya yang selalu membuat aku kagum padanya. Satu titik dia bisa bau banget nggak mandi dua hari, tapi di titik lain, tiba-tiba dia bisa bijaksana banget. Nggak tau ya itu bijaksananya pas lagi hoki aja apa gimana kali ya.

The Mixtape
Track 01 – Terdiam (Maliq & D’Essential) – Ini waktu aku liat kamu di parkiran kampus. Kamu lagi jalan kepanasan sambil makan choki-choki. Cantik. Saking cantiknya aku mau deketin kamu langsung saat itu nggak berani. Grogi. 
Track 02 – Juwita (Aditya) – Ini waktu berhasil kenalan sama kamu. Aku masih inget kamu pake kaos warna ungu. Dan jaket putih. Dan kamu ketawa ketawa geli waktu aku aja kenalan.
Track 03 – All I Need is You  (Guy Sebastian) : Aku nembak kamu di depan rumah kamu. Nembaknya nggak sengaja dan nggak direncanain. Waktu itu kamu bilang ‘ati-ati di jalan’ sambil senyum yang bikin jantung kebat kebit. Aku nggak tahan terus keceplosan ngomong aku sayang kamu deh. Maaf ya nggak romantis. Untung kamu jawab iya -_-“
Track 04 – Harder to Breathe (Maroon5): Berantem pertama. Kamu liat aku jalan sama Annisa.
Track 05 – My Chemical Romance (Disenchanted) : Berantem kedua. Kamu liat aku jalan sama Sandra.
Track 06 – That’s Why You Go Away (MLTR): Berantem ketiga. Kamu liat aku jalan sama Tantri.
Track 07 – Ello (Kau Bukan Kekasihku): Berantem keempat. Aku marah sama kamu gara-gara kamu marah karena aku jalan (lagi) sama Sandra
Track 08: Tangled (Maroon5) Kamu liat aku jalan sama ****** (Sebut saja Melody). Selesai.
Track 09 – I Want You Back (Soulvibe): Ini keadaan aku sekarang. Kacau. Aku nggak tahu harus ngomong apa karena aku tahu kamu nggak akan percaya. Maaf karena aku bahkan nggak bisa bisa ngomong secara langsung. Maaf karena aku nggak gentleman. Iya, aku takut, Lit. Aku takut menghadapi kenyataan kalau kamu muak sama aku. Itu saja udah terlalu menakutkan buat aku.

Yang jelas Lit, buat aku, aku masih pengen ada track-track selanjutnya dalam kisah kita.
Tapi aku nggak tahu kalo kamu gimana.

Makasih udah mau dengerin ya, Alita.
I love you. I always do.

Alita
Aku merasa mataku perlahan melamur. Basah. Sampai kemudian basah sekali. Those words are simple yet meaningful. Sumpah ya, Dhanan. Kalo kamu sampe minta orang lain bikinin kata-kata ini, tampar!
I love you too, Dhanan.
But I can’t handle the pain you’ve made.

Dhanan

Gue cuma bisa berdoa lamat-lamat semoga mixtape yang gue bikin buat Alita bisa merepresentasikan apa yang gue rasakan saat ini. Itu aja kalo dia mau dengerin sih. Daripada gue dateng dan ngomong babibu nanti jatohnya ngegombal, kan berabe.
Sebenernya sih gue pengen banget masukin lagunya D’Masiv yang Cinta Ini Membunuhku di mixtape itu. Kayaknya itu lebih mewakili perasaan gue. Tapi yang ada gue ntar malah diketawain sama Alita sih.
Please Kanjeng Gusti, gue sayang banget sama ini perempuaaaan…. Aaarghh…

Alita

Aku pernah dengar, when it comes to men who are romantically interested in you, it’s really simple. Just ignore everything they say and only pay attention to what they do.

Is this enough?

Menurut kamu, aku harus ngapain?


To be continued…

Read the sequel here