Thursday, May 23, 2013

Layang-Layang #2



Read the previous story here

2013
“Happy Graduation, Tissa. It’s so nice to see you coming back home.” tukas Bima tulus.
“Thank you, Bima. Can’t do this without you. Really.” Tissa tersenyum, menatap Bima dengan pandangan yang sulit diartikan.
Mereka berdua berdiri terdiam kikuk. Di bandara yang penuh dengan orang berlalu lalang. Tapi seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua. Yang saling menatap dengan penuh rindu. Bersamaan dengan debar dada dan… kupu-kupu di perut.
Those butterflies.
Yang Tissa tahu setelah itu Tissa menghambur ke pelukan Bima. Mendekapnya erat. Seolah berbisik dalam diam.
Pelukan penuh rindu.
Yang kini mereka berdua sadar apa maknanya.
Ini rasa sayang.
Sayang yang seperti apa?
Saat ini mereka merasa terlalu malas untuk mendefinisikannya. Sayang ya sayang saja. Mereka memutuskan untuk tidak memikirkannya dan memilih untuk menikmatinya di dalam peluk dan dekap hangat saat ini.
Tidak perlu dikatakan. Biar rasa yang menjawab.

2014
“Tissa, kemarin aku ngelamar Viera.”
Tissa yang saat itu sedang di dalam lift kantornya mendadak merasa kakinya berubah menjadi agar-agar. Ia menggenggam ponsel di telinganya kencang. Seakan berusaha meyakinkan kabar yang ia barusan dengar bukanlah khayalannya semata.
“Eh…” alih-alih mengucapkan selamat, Tissa hanya mengeluarkan gumaman tak jelas. Lidahnya kelu. Tenggorokannya seakan dimasuki oleh biji kedondong.
“Tiss?”
“Eh? Ya? Eh… Selamaaaat Bimaa! So happy for you!” sahut Tissa kaku. Untung ini percakapan via telepon, kalau tidak, Tissa tidak tahu apakah ia bisa memalsukan ekspresinya saat ini.
“You don’t need to say that, Tiss…” Bima berkata, menggantung kalimatnya beberapa saat. “Because she said no.”
Tissa terhentak. Mendadak kakinya yang tadinya serasa berubah menjadi agar-agar, terasa naik ke atas, ke perutnya, lalu ke dadanya, lalu ke tenggorokannya, menembus pertahanan biji kedondongnya, dan entah kenapa Tissa rasanya bisa bernafas lagi.
Ia ingin menarikan tarian kemenangan, tapi ia cepat tersadar bahwa ini artinya Bima sedang merasa sangat sedih.
“Bima, I’m on my way to your apartment. Aku bikinin Indomie rebus rasa Kari Ayam pake potongan cabe rawit? How?”
“That sounds perfect.” Bima menutup perbincangan.
Indomie rebus rasa Kari Ayam dengan potongan cabe rawit. Instant therapy ala Bima. Bima menyungging senyum kalau ingat bagaimana Tissa hafal dengan kebiasaannya.
Meskipun tidak bisa dipungkiri… Saat ini dada Bima terasa sangat sesak dan pilu.
Those 8 years relationship, Viera. Bagaimana bisa kamu tega melakukan ini ke aku?
Mendadak bayangan kata-kata Viera ketika menolak lamaran Bima kembali terekam di kepalanya.
“Bima, aku tahu kamu sayang aku. Dan aku juga sayang kamu. Sangat. Tapi, aku cuma sayang sama kamu, apakah kamu juga cuma sayang sama aku?”
Dan entah kenapa saat itu Bima tak sanggup menjawab.
“Adilkah ini buat aku? Buat kamu? Buat kita?”
Dengan begonya Bima kembali hanya bisa diam.
“Nikahi perempuan yang membuat kamu merasa hanya dia yang bisa kamu sayangi, Bima.”

To be continued…

Wednesday, May 22, 2013

Berbagi Rindu



Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Saya bangga dengan pekerjaan saya. Saya bekerja di sebuah perusahaan investasi, dan saya adalah seorang business analyst ulung. Saya berpikir dengan cara ekonomi. Di pemahaman saya, perusahaan akan dimiliki oleh investor yang memiliki lebih dari 50% modal. Tidak perlu semuanya, yang penting lebih dari 50%.
Bersama kamu, saya adalah investor yang menang tender. Saya merasa memiliki 70 % modal. 70% rindu.

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Saya tahu, saya bodoh. Tiap hari mau-maunya saya balas SMS kamu. Cinta, aku kangen. Cinta, kamu dimana? Bisa ketemu nggak? Cinta, aku cinta kamu! Cinta, cinta, cinta. Makan itu cinta.
Tapi toh saya memakan habis cinta yang kamu berikan. Habis tak bersisa. Saya lapar setiap hari, setiap menit, setiap detik. Cinta yang bikin saya mabuk kepayang, Cinta yang bikin kamu terbang melayang. Cinta yang manis tapi juga egois.

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Saya juga paham, seratus persen paham, kalau saya mau tidak mau harus diam. Diam melihat kamu SMS-SMS saya. Diam melihat kamu telpon-telpon saya. Diam melihat kamu SMS-SMS dia. Diam melihat kamu telpon-telpon dia.
Tapi anehnya, dalam diam, diam-diam saya menikmati. Walaupun resikonya saya dianggap tidak punya hati. Atau jangan-jangan saya memang sengaja cari mati?

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Bukannya saya tidak laku, saya bukan lajang bapuk yang sukanya main-main melulu. Apalagi main rebut pasangan orang. Tapi cuma kamu selalu bisa bikin saya terbang! Cuma kamu yang bisa bikin saya merasa menang! Menang dari dia, menang dari orang yang dulu kamu sayang.
Kamu yang dulu datang kepada saya dengan rapuh. Wajahmu lusuh. Kata-katamu penuh keluh.
Saya tidak meminta kamu untuk datang begitu saja. Tapi kerapuhanmu bikin saya luluh, bikin saya tersentuh. Kemudian saya dengan mudah jatuh. Jatuh cinta kepada kamu.

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Saya tidak suka dia bikin kamu menangis. Saya inginnya kamu sama saya saja. Senang-senang. Saya cinta kamu, kamu cinta saya. Dan kita akan hidup bahagia bersama sama sama sama sama selamanya.
Saya suka kamu punya ponsel khusus untuk SMS saya. Saya suka account twitter-mu penuh dengan DM saya. Saya suka kamu bohong sama dia demi saya. Suka! Menurut saya itu pengorbanan, menurut saya itu butuh keberanian, menurut saya kamu mengambil resiko demi saya. Dan itu sangat seksi. Belum pernah ada orang yang seberani itu demi seorang saya.
Kemudian saya perlahan-lahan berpikir ulang, ini semua demi saya atau demi dia?

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Waktu saya tanya, kenapa kamu tidak bisa melepaskan dia, kamu malah menjawab balik, “Loh, memang kamu mau saya lepasin dia?”
Anehnya saya menggeleng. “Kalau kamu lepasin dia, nanti saya bakalan kepengen jadi pengganti dia buat kamu. Dan saya tahu, saya nggak bakalan bisa jadi sosok itu. Nanti saya sedih. Lebih baik seperti sekarang saja, tidak punya ekspektasi berlebihan.”
“Kok kamu bisa mikir gitu, cinta?”
“Saya seorang business analyst. Yang penting cinta dan rindu kamu lebih banyak buat saya. Tidak perlu semuanya, jadi yang berat-berat biar buat dia saja. Yang penting perusahaan—kamu—tetap milik saya.” Saya terkekeh.
Kamu malah tertawa. Kata kamu, saya lucu. “Dasar orang ekonomi, rindu saja dihitung.” kata kamu.
Saya ikut tertawa, kali ini saya menertawakan diri saya sendiri.

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Sampai kapan mau seperti ini? Sampai kapan mau berbagi rindu dengan yang lainnya? Sampai kapan?
Hati nurani saya hampir setiap hari meneriakkan kata-kata itu. Berdengung tidak karuan  setiap kali mendapati SMS dia di ponselmu. Pulang jam berapa? Anak-anak kangen kamu.
“Kamu mau pulang jam berapa? Anak-anak kangen kamu.” Saya mengulang SMS dari dia, menatap bola matamu lebih dalam lagi. Mencoba mencari kejujuran di sana. Mencoba menemukan cinta di sana. Kamu boleh tidak cinta dia, boleh juga tidak cinta saya—walaupun kamu panggil saya cinta—tapi kamu nggak boleh tidak cinta anak-anakmu.
“Kalau aku pulang, anak-anak udah tidur, percuma.”
“Pulang lebih cepat dong, makanya. Biar kamu bisa ketemu anak-anakmu. Kasian mereka.”
“Kan kamu sendiri tadi yang minta kita ketemuan sekarang. Aku nggak ketemu anak-anak kan juga biar bisa ketemu kamu, cinta.”
Saya tiba-tiba berdiri, meninggalkan kamu. Entah mengapa, kali ini hati nurani rasanya bergejolak tidak karuan. “Aku pulang.”

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Cinta, aku kangen, kamu dimana?
Cinta aku udah ketemu anak-anakku, kemarin aku ajak mereka jalan-jalan. Kamu senang? Balas SMS-ku dong.
Cinta, kamu bikin aku bingung. Aku butuh kamu.
Cinta, kamu kenapa?
Cinta, aku rindu kamu!

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Berbagi rindu itu buat saya mengasyikkan. Rasanya luar biasa, seperti menang lotere. Selama ini, saya merasa menang. Saya adalah pemilik kamu karena saya selalu mendapat porsi rindu yang jauh lebih besar dari dia. Saya 70%, dia 30%.
Setidaknya itulah yang saya rasakan sampai SMS dari dia datang. SMS yang mengabarkan kerinduan anak-anakmu. SMS yang meruntuhkan nurani saya.
Saya tidak hanya berbagi rindu dengan dia. Saya juga berbagi rindu dengan anak-anak kamu. Itu berarti hitungannya salah, kalau saya mendapat 70%, dia 30%, lalu anak-anakmu dapat berapa?
Saya mulai kalut, saya mulai labil. Karena saya percaya, seseorang tidak boleh tidak mendapatkan porsi rindu sama sekali. Ada pihak-pihak yang dirugikan. Itu curang, itu tidak adil. Saya seorang investor yang tidak manusiawi. Saya mengambil keuntungan terlalu banyak.
Saya melanggar hak anak-anak kamu. Saya harus mundur.

Di luar sana, banyak yang merindukanmu, tidak hanya aku.

Saya tidak rindu kamu. Saya harus memberi rindu ini untuk anak-anak kamu. 70% ya, cinta. Saya kasih semua rindu ini buat anak-anak kamu. 35% buat Annisa, 35% buat Faris. Saya ikhlas. Saya harus legawa. Saya masih bisa mencuri rindu dari siapapun. Tapi saya tidak ingin mencuri rindu anak-anakmu.
Jadi, resmi ya, Annisa dan Faris adalah pemilik modal yang terbesar sekarang.. Hehe..
Tolong bilang ke Annisa dan Faris, dapat salam ya dari Om Adrian. Bilang ke mereka, kalau mereka punya kamu, seorang ibu yang luar biasa cantik yang sangat sayang mereka.

Salam,

Adrian

Jogja, 24 Oktober 2012
Untuk semua yang sedang rindu

Tuesday, May 21, 2013

Tentang Toga


Perayaan wisuda selalu menyenangkan.
Menghadiri perayaan wisuda teman apalagi.

Saya sedang dalam kondisi clueless tak berdaya dengan Sang Maha Kuasa Skripsi ketika memutuskan untuk menghadiri wisuda salah satu sahabat dekat saya.
Sahabat sekaligus orang pertama yang saya datangi ketika saya galau masa depan.
Fyi, sahabat saya ini mahasiswa kedokteran. Jadi ketika saya sibuk galau memilih dan menimbang-nimbang saya besok cocok kerja dimana, dia malah ngeluh jalan hidupnya justru sudah dikodratkan. Ya dokter harus jadi dokter. Nggak bisa milih jadi yang lain.
Dasar manusia nggak pernah puas :))

Oke, anyway,
Lulus. Lulus is somehow scary, right?
That point when we have to move on. Move on dari kehidupan lama. Move on dari kehidupan yang sudah terbiasa kita lakukan.
Dan pertanyaan kodian semacam besok mau jadi apa yang dari dulu membayangi ketika kuliah seakan-akan harus diputuskan saat itu juga setelah lulus.
Nggak bisa coba-coba kesana kemari seenak jidat lagi kayak sekarang.
Kalau salah harus ditanggung sendiri. Nggak bisa ditinggalin gitu aja.

Nggak enak.
Ditambah dengan proses skripsi yang super menjemukan. Seakan-akan revisi ini sungguh tiada berujung.
Karena saya sedang berada di tahap eneg banget sama skripsi saya sendiri (sebulan lebih tidak tersentuh, tepuk tangan!) maka yah namanya orang lagi songong, pikiran pun kemana-mana, dari yang mulai mempertanyakan filsafat skripsi... Mengapa skripsi itu ada? Siapakah pencipta skripsi? Apa pentingnya bagi kemaslahatan umat manusia? Bisakah skripsi memperbaiki kualitas peradaban dunia?
Kemudian otak saya meledak.
:))

Tapi, wisuda teman-teman saya hari ini membuat saya bahagia.
Happiness is all around there.
Wajah orang tua yang bahagia. Wajah teman-teman yang heboh super excited. Wajah pacar (buat yang bawa pacar ya) yang bangga.
That happiness is real.
Jadi esensi wisuda? Mungkin berbagi kebahagiaan. Sesimpel itu kok. Nggak usah dipikir macem-macem.

Mungkin memang benar—seperti yang salah seorang teman saya katakan tadi—hanya 12 jam setelah itu yang diwisuda sendiri akan mulai mempertanyakan lagi mau dibawa kemana hidup ini. Atau kalau yang sudah dapat kerja, “Apakah pilihan yang aku ambil ini benar? Gimana kalo salah?”

Seperti euforia habis resepsi pernikahan. And then, here comes the real life. After the honeymoon.
Dan seperti layaknya wejangan pernikahan modern, bukan perkara cepet-cepetan, tapi siap atau nggak siap.
Dan seperti layaknya wejangan pernikahan modern lainnya, tapi kalo kamu nunggu sampai siap, sampai kapanpun kamu nggak bakalan siap.
Jadi, mau lulus kayak gimana? Nampaknya itu hanya diri kita masing-masing yang sanggup mengerti :’)

But maybe, the point is.
We have to finish what we have started.
Entah bagaimana caranya.

Jadi ketimbang repot-repot memikirkan filsafat skripsi, mungkin ada baiknya saya mulai menyentuh skripsi saya lagi.

Lalu move on.
No matter how scary it’s going to be.

Mungkin setelah lulus nanti akan ada pilihan yang salah. Mungkin akan ada mengeluh nggak jelas setelah itu. Tapi, mungkin juga itu memang proses yang harus kita lalui. 


“Revisi itu cuma kita sendiri yang bisa mengakhirinya, Sar. Bukan dosen.” – Dinitya, 2013, mati-matian menyemangati saya yang lagi ngelokro.

Semangat Sarah! ^^

Selamat sarjana Nicodemus Triatmojo, S.Ked! Sabar-sabar ya dengerin aku pas curhat! :’)




Monday, May 20, 2013

Layang-Layang


1999
“Ayo main layang-layang Tiss!” Bima berteriak di depan rumah Tissa.
Tissa menengok dari balik jendela kamarnya. “Ngga mauu. Nanti item!”
“Kamu kan udah item, ngapain takut item! Hahaha!”
“Bima jelek nyebelin!”
“Makanya yuk ah!”
Butuh waktu 20 menit bagi Bima meyakinkan Tissa untuk ikut bermain layang-layang bersamanya. Toh akhirnya Tissa menurut saja mengikuti Bima bermain layang-layang di lapangan.
Berlari. Di tengah terik matahari.
Di antara semak dan rerumputan.
Tertawa.

2004
Kamu sih Tiss. Udah tahu juga si Adrian itu playboy kondang SMP kita. Masih aja dipacarin.”
“Kok kamu malah ngomelin aku siiih?” Tissa berteriak di sela isak tangisnya.
“Kamu dari dulu itu sama aja, susah percaya sama aku. Makanya, sekali-sekali nurut kalo dibilangin.”
Alih-alih mereda, tangisan Tissa malah semakin keras. Bima mulai panik.
Butuh waktu 20 menit bagi Bima untuk menghibur Tissa sampai akhirnya Tissa tersenyum dan bisa menghentikan tangisnya.
“Bima, pokoknya kamu harus janji sama aku, kamu nggak bakalan kemana-mana.”
Bima tersenyum sambil menyodorkan janji kelingkingnya. “Iya, janji… Nggak bakalan kemana-mana.”

2008
“Bima sayang banget ya sama Viera?” tanya Tissa pada suatu senja di sebuah kedai es krim mungil langganan mereka.
“Kalo nggak sayang, nggak mungkin bertahan sampe dua tahun, Tiss… Hahaha! Kok tiba-tiba nanya begituan?”
Tissa menyuap es krim ke mulutnya. “Kok bisa sih, Bim, tahan sampe dua tahun? Aku aja tiga bulan udah nyerah deh.”
“Berarti kamu belum pernah ngerasain yang namanya sayang, Tiss.” Ujar Bima diplomatis.
Tissa memandang Bima dalam-dalam penuh tanya. Selama ini Tissa yang cantik dan supel featuring Bima si pendiam selalu menjadi legenda di kalangan teman-temannya. Selain karena mereka sudah bersahabat dari balita, kenyataan bahwa mereka bisa benar-benar pure bersahabat selalu menjadi tanya teman-teman mereka.
“Kata Ninda, aku nggak bisa dapet pacar serius gara-gara ada kamu, lho, Bim.”
Bima tertawa terbahak. “Sukurin. Salah sendiri kenal aku.”
“Iihh… Mentang-mentang udah punya Viera!” Tissa mendengus kesal.
“Tiss.” Bima berkata, menggantung kalimatnya sejenak. “Aku tahu, kamu akan menemukan cinta versi kamu sendiri. Kamu cuma harus bersabar. Give the time, some time.”
Tissa memandang Bima tak mengerti.
Yang ia tahu, ia hanya merasa aneh.
Seperti ada kupu-kupu terbang di perutnya setiap kali ia melihat Bima.
Kupu-kupu yang terbang perlahan dari perut, menuju ke jantungnya. Menimbulkan sensasi aneh yang tak bisa Tissa jelaskan mengapa.
Butterflies, keep flying around…

 2010
“Gimana kabar Fatur, Tiss?” Bima berkata. Saat ini mereka sedang skype-an. Tissa kuliah di Melbourne, dan Bima di Jakarta.
“Fatur baik. Hahaha, emang bener kamu Bim. Ternyata aku harus ke luar negeri dulu baru nemuin cowok yang bisa serius sama aku. Hihihi.”
Bima memerhatikan ekspresi muka Tissa di layar laptopnya. Binar mata yang berkilau. Binar mata yang sama ketika Bima mengajaknya bermain layang-layang dahulu.
Seperti itulah mata Tissa ketika ia sedang sungguh-sungguh mengagumi sesuatu.
Dan Bima sangat mengerti itu.
“Eh… Viera gimana? Lancar paak?”
“She’s pretty. As always.” Bima tersenyum.
Tissa ikut tersenyum memandang Bima. Begitupun Bima.
Bima merasakan sesuatu yang ia tahu itu aneh. Kupu-kupu di perut, debar jantung tak menentu setiap koneksi skype mereka tersambung dan wajah ayu Tissa muncul di layar laptopnya.
Sudah dua tahun tidak bertemu. Bima sungguh-sungguh rindu.
Rindu gelak tawa Tissa setiap Bima mengeluarkan lelucon jayus bodoh, yang anehnya hanya Tissa yang bisa tertawa karenanya.
Rindu gaya ngomel Tissa ketika Bima jahil padanya.
Bima sungguh rindu.

To be continued….

Sunday, May 19, 2013

Aku Menangis



“Udah! Kamu nggak usah deketin aku lagi!! Aku kan udah bilang, aku benci banget sama kamu!!!” lengkingku.
Cewek yang ada di depanku tetap bergeming. “Plis, Cha. Aku nggak tau kenapa kamu bisa benci sama aku. Kasih tau aku alasannya Cha…”
“Alah…. Nggak usah sok suci gitu deh! Eneg ngeliatnya!”
Gizza meringsek maju, mencoba mendekatiku. “Aku nggak mau punya musuh…”
PLAAKK!!! Akhirnya aku menamparnya, ini udah kali keenam aku menampar orang ini. Gizza langsung bercucuran air mata. Dua orang teman yang ada di sebelahnya langsung menatapku marah dan sibuk mengelus-elus pipinya.
“Giz, kamu nggak papa kan?” kata salah seorang dari mereka.
“Udah yuk Giz, kita pergi aja, dia itu emang sinting. Udah aku bilang kan, ngomong sama Echa tuh nggak ada gunanya. Lagian kamu kan nggak salah Giz...” Yang lain menyambung.
Gizza hendak mengajakku bicara lagi. Tapi aku sudah pergi meninggalkan dia.
Aku benar-benar membenci Vergizza Natasha.

***

Namaku Echa, kelas 2 SMA.
Dulu, aku benar-benar cewek populer. Puluhan cowok memperebutkan aku, temanku nggak kehitung jumalahnya, aku supel, aku cerdas, aku punya keluarga yang sangat hangat, ayahku pengusaha tekstil sukses, dan yang jelas… aku sangat cantik.
Tapi sekarang semuanya sudah berubah.
Dan itu semua gara-gara…
VERGIZZA NATASHA.
Dulu, waktu dia pertama kali memperkenalkan diri sebagai anak baru di kelasku aku menganggapnya biasa. Oke, dia memang cewe indo dengan wajah khas yang cantik, lincah, dan percaya diri. Cuma itu. Nggak lebih. Sikapku juga biasa saja, aku malah yang pertama kali mengajaknya berkenalan.
Lambat laun semuanya berubah. Gizza mulai menarik perhatian teman-temanku. Satu persatu semuanya berpindah ke tangan Gizza. Nggak hanya itu, cowok-cowok juga mulai antre kepingin jadi pacarnya.
Saat itu, firasatku mulai nggak enak. Tapi aku nggak terlalu memusingkannya, toh aku juga masih bisa cari teman lain dan lagipula... aku juga sudah punya cowo yang keren, Agha.
Namun sayangnya ternyata pengaruh Gizza buatku ada session keduanya. Papa sering banget nggak pulang ke rumah. Dan mama curiga papa sering transfer uang ke rekening lain yang nggak jelas punya siapa.
Kekhawatiranku terbukti. Papa selingkuh. Dan papa selingkuh sama mamanya Gizza yang ternyata seorang single parent yang masih muda. Akhirnya papa dan mama memutuskan buat cerai. Gilanya, adikkupun hak asuhnya dimenangkan sama papa. Saat itu, Gizza mati-matian minta maaf ke aku dan bilang kalo sebenernya dia juga nggak setuju mamanya menikah sama papaku. Tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini semua kemauan mamanya. Waktu itu dia minta maaf ke aku, tentu sajaa,  sambil nangis-nangis. Cih.
Saat itulah rasa benciku ke Gizza mulai sedikit demi sedikit menumpuk. Pelan tapi pasti seiring dengan bertambahnya waktu, melihat gayanya yang manja, sifatnya yang sangat sensitif, cara bicaranya yang menye-menye, dan segala usahanya untuk tetap berteman denganku membuatku muak melihat mukanya.
Itulah yang membuat aku selalu ketus pada Gizza. Nggak jarang aku membentaknya, memaki dia dengan kata-kata kotor, pokoknya segalanya, untuk bikin dia menderita. Itu membuat teman-temanku perlahan mulai membenciku, menjauhi aku, menggunjingkan aku. Eh, itu lho… Echa… masak Gizza dilabrak. Gizza kan nggak pernah punya salah apa-apa. Cewek sirik. Kegatelen. Males banget nggak siih? Dan seribu gunjingan lain yang nggak jarang mereka lakukan di depan hidungku.
Aku akhirnya Cuma tinggal di rumah kontrakan kecil berdua mamaku. Hidup kami Cuma bergantung sama warung kecil mama dan sekali-sekali kalo papa sedang berbaik hati memberi kami uang.
Entah karena perceraiannya dengan papa atau bagaimana, sekarang mama jadi sakit-sakitan. Vonis dokter yang terakhir, mama kena paru-paru basah. Akhirnya, karena penyakit mama ini terpaksa akulah yang harus menggantikan mama berjualan di warung. Sekali lagi, rasa benciku ke Gizza makin dan semakin bertambah.
Mungkin karena nggak bisa membagi waktu antara sekolah, jaga warung dan belajar, prestasiku mulai menurun. Aku yang dulu minimal ranking 5 di kelas, sekarang nggak dapet ranking. Sementara Gizza, dengan mudahnya dia dapet ranking 2. Aku semakin membencinya.
Saking bencinya aku sama Gizza, aku berkali-kali berniat membunuhnya. Benar-benar membunuhnya. Dalam artian membunuh yang sebenarnya. Dia nggak Cuma sekali nangis karena aku, nggak Cuma sekali nangis di depan umum karena aku. Nggak Cuma sekali tersedu di depanku. Dasar cewek licik, nangis di depan umum? Buat apa? Buat narik simpati temen-temen aja kan?? Sok baek! Begitu bentakku saat itu.  
Aku bersumpah, aku nggak akan pernah nangis di depan dia. Aku nggak akan kalah.
Walaupun sebenarnya tanpa dia sadari… aku juga menangis! Mungkin malah frekuensinya lebih sering daripada dia. Di belakangnya aku terus menangis. Menangisi segalanya.
Aku nggak sanggup nangis di depan mama. Aku nggak mau curhat sama mama yang sedang sakit. Aku nggak mau bikin mama sedih…
Puncaknya, saat aku sedang kalut-kalutnya dengan sekarung masalah yang menimpaku, aku mendapat kecelakaan. Waktu itu, aku lagi ngebut dengan speed gila-gilaan bersama motor bekasku, satu-satunya hartaku yang berharga, mungkin karena pikiranku lagi melayang-layang, aku menabrak mobil. Mobil Ferrari merah punya Gizza.
Akibatnya, karena luka yang terlalu parah, tak hanya kaki tangan dan punggungku saja yang jadi korban, mukakupun turut serta.
Wajahku hancur total Aku benar-benar ingin bunuh diri! Dan nggak hanya itu, efek keduanya, aku difitnah sengaja melakukan percobaan pembunuhan ke Gizza. Teman-teman semakin menjuhiku. Yang bikin aku semakin gondok, Gizza sehat wal afiat. Kerugian yang dialaminya Cuma satu, mobil Ferarrinya yang mengkilat itu peyok. Aku kecewa, kenapa dia nggak mati aja sekalian??
Satu-satunya orang yang bisa kujadikan tempat adalah Agha, pacarku yang selalu bersamaku selama 3 tahun. Hanya Agha yang bersedia menerimaku apa adanya. Walaupun udah dalam kondisi hancur lebur lahir batin kayak gini. Di dadanyalah aku menangis, aku meraung, memarahi Gizza, mengumpat Gizza. Hanya Agha yang bisa mendinginkan emosiku kalo lagi panas-panasnya.  Dan hanya dia jugalah yang mencegahku untuk... yah... untuk membunuh Gizza. Aku serius.
“Echa… dengerin aku, Echa yang aku kenal itu nggak kayak gini. Kamu harus kuat. Aku percaya kamu bisa…” itulah yang dia katakan kalau aku sedang untuk yang kesekian kali, menangis di dadanya.
“Aku benci, Gha. Aku benci banget sama cewek itu… kenapa kamu selalu mencegahku buat bunuh dia…?”
“Echa…” Agha menyentuh kedua pipiku yang basah oleh air mata. “Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Tolong Cha, jangan bikin aku takut. Kamu kan juga tau, membunuh orang itu dosa…”
Aku menangis lagi dan menelungkupkan wajahku lebih dalam ke dadanya. Aku sendiri heran, masih ada cowok normal yang masih bisa menerima pacarnya memiliki niat menjadi pembunuh. Sudah sepatutnya Gizza berterimakasih padanya, coba Agha nggak ngomong seperti ini, pasti sejak dulu dia sudah mati!

***

Itu adalah awalnya.
Saat ini, detik ini, pulang sekolah,  aku sedang melihat Agha dan Gizza berduaan di pojok sekolahan. Mereka berdua tertawa. Tertawa sangat lepas. Gizza memukuli Agha dengan tasnya. Sementara Agha Cuma pura-pura kesakitan.
Mereka berdua benar-benar bahagia. Belum pernah aku melihat Agha tertawa selepas ini, sebebas ini.
Matanya nggak bisa berbohong.
Aku melihat cinta di matanya.
Lalu aku melihat Agha pamit pada Gizza sebelum akhirnya ia mencium pipinya.
Agha berlalu sambil membalas lambaian tangan Gizza.
Mereka berdua, sangaaaaat bahagia…
Sangaaaat bahagia……
Dan aku nggak bahagia.
AKU NGGAK BAHAGIA.
Saat ini sudah sore. Sekolah sudah sepi. Matahari sudah mulai tenggelam dan semua guru juga sudah pulang.
Aku melihat sebuah pisau mengkilat di meja kantin tempat aku berdiri sekarang. Pisau besar yang tajam mengkilat. Indah sekali. Aku bahkan bisa berkaca menggunakan pisau itu.
Aku rasa, aku harus melakukannya.
Dengan membawa pisau itu aku menghampiri Gizza yang wajahnya langsung pucat pasi. Sementara aku, aku menyeringai lebar-lebar. Haha!
“Kamu... kamu… mau ngapain Cha?? Pi… pisau itu…” dia menanyaiku gagap. Wajahnya terlihat penuh dengan ketakutan. Oho… aku senang melihatnya.
Lalu tiba-tiba aku merasa pipiku basah. Terus, walaupun tanpa isak. Ya ampun, aku menangis di depannya. Astaga, kenapa ini? Aku benci menangis, tapi air mata ini keluar sendiri. Aku Cuma merasa dadaku sesak, tapi kenapa harus menangis? Di depannya pula! Astaga. Damn. Aku kalah…
“Kenapa kamu lakukan semua ini ke aku, Giz..?” tanyaku dengan suara bergetar sambil memepetnya ke tembok. “Pertama kamu ambil teman-temanku, kepopuleranku, keluargaku, wajahku, hartaku…” suaraku semakin bergetar.
“Cha… tenang Cha..”
“DAN SEKARANG KAMU AMBIL PACARKU!!!!” aku meraung keras mendekatkan pisau ke lehernya.
“Giz… gizza… maksud kamu?”
“HAH? COWO? PURA-PURA NGGAK TAU LAGI… AGHA TUH COWOKKU!!!!” aku meraung bercucuran air mata. “HIDUP KAMU TUH KURANG APA SIH? KENAPA KAMU JUGA MASIH PENGEN NGAMBIL COWOKKU??!!!”
“Echa…” Gizza sekarang sudah menangis. Wajahnya putih pucat pasi seputih tembok.
“KAMU SUDAH AMBIL SEMUA KEBAHAGIAANKU!!! KAMU SAMPAH! KAMU BUSUK!!!”
“Aku nggak bermaksud, Cha…”
“BOHHOOOONNG!!!!!” aku menancapkan pisauku langsung ke perut Gizza. Cepat dan keras. Nggak pake basa-basi. Darah langsung bercipratan kemana-mana.
“Cha… sakit…” dia berkata. “Jangan Cha…”
Upss… ternyata cewek tengil ini masih hidup. Shit! Bagaimana aku bisa salah menancapkan pisau? Kenapa darah malah bercucuran dari kakinya?
“AKU BENCI SAMA KAMUUU!!!!” aku mencabut pisauku lagi dan berusaha menacapkannya di perut Gizza.
Yes! Berhasil! Cewek ini sekarang sekarat. Darah mengalir deras dari perutnya. Aku menang telak!
“So… ss..sorry Cha…” dia mendesah.
Kenapa dia masih hidup?
“AKU NGGAK BAKALAN MAAFIN KAMU!!” raungku. “NGGAK! NGGAK! NGGAK!!” aku menacapkan pisauku lagi berulang-ulang ke perutnya. Membuat darah bercipratan kemana-mana sampai ke mukaku.
Yang aku tahu setelah itu Gizza nggak bersuara lagi. Matanya kosong tanpa cahaya kayak dulu lagi. Dia nggak bakal ketawa lagi. Justru malah sekarang aku masih bisa melihat sisa air mata di kelopak matanya. Haha. Aku berhasil membuatnya mati dengan tangis.
Dia nggak bakal ada di hidupku lagi.
Finally. Aku menang dalam pertarungan ini.
Aku memandangi pisau penuh darah di tanganku sebelum akhirnya menancapakannya sendiri ke dadaku.
Aku menangis….



Jogja, April 2008