Thursday, May 3, 2012

Filsafat adalah Quote


“Filsafat adalah quote”

Statement ini saya ambil dari salah seorang teman saya saat kami sedang pusing-pusingnya mendengarkan kuliah Filsafat Komunikasi -__- Seperti kebanyakan manusia pada umumnya, I just don’t get filsafat karena filsafat yang saya mengerti itu juga ujung-ujungnya pasti lari ke filsafat asmara—dasarnya otak udah otak bawaan galau begini kali ya.

Saya punya kebiasaan, kalau sedang cunthel di kelas, saya akan otomatis coret-coret enggak jelas di blocknote saya. Entah darimana rutinitas ini berasal, tapi tiap saya (dan teman-teman saya) menemukan quote-quote galau, kami langsung menuliskannya di blocknote saya ini.

Blocknote saya ini bikinan salah satu teman saya namanya Astrini, seperti ini bentuknya:

gambar diambil dari blognya Astrini, bisa diklik disini

Dan ternyata materi kuliah saya yang paling saya sukai itu justru hasil coret-coret enggak jelas itu :p Quote-quote nan unyu tersebut akan saya tulis di halaman-halaman belakang blocknote. Jadi bisa ditebak, blocknote saya isinya quote-quote kegalauan yang semuanya didapat dari mana saja, bisa dari teman-teman saya, bahkan dari dosen. Padahal si dosen ngomongin materi kuliah, tapi di kepala, jatuhnya ya galau asmara, huehehe.

Jadi, ketika si dosen menanyakan kepada kami, “Menurut kalian, filsafat itu apa?”

Dan teman saya nyeletuk, berbisik kepada saya, “Filsafat adalah quote.”

Kemudian saya meringis setuju, kembali membuka-buka blocknote sakti saya yang isinya adalah quote-quote, dari yang beneran, sampe yang koplak.

“Semakin sulit seseorang untuk dicintai, semakin ia membutuhkan cinta” - @MarioTeguh via ibuknya @astriniw (kata astrini, teman saya, tiba2 ibuknya nge-BBm quote ini ke dia. Ibuknya selo ._.)

“Kalo IP-nya bagus, nanti sama Tuhan dikasih pacar yang bagus juga” - @astriniw

“Cowok itu kayak sepatu, cari yang nyaman… dan bisa diinjek-injek” – Intan Kurnia (melipir ah, nggak ikut-ikut :p)

“Cowok hanya bisa berusaha, cewek yang menentukan” - @agustaep, kemudian dilanjutkan “tapi usahanya harus maksimal, Tang, jangan setengah-setengah.” - @fitaarmela

“Brand: I can live without it, but I choose to live with it.” - @PulungUci (mbak Pulung ini dosen saya, quote ini diucapkan ketika kelas Brand Management. Oke, kasta cinta tertinggi adalah ketika kita sudah bisa menganggap seseorang seperti… brand. Huik :p)

“Satu-satunya cara untuk menjaga perasaan adalah dengan selalu mengingat kalau kalian gak selamanya.” - @dvpndtm

“Mantan itu cemilan, masalahnya orang lebih suka nyemil.” - @hawwinbf

“Bribikan itu kayak pop-corn caramel, manisnya diujung doang, kalo udah abis, yaudah…” -@jengmand

“Merek: Semakin kamu mencoba melupakannya, semakin ia mencengkeram erat ingatanmu. “ – mas Sulhan, dosen Marketing PR

“Saking deketnya, sampe nggak keliatan. Butuh orang lain supaya kita bisa lihat dan sadar.” - @PulungUci

“Apa bedanya mencintai kursi dengan mencintai pacar? Kalo dengan kursi, kita nggak pakai empati saat mencintainya. Mencintai pacar, harus pakai empati, jadi kita bisa merasakan penderitaannya, kalau mencintai pakai empati, cinta kita akan lebih bermakna.” – Dosen Filsafat UGM *quotenya filsafat banget, tapi unyu.. :’(

“It takes time to build a loyalty. You just don’t need a reason to be loyal to a “brand” you just relate to it, it’s all about sense.” - @PulungUci

“Nggak papa cowokku nggak ganteng, yang penting dia nggak suka sama yang ganteng.” - @AnnisaIT

“Aku nggak peduli sama hubungannya, aku peduli sama tujuannya.” - @hawwinbf

“Karena lo gak cocok jadi masa depan gua, makanya gua jadiin lo masa lalu.” - @winads

“Should be a relationship that: mutual benefit, relaxed and friendly, long term, a working relationship with shared responsibilty.” – Mbak Betty, dosen manajemen Periklanan

“The most productive relationship are those where give and take is art of the understanding and each party has mutual respect for the others.” – Mbak Betty lagi :p

Ini hanya beberapa quote dari sekian banyak quote yang sudah terkumpul di blocknote saya. Menurut saya, materi kuliah terpenting justru quote-quote koplak yang ada di halaman belakang block note saya ini :p Walaupun keliatan banget kalo pas lagi kuliah saya menghabiskannya dengan ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman saya, tapi membacanya lagi bikin ketawa-ketawa sendiri sebenarnya.

Saat ini sudah menginjak halaman ke -8 Kumpulan Quote Galau di blocknote saya, dan saat saya sedang beranjak untuk mengakhiri semester keenam saya. Semester akhir, dimana saya harus mulai bersiap untuk kehilangan momen menggalau bersama sahabat-sahabat saya.

This is the art of galau. Kalau kata seorang teman, galau itu adiktif. Someday, saya akan sangat merindukan saat-saat menggalau dengan mereka semua.

*lah kok jadi mellow*

Intinya, galaulah sebelum galau itu dilarang ;p

Cheers! :)

Wednesday, May 2, 2012

Menunggu Batara Mendarat

Untuk Batara.
Yang sedang terbang.

Memangnya gampang, melewati setiap sudut kota setiap hari dan merasakan jiwamu di setiap sudutnya?

Aku masih ingat. Bagaimana aku pertama jatuh cinta padamu. Aku kelas 1 SD, kamu kelas 5 SD.
Aku bingung, sendiri di taman itu. Anak baru. Tanpa teman.
Sampai mataku tertuju pada sebuah ayunan besi. Ayunan yang bisa diduduki empat orang tapi dan akhirnya hanya kududuki sendiri, karena aku belum kenal siapapun. Juga tidak berminat mengenal siapapun.

Lalu kamu datang, tiba-tiba saja tanpa ba-bi-bu memasuki ayunanku, ayunan yang sudah kukuasai, dan berkata, “Aku jadi pilotnya ya!”
Aku hendak menangis, sebelum kamu dengan sekuat tenaga mengayun-ayun ayunan berat itu dengan kekuatanmu. “Aku pilotnya, kamu pramugarinya! Mau kemana kita?”
“Ke Jogja!”
“Loh, memang ada apa di Jogja?”
“Aku mau ketemu mamahku.”
“Okee. Kita berangkat ke Jogja, ngeeeeeng. Pesawat siap lepas landas ke Jogja, penumpang harap memasang sabuk pengaman. Ngueeeeeng.”
Dan itu pertama kalinya aku tertawa terbahak. Pertama kalinya di kota asing ini.

Batara, aku harap kamu mengingatnya juga.

Kamu, Batara, selalu ingin menjadi pilot. Kamu, Batara, rajin sekali belajar.
Katamu, kamu ingin menyentuh langit seperti namamu, Batara Jumantara, yang berarti Dewa Langit. Kamu ingin terbang diantara angin. Ingin menembus awan nan mempesona. Bahkan kamu ingin menyentuh bulan.
Tidakkah kamu sadar bahwa kamu adalah langitku? Kamu adalah anginku, awanku, dan bulanku?

Gara-gara kamu, untuk pertama kalinya di kelas 3 SD, aku mandi pagi lebih lama, pakai parfum wangi agar kamu sadar keberadaanku. Gara-gara kamu, aku suka Manchester United. Gara-gara kamu, aku ikut-ikut suka David Beckham. Bayangkan, ketika teman-temanku sibuk menggemari Amigos aku malah repot menelan info tentang David Beckham. Hanya supaya bisa mengerti semua kegemaranmu!

Gara-gara kamu aku rela ikut klub basket ketika SMP. Dan tahu nggak, aku bahkan sama sekali nggak paham olahraga yang satu itu. Aku cuma tahu, aku senang membawa pulang handuk yang basah oleh keringatmu dan botol minum warna merah marun yang selalu kamu teguk habis isinya sambil berkata, “You are cool! Bisa apa aku tanpa kamu?”
Dan sepanjang hari berikutnya aku akan senyum-senyum saja dengan kebahagiaan yang fully charged oleh kamu. Padahal kakiku serasa mau copot karena harus pemanasan keliling lapangan 100 kali.

Tapi kamu, Batara. Tetap ingin jadi pilot.
We hugged, we kissed, we shared stories.
Dan kamu, Batara, tidak pernah berhenti ingin jadi pilot.

Aku sangat senang, Batara. Kamu akhirnya benar-benar menjadi pilot.
Kamu terbang, bebas, kamu menembus awan, kamu menyentuh langit.
Sampai suatu saat kamu terbang, dan tak mendarat.
Sampai suatu saat kamu tak lagi pulang kepadaku.

Orang-orang berkata aku harus merelakanmu pergi, menuju langit.
Aku tidak percaya.
Karena hanya aku tempatmu akan mendarat.
Karena cuma aku seseorang yang menunggu kamu mendarat. Mendarat di bandara, mendarat lagi di hati, dan kembali padaku.

Cepatlah mendarat, Batara.
Aku tengah menatap pusaramu yang hening. Menatap setiap peluk, cium, dan cerita yang kamu berikan kepadaku. Cepatlah mendarat, Batara. Aku rindu.

2 Mei 2012,
(masih) menunggu kamu mendarat.

Tuesday, May 1, 2012

Karena Menulis adalah Berlibur

Buku harian pertama saya, dari covernya aja udah genit...

Writing is a very personal thing, at least, for me.

Saya pertama menulis, menulis dalam bentuk cerita adalah ketika saya memiliki buku harian pertama saya saat kelas 4 SD. I still kept it. Hanya untuk tertawa senyum-senyum sendiri melihat betapa besar energi saya untuk menulis SATU HALAMAN, SETIAP HARI, selama DUA TAHUN!

Buku harian tersebut warnanya pink, dengan gambar Minnie Mouse. Yang kemudian mengingatkan saya, betapa saya sangat selo, untuk setiap hari menulis, SATU HALAMAN PENUH. Selalu, enggak pernah enggak. Selama dua tahun tersebut, hanya ada satu dua kali saya absen nggak nulis, dan dengan selonya juga, saya menulis permintaan maaf sama diary itu kalo kemaren enggak sempet nulis -__-

Semakin tua, saya tentu saja masih suka menulis. Namun tentu saja dengan frekuensi dan intensitas yang jauh berbeda. Menjelang SMP, I bought a new diary, yang masih saya pergunakan sampai saat ini. Bisa dibilang buku harian itu adalah harta saya yang paling berharga, dan saya akan menangis hebat kalo sampai buku harian itu hilang…. atau kebuang deng (selo banget Sar ada yang mau nyolong diarymu). Tidak seperti ketika SD, buku harian biru ini hanya diisi ketika saya sedang mood nulis, atau sedang ingin melampiaskan sesuatu (mostly sih ketika galau huehehehe)

Menulis lama-lama menjadi kegiatan yang saya lakukan hanya ketika saya selo. Menulis menjadi sasaran keseloan, sasaran ketika saya sedang mood berpujangga, sasaran ketika saya galau, ketika sedih, dan juga ketika sedang bahagia.

Singkat kata, menulis adalah eskapisme. Pelarian untuk segala rutinitas saya. Menulis adalah satu-satunya kegiatan yang saya lakukan tanpa terpaksa (pengecualian untuk menulis tugas kuliah .__.), menulis adalah kegiatan tersier, mewah bagi saya, dan saya konsumsi jarang-jarang, dimana ada sebuah kesenangan yang sulit dijelaskan ketika saya selesai menyelesaikannya.

Dan saya teringat kembali pada diary Minnie Mouse Pink saya yang tergeletak berdebu di laci meja belajar saya. Mengingat bagaimana saya yang dulu bisa menulis setiap hari, and amazingly… there is always a story. Everyday! Gusti aku selo banget dulu… selo dan bahagia -__- Dan kalau saya dulu dengan bahagia melakukannya, mengapa sekarang saya tidak mencobanya lagi?

Jadi proyek selo #31HariMenulis yang diadakan kakak-kakak senior di kampus saya seperti menjawab betapa saya ingin kembali selo untuk melakukan kegiatan mewah ala saya ini. Mungkin, kasta selo tertinggi adalah ketika kamu rela mengorbankan waktu selomu untuk melakukan hal yang luar biasa selo. *halah*

Yes, #31HariMenulis is about commitment.. and concistency. Ah, konsistensi adalah sesuatu yang paling sulit dilakukan di dunia ini, menurut saya. Jadi sebenarnya agak nekat juga bagi saya untuk ikutan proyek ini, 31 tulisan dalam sebulan lho Bro! Mau nulis apa aja ituuu -_- Secara selama ini, saya selalu nunggu wangsit tiap mau nge-blog. Artinya saya harus galau dulu, dan setelah mendapat hikmah dari kegalauan tersebut, baru deh saya tulis. Masak saya harus galau setiap hari? Nggak mau kan ada mahasiswi UGM, 21 tahun, edan karena kebanyakan galau setelah proyek #31HariMenulis (abaikan…)

Dan agak pusing juga mengingat satu kali enggak nulis means denda 20 ribu. Mayan banget itu denda bisa dipake beli mobil *lebay*

Walaupun saya bahkan juga belum tau besok bakalan nulis apa (kebayang dua puluh ribu di depan mata) tapi, demi buku harian Minnie Mouse Pink, kuikuti program ini dengan Bismillah.. *ketok palu sambil pegang tasbih*

Ya, menulis telah bertahun-tahun menjadi kegiatan tersier saya. Seperti halnya liburan yang di buku-buku jaman SD dikategorikan sebagai kebutuhan tersier. Kegiatan tersier itu, jarang dilakukan, mewah, dan ada unexplained happiness setiap saya melakukannya, kebahagiaan yang sifatnya personal. Tapi, demi hidup yang enggak gitu-gitu aja, anggap saja saat ini saya lagi mau hedon! Tiap hari beli mobil, tiap hari liburan! *self suggestion*

Happy writing, saya, happy writing, 62 teman-teman selo lainnya! Huh hah! Dan tunggu tulisan-tulisan selo selanjutnya, langsung dari blog akuuhhh *dibalang sendal*

Selamat Berlibur! :D

*31 Hari Menulis adalah kegiatan yang intinya mengajak teman-teman Komunikasi UGM untuk menulis maraton selama 31 hari dimulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 31 Mei 2012. Setiap harinya peserta akan diwajibkan menulis satu tulisan untuk diposting ke blog atau note facebook. Blog 31 Hari Menulis bisa dilihat disini

Wednesday, January 4, 2012

Terminologi Waktu


Saya selalu menunggu wangsit tiap hendak menulis blog. Tapi entah kenapa, wangsit saya nggak kunjung datang belakangan ini. Jadi saya punya tekad, mboh piye carane pokoknya tahun baru saya harus nulis sesuatu. Apapun itu, jadi, dengan segenap niat, jadilah tulisan ini, itupun baru jadi setelah saya minggat dari Jogja selama 3 hari -___-


Sebenarnya dan sebenarnya, saya selalu ingin membahas variabel yang satu ini. Waktu, ya waktu. Variabel ini, entah mengapa, sangat menarik.

Kalau kata Djenar Maesa Ayu, “Waktu memang aneh. Bisa menjelma jadi mantri sakti pemulih sakit hati. Bisa pula membunuh semua harap seperti seorang algojo keji”

Iya, waktu memang aneh. Di satu sisi, waktu menjadi penyangga seluruh orang untuk terus hidup, belajar, bekerja, dan berusaha. Di sisi lain, waktu mampu menghabisi, meninggalkan cemas.

Jadi jika ada orang bertanya, di manakah kita hidup, maka saya akan menjawab, “Kita hidup di dalam waktu.”

We can’t turn back time. Saya suka heran sendiri kadang-kadang bagaimana waktu bisa merubah seseorang. Atau bagaimana waktu ternyata tetap tidak bisa merubah seseorang. Bagaimana waktu bisa membuat kita lupa. Atau bagaimana waktu justru tetap tidak bisa membuat kita lupa. Bagaimana juga waktu menjadi pemahat kenangan paling handal, jadi semakin lama ia memahat, semakin dalam pahatan yang diukirnya--haseeek.

Beberapa keputusan dalam hidup manusia bahkan muncul simply karena waktunya tepat. Mungkin itu juga yang menyebabkan banyak pasangan bertahun-tahun pacaran akhirnya nggak menikah, dan akhirnya malah menikah dengan seseorang yang cuma dipacarin beberapa bulan-dan tetap hidup bahagia! Justru kalau ketemunya dari dulu-dulu mungkin mereka malah enggak bakal saling jatuh cinta.

Timing. Buat saya, timing adalah segala-galanya.

Sayangnya, kita tidak bisa tahu kapan timing yang tepat bagi kita untuk melakukan A, melakukan B, atau melakukan C.

***

Seorang teman saya pernah nyeletuk, “Kenapa sih orang-orang suka bikin resolusi tiap tahun baru? Aku nggak pernah bikin. Soalnya pasti cuma inget di awal doang.”

Iya sih, bener juga kata teman saya itu. Jadi alih-alih membuat resolusi, saya sih sebenernya lebih seneng flashback, mengingat little things we should appreciate yang akhirnya membentuk sekian persen dari pribadi kita saat ini. Kalau 2010 adalah tentang love and dreams, 2011 sebenarnya sama sekali bukan tentang kedua hal ini. Sama sekali bukan malahan. 2011 adalah tentang menemukan hal-hal kecil, dan lebih membentuk ikatan emosional akan semua hal itu.

So, the things are:

1. Baru sadar, ucapan terima kasih paling gagu diucapkan adalah ketika bayar parkir ke abang parkir. I’m so bad on multi tasking, apalagi sambil berkendara, nah ketika nyetir + ngeliat jalan udah sepi apa belum + buka jendela + ngasih duit parkir + bilang “makasih pak!” = SUSAH BANGET. Hasilnya ucapan terima kasih saya jadi aneh dan gak konsen gitu. Practice berkali2 tetep gak bisa. Maaf ya pak -__-

2. Menghadiri dua nikahan teman seangkatan *ngilang*

3. Menobatkan lumpia Semarang dan roti Maryam sebagai dua snack teromantis abad ini. Tidak sekedar dewa, mereka berdua adalah Tuhan!

4. Belum bisa berhenti makan Pop Mie. Hiks.

5. Adalah account twitter @GojekGentho yang saya buka ketika saya lagi suntuk dan easily made me guling-guling ngakak. Lucu lho. Siapa sih adminnya? Orang Jogja katanya :D

6. Setelah bertahun-tahun nyari, akhirnya menemukan bakul Bakpao Goreng di dekat rumah. Dan bapaknya baek dan lucu banget. Mungkin jodoh itu sebenernya kayak bakul bakpao goreng. Dicari bertahun-tahun gak ketemu, begitu udah lupa buat nyari, malah ketemu, di deket rumah lagi. *malah* By the way, you should try this, abangnya mangkal di deket CK Seturan, enak banget, anget, apalagi yang isi coklat J

7. Adek saya yang pertama belum putus-putus sama pacarnya *terpenting 2011*

8. Adek saya yang bungsu masih suka peluk-peluk saya, padahal dah SMP. Ah gak papa, sayanya juga seneng sih :-p

9. Dengan noraknya, pas nonton Ramayana Ballet Prambanan memberanikan diri nekat foto bareng turis Jepang terganteng yang juga papah muda seksi idaman, plus anaknya juga! Yuhuu!

10. Bapak parkir Fisipol, sebagai bapak teramah dan paling perhatian tahun ini :)

11. Ayam Geprek Bu Rum cabe satu pake terasi dan tomat, sarapan paling maknyuss. Wenak, murah meriah dan kenyang.

12. Tidak sengaja menemukan dua blog, satu tumblr, yang mem-plagiat blog dan tumblr saya :( dan satu account Facebook yang status-statusnya copas dari twit saya *sumpah nek sing twit iki penting banget* Sempet betek tapi yaudahlah. Glad to inspire you ya, mbak-mbak *kibas rambut* Ya gimana, guwhe febeles banget sih ya -___-

13. Sudah terlalu tua untuk membaca Go Girl, dan masih belum sanggup baca Cosmopolitan, apalagi Femina, maka beralih membaca Cleo. Dengan rubrik favorit His Say—artikel untuk cewek yang ditulis oleh cowok memang lebih asoy :p

14. Percakapan paling ndagel terjadi ketika saya dan keluarga bervakansi ke Jakarta untuk merayakan tahun baru. Yak, antara Polisi Bertutur Kata Lembut Penuh Kode (PBKLPK) vs Papah Saya

PBKLPK: Maaf pak, anda melanggar marka jalan. Seperti yang anda lihat, ini marka jalan, nah, tadi bapak berkendara melewati garis ini pak..

Papa: Oh, wah, iya pak…

PBKLPK: Asal dari mana, Pak? (sambil cek SIM dan STNK)

Papah: Jogja, pak.

PBKLPK: Mau liburan ya pak?

Papah: Iya, ini mau tahun baruan sama keluarga.

PBKLPK: Nah, bapak melanggar lalu lintas. Oleh karena itu bapak kena tilang ya pak. Bagaimana?

Papah: Oh, iya-iya iya…

PBKLPK: Tapi bapak dari luar kota kan?

Papah: Lah, iya pak, dari luar kota *tetap kalem*

PBKLPK: Beneran pak, nggak apa-apa ditilang?

Papah: Ya, saya kan salah, ya harus ditilang dong pak. (Paaah… please deh! -_-)

PBKLPK: *tatapan penuh kode*

Papah: ……

PBKLPK: Mm, kami punya kebijakan khusus untuk pengendara luar kota, bisa memilih mau sidang atau pembayaran tilang di..

Papah: *keluarin duit 50rebu*

PBKLPK: Baik bapak, lain kali harap diperhatikan ya pak marka jalannya. Jangan melanggar lagi ya pak. Semoga selamat sampai tujuan.

Papah: Siyap pak polisi! *papah… -___-*

PBKLPK: Selamat menempuh perjalanan, hati-hati di jalan, pak. *dadah-dadah cantik, kipas-kipas duit 50rebu--oh, sori, kalo yang ini lebay aja sih saya*

Dan sebenarnya yang paling aneh, kejadian ini terjadi tepat di depan kantor Polda Metro jaya yang megah amboy itu. Tur yo kok si papah ndadak mbajul si polisi to yo -_-

Hanya di Indonesia :)

15. Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Antologi Rasa dan Madre – three life changing books. Cacing dan Kotoran Kesayangan untuk segala kebijakan sederhana di dalamnya, Antologi Rasa untuk hal-hal rebel-nya, yah, whatsoever, tapi hidup itu nggak unyu dan lembek, hidup itu keras dan penuh intrik bro, nah Antologi Rasa menyuguhkan rebelitas keren yang menawan dalam novelnya. Hidup rebel! Nah yang terakhir, Madre, karena menyajikan hal-hal kecil manis yang melumerkan hati.

Yup, Bijak, Rebel, dan Manis, ketiganya menyeimbangkan, menurut saya, ketiga novel ini simbol kehidupan. Cihuy.

16. Self Concept. Bahasan kuliah di mata kuliah Riset Pemasaran yang terngiang-ngiang sepanjang masa dan sayangnya di kepala saya larinya malah ke falsafah hidup, bukannya ke Pemasaran. Blame this galau-brain -_-

Self-Concept

5 semester menjadi mahasiswi Ilmu Komunikasi membuat saya tidak lagi asing dengan istilah self concept. Actually this is a very interesting concept loh. *macak pinter sikik, gais*-- kalo saya abis ini dikampleng anak Psikologi gara-gara ternyata ada yang salah ya harap makelum, saya cuma melihat ini dari persepsi awam :p

Dan kemarin, pas kuliah Riset Pemasaran konsep ini kembali dibahas. Entah kenapa pikiran saya jadi kemana-mana lagi.

Self concept atau konsep diri pada dasarnya merujuk untuk istilah dimana setiap manusia memiliki 4 sisi kepribadian. Bagaimana dia melihat dirinya sendiri, bagaimana dia ingin dirinya menjadi seperti apa kelak (ideal self gitu deh), bagaimana orang-orang melihat dirinya, dan bagaimana dia ingin terlihat di depan orang-orang.

Empat-empatnya ini sebetulnya bisa jadi sangat berbeda.

Pernah nggak kamu melihat seseorang begitu independen dan mandiri? Atau malah kebalikannya rapuh dan manja? Pertanyannya, benarkan mereka benar-benar seperti apa yang terlihat?

Oke serius, 4 sisi ini mungkin muncul karena dalam hidup, kita selalu mengkompensasi segalanya. Ini alamiah, tubuh kita juga seperti itu, seperti kalau kita terkena penyakit, kita demam. Lama-lama saya mikir aja, kayaknya semacam ada defensive-power yang tubuh kita otomatis keluarkan untuk segala hal yang menimpa kita.

Saya pernah dengar kalau demam itu adalah salah satu ciri tubuh yang sedang melawan benda asing yang masuk ke tubuh, which is bakteri (eh, atau virus ya? Mbuh lupa, pokoknya penyakit -_-). Atau dulu waktu kecil waktu diceng-cengin sama gebetan kita reflek bilang, “Aaaah, enggak kok, enggak suka kook!” nah, hampir mirip-mirip lah. Sebenarnya itu reflek alami saja, alam bawah sadar. Nah, kita enggak bisa menyadari alam bawah sadar kita, dan sialnya, alam bawah sadar mempengaruhi 90% dari tindakan manusia, pernah dengar kan?

Jadi, sebenarnya itu adalah bentuk kompensasi.

When we feel fat, we go diet, we go to gym.

When we feel tired, we sleep. Yes, we compensate everything.

Kita mengkompensasi ketakutan dengan menjadi berani. Kita mengkompensasi rasa rapuh dengan rasa kuat. Kita mengkompensasi rasa manja dengan menjadi mandiri. Kita mengkompensasi rasa bodoh dengan berusaha pintar. Ada juga yang mengkompensasi rasa cinta dengan menjadi benci, eaaa *penggalauan*

Sebenarnya semua adalah bentuk kompensasi. Intinya, saya jadi paham, dibalik segala pembenaran, mungkin ada rasa salah. Jadi, sebaiknya kita berpikir dua kali, untuk hal-hal yang berlawanan dengan apa yang kita sedang lakukan. Mungkin kita menyimpan sekian persen those opposite things.

Kasus lain, sering kan menemukan orang yang dari luar buruk, tapi setelah tau dalemya, duuh, baik dan asyik! Nggak jarang juga, ketemu orang yang dari luar baik, tapi ternyata setelah kenal, wedeeh, ternyata fake book. Capek deh.

Tidak semua yang kita lakukan itu seratus persen seperti yang kita rasakan. Mungkin kita hanya tidak menyadarinya, Dan itu wajar kok. Dan jujur sejujurnya, dari situ kita mungkin bisa belajar lebih rendah hati, sebenarnya.

*ditendang Mario Teguh*

Tapi nggak papa, kan kalo kata orang bijak, manusia itu seperti dua sisi mata uang. Ada baik, ada buruknya. Pintar-pintar saja memenej keduanya. Kalo menurut saya, manusia itu punya empat sisi, nggak cuma dua. Nah self concept itu loh maksudnya.

Jadi, ketika kamu bertemu seseorang lalu akhirnya mau dan mengerti keempat sisi hidupnya, segera nikahi! *ujung-ujungnya… batal macak psikologi.*

Atau mungkin, nikahilah anak komunikasi yang belajar self concept. *lari-lari kecil sambil dadah dadah*

17. Membaca artikel ter-telo: Top 10 Gruesome Fairy Tale Origins

Fairy Tale is a Lie!

Saya kemarin baru saja membaca semua artikel yang OH-MY-LORD banget pokoknya. Intinya artikel itu menulis bahwa seluruh dongeng and-they-live-happily-ever-after yang kita tahu ternyata adalah bohong.

Tahukah kamu bahwa versi asli Si Jubah Merah ternyata Si Jubah Merah ternyata tidak selamat? Versi aslinya, French version karangan Charles Perrault menceritakan bahwa Jubah Merah dan neneknya akhirnya ended up eaten by the wolf. End of the story. Moral dari cerita ternyata adalah jangan pernah kamu menerima advice dari orang asing.

Atau tahukah kamu bahwa Putri Duyung juga nggak berakhir menikah dengan pernikahan megah dihadiri seluruh orang di kerajaan dan penghuni lautan? Versi asli pertama dari Hans Christian Anderson adalah si putri duyung melihat pangeran menikah dengan putri yang manusia itu, nggak cukup sampai di situ, she is going to kill the prince with a knife, tapi alih-alih membunuh si pangeran, ia malah kembali ke lalu mati. Kejam ya, nah, Hans Christian Anderson lalu mengubah ending ini akhirnya supaya lebih readable for kids :(

Yang paling parah adalah The Sleeping Beauty a.k.a Putri Tidur. Percaya atau enggak, ternyata Putri Tidur nggak diceritakan wake up by a kiss :( Alih-alih dicium, sebenarnya si Raja menemukan si putri dalam keadaan tertidur dan enggan hanya sekedar mencium, ia menginginkan lebih, so he RAPED her!! Iya, RAPED, saudara-saudara, MEMPERKOSA.

Parah banget sumpah. Ini Putri Tidur parah banget cerita aslinya :(

Jadi konstruksi manisnya hidup yang selama ini terbentuk di kepala saya berasal dari cerita thriller semi-anarkis begini? Demi apa deh ;((((

Mungkin untuk itulah kita tidak harus mempercayai fairy-tales. As you grow up, you find life is not that easy kali yah.

Tapi Putri Tidur kasian banget :’’’((((

So what’s story should I told to my future kids? -___- Yaudah, kembali sama fabel dan legenda danau toba aja po ya…. Atau cerita Kancil Nyolong Timun. Ya gak papa deh, asal jangan kepaksa saya ceritain Legenda Putri yang Tertukar aja *lah*

18. Last but no least… tentu saja, Fenomena Dunia Menyempit. Sebagai kejadian hidup yang paling sering saya alami:

Fenomena Dunia Menyempit

Saya pertama kali tahu istilah ini sebenarnya dari novel Cintapuccino-nya Icha Rahmanti, dan ternyata istilah ini berasal dari sebuah artikel di Kompas tentang hasil temuan seorang ilmuwan Indonesia bernama Roby Muhammad. Doi menemukan fakta bahwa panjang rata-rata rantai pesan untuk mencapai target adalah antara lima dan tujuh. Itu berarti tiap orang terkoneksi dalam satu jaringan yang sifatnya global dan tidak terikat batas geografis. Secara gampang itu juga bisa diterjemahkan bahwa selang 5 hingga 7 orang dalam (ambil contoh terkecil) satu kota akan saling mengenal.

Intinya, menurut artikel ini, dari misalnya 10 orang yang temui di jalan, kalau diurut-urut pasti mereka memiliki hubungan dengan kita. Adeknya temen, mantan pacar tetangga, saudaranya teman kerja. Pokoknya pasti ada hubungannya. Jadi, kira-kira dari 10 orang di dunia ini, at least 1 orang itu pasti punya hubungan sama kamu.

Dan you know what, saya sangat sering sekali mengalami fenomena ini. Paling gampangnya ya kalau kamu lagi pergi kemana gitu, pasti kamu bakalan ketemu orang yang kamu kenal. Atau kamu bisa tahu seseorang tanpa perlu kenal dia. Atau betapa ternyata temanmu yang ini dulu anunya temenmu yang itu yang ternyata dulu anu sama kamu dan sodaranya itumu. Astagagambreng rasanya dunia sempit bangeeet.

Saking seringnya, saya menyebutnya fenomena dunia SANGAT menyempit. Bahkan karena terlalu sering, hal-hal beginian malah udah nggak jadi fenomena lagi buat saya, saking seringnya, sampe kebal.

Fenomena dunia menyempit sebenarnya akan lebih terasa pada orang-orang yang telah lama berada di sebuah kota. This is funny, karena sebenernya saya baru 5 tahun lebih tinggal di Jogja, which is saya enggak bisa ngebayangin gimana ya bagi orang-orang yang sudah ada di Jogja sejak lahir -___-

Saya agak bete dengan fenomena ini. Ya, Jogja is a very comfy city. Apa-apa murah dan mobilitas gampang nan nyaman. Tapi sebenernya saya kepingin sekali berada di sebuah tempat dan tidak mengenal satu orang pun didalamnya. Entahlah dunia seperti itu ada apa enggak, mengingat fenomena ini semakin lama katanya semakin mengerikan. Ya, pengen aja sih.


***

These are the things. Dari yang agak mutu sampe yang paling nggak mutu. Dari yang penting sampe yang nggak penting. Hey, tapi seringnya, hal-hal kecil nggak penting itulah yang lebih sering bisa saya ambil maknanya. Iya nggak sih? :D Pada akhirnya, waktu yang mengajarkan semuanya. Waktu memberi kita ruang untuk belajar. Waktu, sesingkat apapun itu, adalah bagian dari kita, begitu juga hal-hal kecil yang terjadi di dalam waktu tersebut.

Jadi bagaimana selanjutnya waktu akan bermain dengan saya? Entahlah. Yang saya tahu, tahun depan agaknya akan berat, secara siklus 3 tahunan gitu. Tapi juga nggak tahu juga sih, ndak baik meramal masa depan.

Kadang-kadang secara nggak sadar kita suka sekali bermain dengan waktu. Menunggu waktu yang tepat, menyumpahserapahi waktu yang seakan tidak punya nurani, bertaruh dengan waktu, bersabar karena waktu, sialnya, waktu adalah alasan yang paling tepat untuk berdalih.

2012. Kata orang sih, kiamat akan datang pada tahun ini. Hoft, please jangan kiamat dulu sebelum saya sempet Snorkling dan Diving *nangis darah*

2012. Yang saya tahu, akhir tahun depan udah harus skripsi. *ngilang lagi*

Yang saya tahu, saya bersyukur, masih bisa menulis blog ini. Yang saya tahu, ada berbagai cara untuk bisa merasa dekat dengan Tuhan. Dan yang saya tahu, saya bersyukur karena masih bisa merasakan bahagia dan sedih, in the same time.

Seperti quote bagus dari Margaret Peters, time has wonderful way of showing us what really matters.

Happy-late new year. Selamat tahun baru 2012, semuanya. Selamat Tahun Baru, Yang Maha Menciptakan Waktu :)

040112

Bernafas harap, Menggenggam maaf.

Sunday, October 2, 2011

Diving. Dreaming. Leaping

Tuhan bersama orang-orang yang tidak meng-update blognya selama delapan bulan lebih.

Yeah, time flies, darling.

Ocean!

Semua orang memiliki hal-hal aneh yang kadang mereka ingin wujudkan.
Kalau saya, selain jadi astronot (lupakan, lupakan..) saya selalu ingin menyelam. Maksud saya, menyelam di laut tentu saja. Bukan di kali, apalagi di kolam renang.
Tapi harapan saya luntur perlahan-lahan seiring bertambahnya umur. Dan saya semakin sedih karena tau bahwa menyelam saja butuh lisensi khusus. Harus punya sertifikat. Ya kali sertifikat, renang aja cuma bisa gaya katak -____-
Ya tetap saja ya, nggak tau kenapa, saya selalu terobsesi dengan laut. Hal ini membuat saya selalu bisa duduk anteng di depan tivi nggak peduli dunia tiap channel NGC, NGC Wild, atau Animal Planet menayangkan sesuatu yang berbau-bau laut. Berbau ikan-ikan. Berbau take di dalam laut. Apalagi kalau mereka sudah shoot terumbu-terumbu karang. Mampus saya bisa garuk garuk lantai. And I swear to God, those cameramen are so damn lucky having those experiences. *super iri*
Hal itu juga yang membuat saya sangat suka kartun Finding Nemo. Dan yah, seperti yang saya lakukan pada setiap kartun, apalagi Disney Pixar, I always cry over and over again everytime I watched it. Apalagi adegan Marlin panik waktu Nemo kejebak di jaring nelayan.
I do adore ocean. Saya pernah lagi pusing hidup—yeah, kamu tahu, keadaan sangat pusing sampai kamu nggak tau mau cerita apa dan cuma pengen diam sambil nggak mikirin apapun—dan nggak sengaja muter NGC tentang hiu-hiu martil. Dari jauh kayaknya saya cuma mantengin layar biru karena mostly memang adegannya diambil di bawah laut. Tapi beneran, nonton acara itu sangat menenangkan. Mungkin kayak gitu rasanya meditasi *macak pernah meditasi*.
Pun sebenarnya tempat rekreasi favorit saya itu enggak muluk-muluk. Bukan tempat aneh yang mengeja namanya aja susah, apalagi tempat unik garong nan menantang bahaya yang jarang dikunjungi.

Cukup Sea World. Yes, sea world is like heaven on earth. Bisa bayangin nggak sih, berada di tempat yang isinya cuma ikan-ikan berenang? Isn’t that cool? Dan sedihnya, saya baru pernah sekali ke Sea World. 20 tahun hidup di dunia, saya baru pernah sekali ke Sea World.
Bulan madu ke Sea World, udah cukup bikin saya bahagia. *ceritanya ngomong ke future husband.* Eh tapi, Sea World kan ada banyak di dunia… Sea World mana dulu… huahahaha. *digampar*
Yah, mungkin karena itu juga saya enggak pernah mabuk laut.
Dan yah, mungkin karena itu juga imajinasi saya suka aneh-aneh kalau saya sedang berenang.
Kalau berenang, entah kenapa saya selalu memilih berenang di DSC. Yah selain karena indoor, tapi karena di hari-hari tertentu, DSC itu bisa sepiiii sekali. Feels like i’m the owner of that pool. Anehnya bukannya takut, saya malah senang sekali berenang sendirian. Jika otak sedang liar, saya suka berpikir bagaimana kalau tiba-tiba keluar hiu dari kolam renang. Nampaknya saya akan mati bahagia, because those sharks… They are cute. Just like dino :D
Dan to be honest, dulu waktu sempat beredar gosip UGM mau bikin kolam lumba-lumba, ketika yang lain pada nyinyir, sebenernya dalam hati saya seneng banget! Sayangnya kayaknya itu cuma gosip.
Ups.

A Journey to the Past

Saya selalu senang mendengarkan lagu-lagu lama. Playlist saya adalah lagu-lagu Dian Pramana Poetra, ME, Michael Learns to Rock, atau kalaupun bukan dari artis lama, kebanyakan lagu-lagunya adalah lagu remake.
Jadi, kadang-kadang saya suka melakukan my own journey to the past.
You gotta do this at home, the best “orgasm”-nya adalah ketika kamu sedang membereskan kamarmu sendiri. Feels like this whole world is on my own.
Kalau sedang membereskan kamar, saya bisa menghabiskan waktu hampir seharian. Kebanyakan karena saya keasyikan membuka barang-barang lama. Saya menemukan kertas binder warna-warni koleksi SD, komik balerina buatan sendiri -_- (yang mengingatkan saya betapa saya dulu hobi banget menggambar dan sekarang hobi itu menghilang bagai lenyap ditelan bumi).
Kadang saking selo-nya, saya bablas memperhatikan nilai-nilai rapor saya dari jaman SD, dari kelas 1 SD matematika dapet 10 bulet sampe kelas 1 SMA matematika nggak tuntas -____- degradasi otak. Hidup memang getir.
Saya nggak tahu, apakah saya yang sudah masuk generasi oma-oma atau bagaimana. Tapi kayaknya anak kecil jaman sekarang sibuknya ngalah-ngalahin saya deh.
Jadi inget semester kemarin, dalam rangka bikin tugas iklan, saya dan teman-teman saya sempat kelabakan nyari talent. Since kebetulan produknya Oreo, ya of course talent-nya adalah anak-anak.
Anak-anak jaman sekarang, sibuknyaa. Les pelajaran, les balet, les sempoa, latian basket, latian renang, bahkan sampai kursus aktivasi otak tengah (!!!). Yassalaaam...
Baru ini ada sejarah sekelompok mahasiswa rela nungguin anak kecil les.
Kayaknya jaman dulu saya pulang sekolah kerjaannya nonton Amigos, Cardcaptor Sakura, sama Dolce Maria deh. Abis itu main polisi-polisian sama tetangga. Kalo enggak main PS.
Degradasi kecerdasan... Kayak gini mau aktivasi otak tengah...
Pun saya agak jiper ngeliat adik saya yang kemaren daftar SMP. Yoyo mamen, tesnya, lagi-lagi Yassalam, tes psikologi, tes IQ, tes bahasa inggris, dan tes komputer. Demi kanjeng nabi, pelajaran komputer pertama saya adalah ketika saya menempuh pendidikan sekolah menengah atas a.k.a SMA.
Silahkan ketawa.
Jadi saya agak make sense lah kalo eyang saya yang dulunya kepala sekolah SD nyerah ngajarin cucunya yang masih SD. Boro-boro eyang, aku aja nggak bisa, Yang. Saya sampai merasa berada di tengah-tengah kuis Are You Smarter than a Fifth Grader.
Semua ini lumayan bikin saya bersyukur sudah bukan anak-anak lagi. Sama stresnya kayaknya. Percayalah adik-adik, mumpung masih anak-anak, isilah hari-harimu dengan main dan selo. Hidup selo!
Saya masih ingat masa-masa ketika saya pulang sekolah jajan bakso ojek, penthol, bakso kanji (produknya sama, tapi beda kota, beda istilah -_-), beli mainan boneka-boneka kertas (i called it ‘bongkar pasang’), bangun pagi-pagi demi nonton Minky Momo, Hamtaro, atau Wedding Peach, nggak mau les demi Cardcaptor Sakura ataupun Dulce Maria, dan masih banyak lagi.
Itu adalah masa-masa menyenangkan ketika saya menganggap bahwa mantra Wingardium Leviosa-nya Harry Potter itu benar-benar bisa menerbangkan benda. Jaman ketika adegan ciumannya Derby Romero dan Sherina di Petualangan Sherina jadi topik pembicaraan hangat antara saya dan teman-teman cewek saya. “Uuu, mereka ciuman loooh! Aaa, mau ah nonton lagi!”
Padahal itu kan cumak cium pipi. Krik. Krik. Krik...

Somehow I wonder, masa lalu kadang terasa sangat menyenangkan. Dan membuat kita kepingin sekali kembali ke masa-masa itu.
Sampai saya sadar, someday i will miss my present. Semuanya terlihat baik-baik saja karena kita telah melaluinya kan? Dan someday I will pass this one, dengan membiarkan Tuhan melakukan pekerjaan-Nya.
Iya deh. Urip kuwi mung numpang ngguyu. Saya sering banget mengingat kesetresan jaman dulu, dan lalu akhirnya saya ketawa. Karena, tidak peduli saya pada akhirnya melalui hal itu dengan baik atau buruk, saya sudah melewatinya. It's passed anyway, and i just laugh.
Belajar, ujian dapet A, ngguyu, dapet C, yo ngguyu (karo nangis), tur bar ngulang yo ngguyu meneh. Betapa enak hidup itu sebenarnya.
Cari duit, diabisin lagi, dicari lagi, diabisin lagi. Selain numpang ngguyu, urip kuwi mung numpang ngombe karo pipis, ternyata.

Jadi saya sekarang suka menggetok kepala saya sendiri kalau sedang galau masa depan. *Tidakkah istilah ini sangat hip di kalangan mahasiswa? Khususnya mahasiswa semester tu…ehek..wa. Tua. Galau Futuristik, kalau mau istilah yang lebih keren.

Just be thankful.
Karena masih bisa hidup sampai saat ini, masih bisa mengupload postingan terbaru di blog, tidak punya masalah dengan polisi (ini apa pula -_-), masih bisa berada di sekeliling orang-orang yang dicintai, dan masih punya mimpi untuk menyelam di bawah laut, berenang sama lumba-lumba, atau menyentuh terumbu karang.
Tidak semua yang kita inginkan harus tercapai. Tapi yang saya tahu, selama saya masih punya keinginan, selama itulah saya percaya saya masih hidup.
Di dasar laut, cahaya minim sekali. Ikan-ikan mungkin tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan mereka, cuma genangan air laut yang biru. Tapi setidaknya, mereka menikmatinya. They swim and swim like dancing and that's why they are beautiful.

We cannot design our life. Mengutip dialog di salah satu serial tv kesukaan saya, How I Met Your Mother, ketika Lily berkata ke Ted waktu Ted jatuh bangun meniti karir arsiteknya.

Lily : “You can’t design your life like a building. It doesn’t work that way. You just have to live it, and it will design itself.”
Ted : “So, what….? I should just do nothing?”
Lily : “No, Listen to what the world is telling you to do and take the leap.”

Just... just take the leap.

011011
Dengan enggan mengganti kalimat “mahasiswi tahun kedua” menjadi “mahasiswi tahun ketiga” di profile blog. Ew, it’s creepy.